Money Talks: Think Big, Start Small

Pernah terpikirkah dalam 5, 10 atau 20 tahun lagi, akan seperti apa kondisi kita secara keuangan? Tentunya harapan yang umumnya kondisi keuangan kita jauh lebih baik dari kondisi keuangan saat ini. Tapi, jauh lebih baik itu seperti apa, ya? Dalam merencanakan keuangan yang baik, apa yang kita ingin capai harus terjabarkan dengan baik, mulai dari apa yang ingin dicapai, berapa nilainya dan kapan kita akan mencapainya.  Setelah dijabarkan dengan baik, yang tidak kalah pentingnya adalah proses atau cara mencapai tujuan tersebut.

*gambar dari sini

Mengapa dalam perencanaan keuangan perlu berpikir besar? Coba saja kita hitung dana pensiun. Asumsikan pada saat umur 30 tahun, kita sudah mulai menghitung dana pensiun untuk kebutuhan Rp 10 juta, nilai saat ini. Setelah kita hitung, maka untuk menghidupi masa pensiun dari umur 55 – 85 thn,  kebutuhan dana pensiun kita adalah Rp 16,4 M. Angka yang besar bukan? Tentunya kita tidak habis pikir bagaimana kita bisa mengumpulkan uang sebesar itu dengan gaji sekarang.  Tapi, angka tidak berbohong, angka tersebut suka tidak suka harus kita siapkan kalau kita ingin

Lalu bagaimana memulai dari sesuatu yang kecil untuk mengejar angka yang besar tersebut? Setiap orang memang biasanya terintimidasi dengan nilai yang bombastis, yang saat ini terasa tidak realistis. Tapi, ketika memulai berinvestasi sedikit demi sedikit dan memulainya dengan segera, maka kesempatan untuk mencapai tujuan tersebut akan jauh lebih besar dibandingkan dengan yang tidak melakukan investasi sama sekali.

Yang tidak kalah penting adalah, tidak hanya kemampuan berinvestasi  yang rutin saja, tapi proses berinvestasi juga, termasuk memilih produknya. Konsep dasarnya selalu sama, semakin kita menyegerakan investasi kita mendapatkan dua ‘keuntungan’,  waktu yang lebih lama untuk mencicil, dan produk investasi yang kita gunakan adalah produk yang risikonya relatif lebih tinggi dengan ekspektasi return yang tentunya lebih tinggi.  Kesimpulannya, cicilan investasi kita akan lebih kecil, sehingga ‘beban’ kita untuk menyisihkan tiap bulannya relatif lebih ringan.

Contoh kasus dengan dana pensiun Rp 16,4 M ini, jika kita memulai berinvestasi pada umur 30, maka kebutuhan investasinya adalah Rp 1,9 juta per bulan.  Tapi, ketika kita memulai berinvestasi pada umur 40, maka investasi per bulannya adalah Rp 6,7 juta. Perbedaannya lebih dari 3x. Sangat besar.

Jadi, ketika kita memang punya mimpi besar untuk meningkatkan kondisi keuangan kita, segera memulai dengan menuliskan mimpi itu. Dimulai dengan menentukan timeline untuk setiap tujuan tersebut.  Menjabarkan mimpi tersebut maka cukup dengan membuat tabel sederhana, dimulai dengan tujuan yang jangka waktu pencapaian yang paling dekat hingga jauh, seperti tabel di bawah ini:

Tahun Tujuan
1 Dana Liburan
3 Dana Darurat
5 Dana SMP Anak
8 Dana SMA Anak
10 Dana Aset Aktif (Usaha Catering)
11 Dana S1 Anak

 

Dengan membuat tabel di atas, kita bisa mulai mengisi berapa besar angka yang kita butuhkan untuk terjuan tersebut. Dan selanjutnya pemilihan produk investasi, jumlah investasi yang dibutuhkan, serta menentukan skala prioritas.

Jadi, mumpung sebentar lagi tahun yang baru akan dimulai, yuk kita tulis mimpi secara rinci, sehingga kita tidak menunda-nunda investasi lagi. Silakan mencoba!

*Penulis, Reliza Arfiani (Icha- @relizakodri) adalah Planer di QM Financial. Icha menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia. Kemudian meneruskan S2 di International University of Japan di Niigata, Jepang.


Post Comment