Renungan Tentang Mama

Siapakah yang namanya paling sering dipanggil ketika kita sedang dalam masalah?

Siapakah yang namanya paling sering dipanggil ketika kita sedang sakit?

Siapakah orang pertama yang bahagia untuk kita? Atas achievement yang kita raih?

Buat saya, semua jawabannya adalah mama.

*gambar dari sini

Saya, anak pertama dari 3 bersaudara yang semuanya perempuan. Saya, anak pertama dari seorang ibu bekerja. Ibu saya sudah menerima satya lencana atas penghargaannya sebagai dosen. Dulu, saya sangat kesal, karena mama saya bekerja, saya lah satu-satunya anak yang tidak ada mamanya waktu saya dipanggil naik ke panggung karena rangking 1 di sekolah. Saya satu-satunya anak yang tidak ada mama yang mengantarkan makan siang ketika saya les. Tapi kemudian saya ingat, saya anak pertama yang punya tas transparan, mama saya membelikan ketika dinas ke Jakarta! Saya juga ingat, ketika saya puasa, mama saya mengajak saya untuk beli boneka Doraemon yang besar!

Saya anak yang rebelious. Ketika SMA, saya sangat jauh dari mama saya. Dia adalah musuh bebuyutan saya. Apapun yang kata mama baik, sudah pasti buruk buat saya! Saya juga ingat, waktu saya SMA kelas 2, saya memutuskan untuk pakai jilbab, mama saya orang pertama yang menentang, katanya saya masih terlalu muda, saya nanti nggak stabil dan buka tutup, saya ngotot, but then again, she’s right..

Titik balik kedekatan saya dengan mama adalah ketika saya hamil. Kehamilan saya sangat mudah, dengan kondisi mental yang sangat tidak mudah, banyak pressure yang saya rasakan, di situlah saya melihat sisi lain mama. Selama ini mama begitu teguh, keras, dan tidak pernah obral sentuhan dan pelukan. Tapi, ketika saya dalam titik terendah, mama saya yang memeluk saya. Saya melahirkan tidak mudah, saya cium kakinya, mohon ampun, anak pertama saya lahir, ditangkap dokter, lalu diberikan pada mama, sampai hari ini, anak saya adalah my mom’s sweet cherry pie.

Setiap ibu adalah pahlawan untuk anaknya. Saya kenal teman saya yang berjuang luar biasa untuk menyusui anaknya di tengah gempuran suami dan mertuanya. Saya kenal teman saya yang mengasuh anak suaminya dari orang lain. Saya kenal teman saya yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendirian. Saya kenal teman saya yang disiksa ketika sedang hamil. Saya kenal teman saya yang dimanjakan, disayang dan dilimpahi materi. Saya kenal teman saya yang suka memukul anaknya untuk mengajarinya behave. Saya kenal, teman saya yang menyediakan masakan rumahan walau dia bekerja dan sulit melakukannya. Ada ibu di luar sana yang sedang menyapu jalanan, membungkusi kue, mengumpulkan kardus, menjahit, memasak, tanpa kenal lelah, bisa jadi ibu itu adalah ibu saya, ibu kalian, atau ibu teman-teman yang lain. Entah mengapa, buat saya semua itu sama, for the sake of their children.

Memandang dunia dari mata seorang ibu, hanya mampu dilakukan oleh seorang ibu. Saya yakin, ada nama anak-anak yang disebut dalam setiap untaian doa, dalam setiap sujud, dalam setiap harap. Tiap mendengar lagu Nikita, “Di doa ibu ku dengar, ada namaku disebut”, hati ini merintih, saat itu juga selalu saya doakan supaya mama sehat dan diberikan rahmat. Untuk yang masih punya ibu, sempatkan untuk menelepon, bilang “Ma, aku sayang mama.. makasih ya ma”, untuk yang sudah ditinggal mama, kirimkan doa indah supaya Tuhan meletakkan ibu di tempat terindah disisi-Nya.

Di  Hari Ibu ini, saya ingin mengucapkan selamat hari ibu untuk semua teman-teman saya, para ibu hebat. Selamat hari ibu, untuk ibu-ibu generasi sebelumnya, sebelumnya, sebelumnya, dan terus ke atas, tanpa perjuangan kalian dunia tak akan sama. Selamat, ibu.. semoga Tuhan memberkati.


2 Comments - Write a Comment

Post Comment