Perubahan Setelah Kehilangan..

Suatu hari teman saya bercerita bahwa hubungan dengan suaminya jadi dingin akibat ia mengalami keguguran berulang. Saya jadi penasaran dan kebetulan di forum live chat dengan Mbak Irma Gustiana, hal ini juga ditanyakan. Ini penjelasan dari Mbak Irma:

Saya banyak juga menemui kasus seperti ini di ruang praktik. Perasaan sedih yang mendalam, karena peristiwa yang kurang menyenangkan di masa lalu seperti kematian, perceraian, perpisahan dan lain sebagainya. Seringkai hal-hal tersebut menjadi trauma, yang membuat seseorang kurang produktif baik dalam pekerjaan ataupun dalam hubungan rumah tangga, sehingga kurang harmonis dan penuh dengan konflik yang tidak terselesaikan.

*gambar dari sini

Ada beberapa hal yang sebenarnya harus direnungkan,

  • Cobalah untuk Ikhlas dan bersabar.

Ikhlas artinya anda benar-benar merelakan kepergian dari anak Anda yang tercinta.Ikhlas juga membuat Anda nyaman secara psikologis, karena selama ini masih banyak hal yang mengganjal dan menyumbat pikiran, sehingga energi  menjadi negatif. Hal itu secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana pasangan berperilaku.

  • Lepaskani beban dari perasaan bersalah.

Hal ini yang membuat Anda tidak bergerak ke mana-kemana. Tetap meratapi kondisi, menyesal yang gak akan habisnya. Yakinlah ini sebuah takdir dan jalan hidup dari Tuhan, di mana Anda sedang diuji kesabaran dan ketaatannya dalam beribadah. Jika terus berkutat pada masalah yang sama, Anda gak akan memiliki energi untuk mengasuh anak Anda yang saat ini bersama Anda. Hargai kehadirannnya, karena ia butuh energi positif dari kedua orangtuanya.

  • Komunikasi efektif dengan pasangan.

Carilah momen dan waktu berdua, di mana Anda bisa dan boleh mengungkapkan kesedihan dan pengharapan Anda untuk kembali membangun rumah tangga yang bahagia. Dengan sikap suami yang kaku, bisa jadi ia sedang menunggu Anda untuk mulai membicarakan situasi ini.

  • Meminta Maaf.

Terkadang agak sulit untuk meminta maaf untuk sesuatu yang tidak kita perbuat, atau seringkali kita merasa berat mengakui telah melakukan kesalahan. Meminta maaf, secara psikologis membuat Anda terbebas dari tekanan atau stress. Jika suami masih belum mau dan belum bisa memaafkan, jangan menyerah dan jangan gengsi untuk terus mencoba. Dengan demikian, ia pun akan melakukan hal yang sama.

  • Cari mediator.

Bila dirasa perlu, carilah keluarga terdekat atau teman yang bisa anda percaya untuk menjadi mediator dari konflik yang saat ini sedang dirasakan. Jika tidak ada, lakukan konseling bersama suami dengan profesional untuk membantu sehingga dari pertemuan-pertemuan konseling yang dilakukan, akan memberikan manfaat psikologis.

Semoga langkah-langkah di atas bisa diterapkan dan Mommies yang mengalami kondisi yang sama bisa segera pulih kondisinya, ya *berpelukan*


Post Comment