Confession: I am Not A Supermom

Nope. Not even close..

Banyak yang menyebut saya Supermom ketika tahu bahwa saat itu di Semarang saya sendirian mengasuh tiga anak dan mengurus rumah tanpa pembantu. Si Ayah bantu, sih… kalau tidak sedang dinas luar kota. Kalau dinas, yaa… nasib :D.

 
Sekarang di Jakarta anak saya nambah satu lagi daaannn… sudah pakai pembantu pulang hari, tapi entah kenapa saya masih dianggap supermom. Saya rikuh dengan predikat ini. Karena saya bukan supermom, not even close. Malahan saya mamak-mamak pemalas.
Saya nggak bangun lebih pagi untuk menyiap-nyiapkan sesuatu. Perangkat sekolah dan bekal anak-anak mereka siapkan sendiri. Sarapan, pun, sekarang Darris dan Dellynn membuat roti sendiri. Paling punya Devan saja yang masih saya siapkan karena memang belum bisa. Itu, pun, saya sekaligus membuat sarapan Dendra. Saya nggak melayani anak-anak, saya hanya membantu. Jadi apa yang bisa mereka lakukan, ya dilakukan sendiri. Kalau nggak bisa, misalnya terlalu tinggi atau barang berbahaya, baru saya turun tangan membantu.

Saya juga tidak pintar memasak. Saya memasak sebisanya. Walau tetap berpegangan pada kecukupan dan variasi gizi, jadi saya nggak melulu goreng telur atau nugget, tapi tidak banyak macam makanan atau lauk yang bisa saya masak. Hasilnya, sering ada momen anak bosan dengan lauk yang berulang. Tidak, saya tidak membuatkan lauk baru sebelum yang lama habis. Memasak itu repot, lho. Berapa jam hanya untuk menyiapkan bahan-bahannya, belum lagi kalau terganggu anak kecil atau bayi yang dekat-dekat kompor. Jadi pilihannya cuma beli lauk, atau memasak lauk sendiri. Kalau sudah begini, biasanya mereka akan menggoreng telur sendiri (tetap dibatasi dua hari sekali) dan harus menggorengkan Devan kalau ikut kepengen.

Kalau mengikuti kata hati, saya jijik kalau harus menceboki anak pup. Jadi sebelum anak bisa berdiri saya ceboki pakai kapas, begitu berdiri saya semprot toilet spray sampai bersih baru saya basuh dan sabuni. Begitu anak bersiap masuk sekolah -anak saya mulai sekolah sejak TK, bukan playgroup-, mereka harus bisa cebok sendiri. Dan bebaslah saya dari satu hal yang paling malas saya lakukan.

Saya tidak telaten membuat baby food untuk dibawa saat bepergian. Saya menyerah kalau harus bawa kotak bekal beraneka macam, satu isi sup, satu nasi/bubur, satu lauk, plus tempat minum, daann masih harus mencuci semuanya saat pulang. Mentok-mentok saya bikin omelet isi macam-macam yang tinggal dipotong dadu, one bite meal, masuk dalam satu kotak makan kecil. Minumnya bisa ASI atau air putih. Karena itu saat MPASI target saya adalah kemampuan minum dari sedotan, dari gelas, dan makan table meal saat berusia satu tahun. Jadi di usia setahun anak saya sudah makan makanan yang sama dengan yang lain. Iya, saya memang tidak strict menganut no gula-garam saat MPASI. Makanan bayi memang tidak saya beri gula-garam, tapi saya tetap mencobakan minuman dan makanan rumah apa adanya.

Sekarang saya sudah ada pembantu. Mencuci pakaian, setrika, cuci piring, sapu-pel rumah sudah ada yang mengerjakan. Saya tinggal duduk-duduk saja momong anak :D. Kalau soal anak memang saya nggak pernah oper ke pembantu. Paling saat harus pergi sebentar pembantu cuma jaga saja.

Jadi, bukan supermom, kan, saya? Mommies mungkin malah jauh lebih supermom daripada saya :) cuma beda di jumlah anak saja :D.

 


4 Comments - Write a Comment

Post Comment