Inside Bumy’s Toiletry Bag

Sejak Bumy baru lahir, saya tidak pernah getol memakaikan toiletries maupun kosmetik bayi secara berlebihan. Penyebabnya karena selama hamil, saya kerap Googling mengenai kandungan bahan kimia yang aman maupun tidak aman bagi bagi. Kesimpulannya, produk toiletries yang natural atau organik kebanyakan merek luar dan harganya mahal, hehe.

Lagipula, masih dari hasil riset selama hamil, kulit bayi yang sensitif tidak perlu “dibombardir” banyak produk. Bahkan saya pernah membaca rekomendasi yang berkata sebaiknya bayi hanya dimandikan sekali saja dalam sehari.

Maka, toiletries Bumy yang terpakai dengan rutin sejak newborn hingga sekarang, selain produk untuk mandi, hanya body cream untuk menghindari iritasi. Bedak bayi pernah dipakai, misalnya saat cuaca panas, sehingga menjaga kulit dari biang keringat. Itupun dipilih yang talc free, dan dipakaikan hanya di area punggung. Minyak telon juga dipakai, tapi seingat saya tidak lama, deh, karena Bumy cenderung mudah berkeringat. Untuk pasta gigi, saat Bumy belum bisa meludah, saya memilih pasta gigi yang aman jika tertelan dan tidak mengandung fluoride.

Satu hal yang saya syukuri, selama ini Bumy tidak menunjukkan reaksi alergi, baik dari pemakaian produk toiletries impor, maupun buatan lokal yang kandungannya “seadanya.” Tapi belakangan ini, terlebih sejak Bumy mulai masuk sekolah, terjadi penambahan jumlah dan jenis produk yang cukup signifikan di toiletry bag Bumy.

1. Sunscreen.

Awalnya saya membeli sunscreen hanya karena kami membuat rencana wisata ke pantai. Saya pikir, wah, kulit anak saya bisa tambah gelap kalau tidak dipakaikan sunscreen.:)) Tapi kini sunscreen dipakaikan dengan rutin setiap Bumy mau berangkat sekolah atau mau jalan pagi di kompleks. Ketika meriset tentang jenis produk yang akan dipilih, saya menemukan bahwa sebaiknya orangtua memilih sunscreen yang “chemical-free” yang mengandung zinc oxide atau titanium dioxide. Berbeda dengan chemical sunscreen, yang bisa mengakibatkan iritasi atau reaksi alergi karena kulit menyerap kandungan bahan kimia yang aktif, zinc oxide dan titanium dioxide tetap berada di lapisan atas kulit sembari membentuk perlindungan terhadap sinar matahari. Sunscreen dengan zinc oxide atau titanium dioxide juga memberi perlindungan segera setelah diaplikasikan, sementara produk chemical harus dibalurkan 15 hingga 30 menit sebelumnya agar diserap kulit terlebih dahulu.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah untuk memilih produk yang “broad-spectrum” yang melindungi dari sinar UVA dan UVB. SPF yang dikandung setidaknya 15, tapi tidak lebih tinggi dari 30.

Saya menemukan produk yang sesuai dengan kriteria tersebut di atas pada sunscreen BabyGanics, yang saya beli di konter Mothercare. Mommies bisa memilih berbagai jenis sunscreen lain di toko obat atau produk bayi lainnya, namun selalu ingat untuk memerhatikan dengan seksama label kandungan atau ingredients.

2. Minyak telon anti nyamuk Konicare.

Sekarang benda ini juga wajib dipakaikan setiap Bumy selesai mandi. Berhubung tempat tinggal kami dan sekolah Bumy dikelilingi kebun di mana banyak pohon dan semak-semak, serbuan nyamuk sudah lazim ditemui setiap pagi dan sore. Minyak ini selain aromanya enak (menurut saya, hihi), perlindungannya pun ampuh.

3. Zwitsal baby hair lotion.

Awalnya produk ini dulu dibelikan oleh ibu saya alias sang Oma, karena beliau senang meminyaki rambut cucunya sehingga harum dan klimis, haha. Tapi sampai sekarang produk ini masih kadang-kadang saya gunakan, karena semakin besar, rambut anak semakin rentan bau acem :D

4. Johnson’s baby cologne.

Lucu deh, sejak Bumy bayi, saya insist kalau bayi tidak perlu memakai wewangian. Karena wangi alami bayi sudah irresistible, bukan, Mommies? Apalagi niat utamanya memang untuk mengurangi pemberian bahan-bahan kimia yang tidak perlu.

Tapii, saat Bumy masuk daycare, rupanya si pengasuh senang memakaikan cologne (untungnya di baju, bukannya di kulit langsung). Dan akibatnya, anak saya yang makin besar makin pesolek itu kini menjadi terbiasa. “Mana parfumnya, Ma?” tagih dia setiap dipakaikan baju sehabis mandi. Bumy memilih sendiri aroma cologne-nya saat kami di supermarket. Hadeh.

5. Minyak tawon.

Saya sudah familiar dengan produk ini sejak kecil, tapi baru akhir-akhir ini saya menjadikannya salah satu must-have item. Saya baru ngeh karena di sekolah Bumy, kalau ada anak yang terjatuh, kakak guru memakaikan minyak tawon di lokasi badan yang terjatuh tadi. Awalnya saya tidak yakin akan khasiatnya, tapi ternyata, ketika Bumy mengalami memar, kira-kira dalam semalam bekasnya hilang setelah dibalurkan minyak tawon. Begitupun saat Bumy mengalami lecet atau luka kecil, lukanya menjadi cepat kering.

Begini penampakan toiletry bag Bumy sekarang. Mohon maklum warnanya pink, karena saat membuatnya, bahan yang tersedia memang cuma itu, hehe.

Kesimpulannya, saat akan memilih produk perawatan tubuh, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Kesesuaian produk dengan usia anak dan sensitivitas kulit anak.

Ingatlah bahwa anak-anak bukan orang dewasa kecil. Anak-anak dapat lebih terekspos pada bahaya kontaminasi dari udara, air, maupun produk perawatan tubuh. Sistem organ yang belum sempurna masih belum dapat menyaring bahaya ataupun kerugian akibat bahan-bahan kimia tertentu.

  • Daftar ingredients yang dicantumkan.

Sebaiknya Mommies melakukan riset kecil sebelum membeli produk tertentu untuk anak. Karena ada beberapa kandungan bahan kimia yang berbahaya bagi anak-anak.

  • Expiry date produk.

Nah, apa ada produk pilihan saya yang sama dengan Mommies? Atau saya malah bisa dapat rekomendasi produk perawatan bayi lainnya? Saya tunggu sharingnya :)

Referensi:

– http://www.babycenter.com

– http://www.ewg.org/skindeep/top-tips-for-safer-products/


4 Comments - Write a Comment

Post Comment