“Menyekolahkan” Bayi, Apa Alasannya?

Sejujurnya waktu saya dan suami memutuskan Hanami ikut kelas bayi (6 bulan), kami tidak melihat dari berbagai segi. Entah karena blank saja :p atau belum lihai dalam mencari info sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan sebelum mengambil keputusan. Maklum, baru jadi orangtua :)

Waktu itu saya ingatnya, “Wah seru juga nih, Nami sudah bisa duduk tegak, nanti bisa ikut nyanyi-nyanyi, ketemu bayi-bayi lain, cuma seminggu sekali selama 1 jam, bayarnya juga relatif sangat terjangkau dan lokasinya di rumah kenalan teman baik, jadi aman deh.”

Hanami ikut kelas ini pas usia 6 bulan-1 tahun. Dia kelihatan senang (walau tentunya dia nggak bilang begitu karena belum bisa bicara :p) dan aktif mengikuti kegiatannya. Tapi tentunya ada saja hari-hari yang dia nggak mood atau nangis karena minta disusui di tengah kegiatan “sekolah”. Di kelas ini, rasio bayi dengan pendamping adalah 1:1.

Waktu itu kondisinya saya adalah ibu bekerja. Setiap minggu di hari Hanami ikut kelas ini, saya izin untuk bekerja jarak jauh. Maksudnya tidak ke kantor tapi tetap “on call”.  Alhamdulillah tempat kerja saya mensupport ini. Jadi saya bisa mendampingi Hanami. Walau kalau kerjaan lagi hectic banget saya terpaksa absen tidak mendampingi dan Hanami ikut kelas ini dengan baby sitter-nya saja.

Saya perhatikan, anak-anak lain yang ikut kelas ini (total 10 bayi), ada yang didampingi oleh ibunya, nanny-nya atau neneknya. Seru juga berinteraksi dengan mereka, karena sebagai ibu baru yang juga bekerja, saya nggak punya banyak keleluasaan waktu untuk berinteraksi dengan ortu lain. Apalagi saya dan suami tinggal sendiri, tidak bersama keluarga besar, jadi kami belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana mengasuh bayi. Informasi banyak kami dapat dari milis dan online, tapi ternyata menyaksikan langsung, jadi pengalaman tersendiri.

Kesempatan untuk ketemu bayi-bayi lain, bukan untuk membandingkan anak saya dengan anak lain (ya, walau kadang tetep sih :p), tapi juga jadi bisa melihat bahwa tiap anak, walau usianya sama, tapi perkembangannya bisa beda banget.

Saat saya dan suami bekerja, Hanami berdua saja dengan baby sitter di rumah. Kami sudah menyiapkan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan mereka berdua. Dengan ikut kelas ini, jadi ada ide-ide yang bisa diterapkan di rumah.

O ya, dari kelompok ini juga saya banyak belajar tentang ASI dan MPASI, karena para bayi sedang berada di usia yang sama dan kelompok ortu-bayi di kelas ini juga pro-ASI. Sebagai ibu bekerja, saya juga melihat bagaimana bayi lain yang tidak didampingi ibunya karena bekerja sedang diberi ASIP oleh pengasuhnya, dan dari situ saya dapat validasi, wah pinter ya bayi-bayi ini minum ASI-nya. Menambah percaya diri saya juga.

Kelas yang Hanami ikuti ini berbahasa Inggris, hal ini yang pada saat memutuskan tidak kami pertimbangkan masak-masak. Sebenarnya kami ingin Hanami ikut kelas yang berbahasa Indonesia. Tapi kami sadarnya belakangan :p Karena di usia dia yang baru 6 bulan saat itu, juga tidak ada yang mengajaknya bicara berbahasa Inggris di rumah. Jadi, kami kurang konsisten gitu, ya. Hanami baru lancar berbicara pada usia 2 tahun. Saya tidak tahu pasti apakah ada korelasi antara Hanami ikut kelas berbahasa Inggris dan kelancaran bicaranya. Karena belum tentu berhubungan langsung juga, sih.

Adakah Mommies yang sedang mempertimbangkan anaknya yang berusia 0-2 tahun untuk ikut kelas atau “sekolah”? Berikut ini beberapa poin dari website parenting 24hourparenting.com yang bisa jadi pertimbangan: http://bit.ly/bayisklh. Isinya adalah beberapa pertanyaan yang bisa Mommies jawab sendiri dan mungkin membantu Mommies dan suami untuk mengambil keputusan.

Yulia Indriati adalah content manager di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.

 


Post Comment