Will You Judge Me If…?

Will you judge me if…

I say I’d like to have my “me time” by putting my kid at the daycare sometimes? So I can have the house to myself. Atau agar saya bisa ‘nongkrong’ dan menulis. Atau untuk bertemu teman-teman, nonton konser, dan lainnya?

Saya merasa lega ketika bisa menitipkan anak di rumah orangtua sehingga saya bisa sekedar leyeh-leyeh, atau kadang pacaran dengan suami?

Di rumah, I’d like to keep my kid ‘busy’ jadi saya bisa mencuri-curi waktu menonton serial kriminal favorit, atau ANTM?

Makanan yang saya sajikan seringnya dipilih karena faktor kepraktisan?

Saya mengajak anak ke tempat-tempat yang seringnya menyangkut urusan saya? Karena ia tak bisa saya tinggal di rumah. Kadang, ia terlihat letih ‘menemani’ saya, dan di akhir hari, ia tetap tidak mendapat haknya untuk sekedar bermain?

Jika saya bilang saya sering kesal ketika anak tidak mau duduk tenang di carseat, dan stroller ketika diajak ngemol? Padahal mungkin dia pegal dan bosan terus-menerus diikat dan lebih suka berlarian.

I don’t always childproof my kid’s surroundings? I let him hear adult’s songs when we’re in the car. Kadang saya lupa memakaikan topi, terlebih sunscreen, ketika kami jalan-jalan. Dan saya juga tidak selalu memilih destinasti yang child-friendly.

Atau, jika saya bilang saya memilih melahirkan secara caesar karena takut?

Saya pernah memilih meminta anak dirawat di RS karena panik, dan bukan karena kondisi anak sudah gawat-darurat? (amit-amiiit)

Saya prefer pospak karena merasa itu lebih praktis?

Atau, jika saya bilang kadang saya merasa parenting terasa ribet dan kebanyakan aturan, jadi saya lebih memilih membiarkannya ‘mengalir’?

Semakin banyak saya bertanya (dan mengakui ‘dosa-dosa’), ada kesadaran yang hadir. Bahwa mungkin yang paling sulit bukanlah menghadapi omongan atau judgement orang.

Yang paling sulit adalah mengakui pada diri sendiri bahwa diri ini tidak akan bisa sempurna, dan karenanya berbuat salah.

Sesudahnya, tantangan ‘baru’ sudah menanti, yaitu bagaimana merasa nyaman dengan pilihan yang sudah diambil dan hidup dengan konsekuensinya.

Now, I still don’t know which way is The Best, and which way is The Worst.

But I do know that I can’t always be “my best” version of a mother, or even a person. I can only be me, a human being, with all ups and downs in my life.

*gambar dari sini

Sebanyak apapun seminar yang saya ikuti, literatur parenting yang saya baca, dan jutaan opini yang saya dengar tentang gaya parenting, di akhir hari, MUNGKIN yang terhitung adalah…

seberapa kerasa gelak tawa yang anak dan saya buat ketika kami sedang bersama,

seberapa lega rasa hati ketika akhirnya bisa mengalahkan ‘godaan’ untuk berteriak marah ke anak,

seberapa banyak air mata terkucur ketika saya mengenang hari yang sudah dilalui bersama anak dan menyesali hal-hal yang seharusnya bisa saya perbuat dengan lebih baik,

atau seberapa besar saya berharap akan datang hari esok dan esok dan esoknya lagi, untuk ‘menebus’ apa yang sudah dan tidak lakukan untuknya.

Ya, mungkin itu semua, alih-alih seberapa baik, atau buruk, saya di mata orang lain sebagai orangtua. :)


10 Comments - Write a Comment

  1. last sentences makes me cry like a baby in the office.. iya, emang akhirnya yang paling penting adalah saat bisa ketawa terbahak2 bersama anak dan tau bahwa opini mereka (dan suami) adalah yang paling penting diantara opini2 orang lain di luar sana, apalagi yg suka judging sok tau sama urusan keluarga kita *curcol*..

    bagus bgt tulisannya :)

  2. Makasiih, ibu-ibu!
    Hehe, omongan orang emang gak akan ada habisnya. Sama kayak godaan belanja *eh*
    Tergantung kita aja deh, memilah mana yang bermanfaat buat dijadiin bahan menilai diri sendiri.

    Hai Dumski, sorry for making you cry ;D aku sendiri tadi berkaca-kaca pas baca lagi, jadi inget banyaaakk silapnya dalam mengasuh anak. Yuk, kita virtual hug!

  3. ini artikel nya touchy banget,, makasih.. ga kerasa aer mata ini ngalir..

    sama seperti yg saya rasain.. terkadang rasanya cape.. harus kerja dan ngurus anak,, seolah dunia sudah berubah..
    ga da lagi waktu weekend seperti dulu masih belia.. bisa main dan menghabiskan waktu sesuka hati..

    tapi ga selamanya juga anak anak ini akan selalu begitu..
    kalo anak udah dewasa.. pasti kangen deh direcokin anak-anak.. :)

  4. Kadang saya menjadi sangat emosional, jantung terasa berdetak kencang saat omongan orang terdekat membandingkan anak saya dengan sindiran atau cerita masa lalu ia membesarkan anak..

    Saya memeluk anak saya dan berbisik sayang..
    Jangan dengar apa kata orang,
    Mama melakukan yang terbaik.. sungguh hanya yang terbaik..

    Terimakasih artikelnya…

Post Comment