Ketika Harus Meninggalkan Keluarga

Pengumuman lulus beasiswa itu saya terima ketika anak saya yang bungsu baru berusia 5 bulan dan saya diharapkan berangkat 4 bulan kemudian. Jadi kalau orang-orang lain loncat-loncat ketika mengetahui dirinya dapat beasiswa, saya justru terduduk lemas. Tidak menyangka sudah pasti, karena proses yang saya jalani dipenuhi dengan kata iseng-iseng belaka.

Iseng-iseng kirim aplikasi, karena bosan cuti melahirkan 3 bulan.

Iseng-iseng datang ke tes tertulis, karena kangen dengan es pocong dan suasana Margonda.

Iseng-iseng datang ke tes wawancara, karena sekalian ingin mencoba resto lobster yang baru dibuka.

Iseng.

Dan ketika keputusan harus diambil, saya tidak bisa lagi ber iseng-iseng dengan hidup saya. Semalaman saya berdoa dan saya memasrahkan segalanya ke dalam penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya percaya Tuhan yang membuka jalan, jadi saya percaya juga Ia pasti memberikan petunjuk.

And here I am now, in Chiba..

*gambar dari sini

Sedang berjuang menguasai Bahasa Jepang dalam rangka menyelesaikan riset saya di bidang pendidikan sains.

Kalau boleh saya cerita, berikut adalah hal-hal yang mendorong saya untuk akhirnya melanjutkan pendidikan saya di Jepang:

1. Restu suami

Ketika masih single dulu, saya pernah membaca suatu artikel tentang pendidikan anak. Di situ disebutkan bahwa pendidikan anak kita dimulai ketika kita memilih suami, ayah untuk anak-anak kita nantinya. Dan sekarang saya mengamini setiap kata dalam artikel tersebut. suami saya, laki-laki dari surga kalo kata orang-orang sekitar :), adalah supporter saya nomor satu.

Saya bisa tetap berkarir sambil mengasuh 2 anak, rasanya juga karena campur tangannya. Ketika saya bilang akan mendaftar untuk beasiswa, dia mendukung. Ketika akhirnya saya mendapat beasiswa inipun, dia cuma bilang: apapun yang terbaik untuk kamu dan kita. Kamu yang tahu pro dan kontranya.

Atas dasar itulah saya akhirnya membuat daftar panjang akan sisi positif dan negatif dari keputusan yang akan saya ambil. Saat akhirnya saya memutuskan untuk berangkat, diapun selalu ada di samping saya untuk mendukung. Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan? :)

2. Usia anak-anak yang relatif masih kecil

Anak saya yang sulung baru akan berusia 3 tahun di bulan Januari 2014, belum terikat dengan sekolah resmi. Jadi ketika itu saya berpikir, keputusan untuk pindah akan lebih mudah dibuat karena anak-anak saya belum bersekolah resmi, jadi tidak akan ribet akan urusan surat-menyurat.

Apalagi sistem pendidikan di Jepang sini yang menggratiskan biaya sekolah untuk anak-anak sampai lulus SD membuat saya semakin mantap untuk menyekolahkan anak-anak saya di sini. Selain itu karena masih relatif kecil, rasanya proses ‘perpisahan sementara’ ini tidak akan terlalu mengganggu psikologisnya.

Apalagi kedua orangtua dan mertua saya ada di sana untuk membantu mengurus anak-anak selama saya mempersiapkan kehidupan untuk mereka di sini.

3. Support system yang andal

Saya bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung saya. selain suami, saya punya orangtua dan mertua yang selalu hadir dalam kehidupan saya dan anak-anak. Di saat harus berpisah sementara ini, anak-anak bergantian diasuh oleh keempat eyangnya.

Di samping itu para pengasuh dan asisten rumah tangga saya juga dengan setia membantu mengurus anak-anak. Rasanya tidak akan bisa saya membalas kebaikan mereka semua.

Nah ketiga hal di atas inilah yang akhirnya membuat saya mantap untuk kembali bersekolah. Sambil tentunya mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan anak-anak dan suami bulan depan.

Jadi ibu dua anak dan tetap sekolah? Why not? :)

 


4 Comments - Write a Comment

  1. OMG! Pas banget artikelnya.. tapi kalo gue emang udah berniat mau masukin aplikasi untuk tahun depan. Tapi kemudian galau karena pemerintah Belanda kasih berita bahwa keluarga boleh datang 3 bulan setelah penerimaan.

    TFS, jadi masukan yang sangat berarti. Sukses, ya, sekolahnya.. :)

  2. Wah, sama dengan saya, saya berpisah sementara dengan anak saya waktu dia berusia 8 bulan, dan bukan cuma saya sendiri yang berangkat, karena suami juga berketepatan mendapat beasiswa dan nggak mungkin anak langsung dibawa karena kondisi di tempat tujuan belum siap. Baru setelah semua siap anak kami jemput. Saat itu kami memang tidak terlalu ngotot membawa anak saya meskipun beberapa teman ada yang melilih hal tersebut karena kondisi di tempat tujuan lebih mendukung, child care dan apartemen sudah siap etc. Tapi sayangnya, kondisi tersebut tidak kami peroleh saat itu. Nah yaa… kadang pilihan yang tidak populer menjadi pilihan yang terbaik memang, dan hikmahnya bisa kita ambil setelahnya :)

  3. @sazqueen

    3 bulan ga lama kok :)
    cukup waktu buat nyiapin apato dan printilan sekolah anak.

    ayooo diniatkan daftarnya :)))

    @vitvit

    wah toss mbak!
    aku jg ga berani bawa anak langsung krn kasian kalo terseok2 bareng2 :)
    jd mending kita duluan utk nyiapin semua2nya

  4. baru baca2 sekarang nih.. ternyata udah dua tahun yg lalu.. hihi.. semangat mbak! enak ya kalo lingkungan mendukung.. aku juga pengen banget lanjut kuliah, anakku baru 11 bulan dan belum ada biaya juga.. hehehe.. pengen ikut beasiswa2 gitu, semoga nanti ada jalan.. amin.

Post Comment