(Terkadang) Lelah Menyusui

Menurut counting sticker Lily-Pie di blog saya, Menik has been breastfeed for 2 years, 1 month, 2 weeks, 1 day, and still counting. Yes, still counting. Terus terang, sudah banyak sekali artikel berisi kiat dan saran seputar menyapih anak, dan mencoba untuk menjalani, tapi entah kenapa, rasanya belum ada yang berhasil. Katanya salah satu tanda anak siap disapih adalah frekuensi makan yang meningkat. Iya, Menik memang makan banyak sekali tapi frekuensi nyusu nggak berkurang, tuh. Atau ada yang bilang, kalau anaknya minta susu dialihkan. Iya, bisa dialihin, tapi kalau mau tidur tetap saja harus menyusu. Belum pernah ada cerita, Menik bisa tidur tanpa saya susui. Kalaupun tertidur, paling bertahan 5 menit, kemudian bangun dan bilang “Bu, susu!” Mencoba membisikkan kalimat positif setiap saat soal menyapihpun, sudah! Tapi mungkin, karena saya dasarnya kurang percaya dengan teknik hipnosis, jadi tidak ada hasilnya.

Ternyata kondisi ini, kadang membuat saya merasa terpaksa menyusui Menik. Menurut saya harusnya di usianya yang sudah masuk 2 tahun, Menik sudah tidak akan menyusu dengan frekuensi yang super sering seperti bayi di bawah setahun. Bayangkan:

menyusu saat baru bangun? Checked!

Menyusu setelah sarapan? Checked!

Menyusu sebelum tidur siang? Checked!

Menyusu saat terbangun dari tidur siangnya? Checked!

Menyusu setelah mandi sore? Checked!

Menyusu setelah makan malam? Checked!

Menyusu sebelum tidur? Checked!

Menyusu tengah malam sebanyak 2-3 kali saat terbangun tengah malam? CHECKED!

Tambahan ketika di sela-sela bermain, atau ketika Menik dalam situasi yang menurutnya membosankan, pasti minta susu langsung dari sumbernya. Walau sebetulnya Menik juga tidak akan mencari ASI jika saya sedang tidak di rumah, tapi kalau wujud saya terlihat, pasti langsung terdengar “Bu, susu!!” dari mulut kecilnya.

Sebagai seseorang yang ingin bisa menerapkan metode self weaning dan weaning with love, saya memang tidak mencoba menggunakan cara-cara yang (katanya) bisa membuat anak trauma. Sebagai pengalihan, saya mencoba untuk melatih Menik lepas dari pospaknya terlebih dahulu, kan katanya tidak boleh menyapih dan potty train bersamaan. Nanti anaknya sedih dan kaget. Jadi ceritanya potty train ini untuk mengalihkan perhatian saya perihal menyapih. Tapi tetap saja, kalau Menik minta susu di saat yang menurut saya belum atau tidak seharusnya, saya bete, loh! Bener, deh, saya kesal karena biasanya saya sedang mengerjakan sesuatu dan terganggu karena Menik minta susu. Walau saya biasanya berhasil menyembunyikan rasa kesal, tapi dalam hati, saya tahu saat itu saya tidak ikhlas menyusui. Dan setelahnya saya merasa bersalah.

Belum lagi insiden puting lecet dan sempat terserang Galactocele karena biasanya ketika menyusu tengah malam dalam keadaan setengah sadar, Menik lebih banyak ngempeng. Masuk angin karena piyama terangkat dan lupa ditutup? Wah, sering banget, lah!

Mungkin saya masih kurang banyak membaca dan mencari tahu soal menyapih ini. Mungkin juga saya yang sebetulnya belum ingin menyapih Menik. So, what am I supposed to do? Hmm, rasanya satu-satunya cara adalah memanjangkan rasa sabar, agar kegiatan menyusui ini kembali (tetap) menyenangkan setiap saat. Oh, jangan tanya soal komentar orang “masih menyusui?” atau “memang ASInya masih ada?” atau “Emang sengaja nggak disapih?” Err, save it for yourself, people! Hehehe.

I know, I shouldn’t be worry about something as beautiful as breastfeeding, but I do anyway, especially with this weaning issue. We started our breastfeeding story with not so good drama. That’s why, I hope it will be ended nicely.. :’)

*Gambar dari sini


6 Comments - Write a Comment

  1. Biasanya, Ki, kalau emaknya udah mulai bete, berarti dirimu (kayaknya) sudah siap untuk menyapih. You’re already halfway, kalau menurut gue. Berarti sekarang tinggal Meniknya. Kayaknya sih kurangin aja frekwensi menyusuinya. Buat anak dua tahun jadwal di atas itu emang banyak banget. Saran gue sih kurangi yang siang aja dulu. I was “lucky”, saat nyapih Rory kondisi udah kerja full-time, jadi dia emang udah terbiasa nggak nyusu kalau siang. Gimana cara ngurangin dan gimana cara ngomong ke Menik, I think you know best. Trust her, and trust yourself. You’ll get there.

  2. been there, Ki.
    Dan setuju sama Anggie, kalo udah mulai ada rasa bete atau kesel, gue mikirnya udah nggak ikhlas :(
    Dan kurangi waktu menyusunya, ini penting banget. Berhubung udah 2 tahun lebih, harusnya bisa dialihkan dengan makanan, misalnya, atau kegiatan lain plus udah bisa mengerti omongan kita. Satu lagi, jangan pernah nawarin. Ini penting banget.
    Good luck!

  3. Wah.. Sama banget dengan perasaanmu kala menyapih Tangguh bbrp bulan lalu. Too much theory will kill me. Aku praktekkin smuanya dan didn’t work at all. Akhirnya saya stres karena capek dgn tingkah lakunya yang makin seperti bayi. Sehari aku sampai “kabur” dan dia ngamuk2. Ngerasa bersalah dan tiap malam terus disounding dan diganti aktivitas nenen dgn garuk2 punggung atau nenennya dipegang aja gak boleh disedot, meski minta gak tak kasih, sminggu rewel. Tapi abis itu blasss.. Berhasil tidak nenen lagi di usia 26 bln lebih 2 mnggu. Tp sampe skrg masih kangen nenen, klo tdr tetep minta pegang bentar. Memang benar soal menyapih itu yang harus disapih itu otak ibunya dulu. Gak nyangka abis disapih, toilet trainingnya juga lancar, gak sampe sbulan abis nyapih lgsg lepas diapers. Yang sabar aja ya mbak.. ;)

  4. Wah, sazqueen ayo semangat! You’re not alone..anak saya kayanya frekuensi nenennya lebih banyak, kalo saya asinya udah tinggal dikit tp anak masih pengen nenen terus, kadang kalo memang asinya g ada banget bisa 30menit sekali bangun, jadi berasa ga punya waktu istirahat karena lagi tidur pun tetep aja harus bolak balik ganti nenen, kiri-kanan-kiri-kanan..sekarang saya akalin dioplos pake susu, jadi kalo pertama dia minta enen susu dulu yang saya kasih, kalo dia nolak saya bilang ‘minum dulu abis ini nenen’..akhirnya suatu hari pernah dia lilir malam hari trus saya bilang ‘pasti haus ya?nih minum dulu, pasti haus tadi kan banyak main’ abis minum dia langsung bobo tanpa nenen..masih jarang-jarang siy bisa kaya gitu,tapi tetep usaha jangan nyerah!

Post Comment