Pneumonia, Forgotten Killer in Children

Percaya nggak, kalau kematian yang disebabkan pneumonia pada anak itu bisa dialami setiap hari? Bahkan setiap harinya terjadi pada 416 orang anak. Jadi, kira-kira, setiap 4 menit sekali, ada satu anak yang meninggal lantaran penyakit ini. Duh, sangat menyedihkan, yah?

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 juga menunjukkan kalau angka kematian pada bayi akibat pneumonia sebear 23,8%, sedangkan pada balita 15,5%.  Nggak beda jauh dari hasil Riskesdas, fakta dari World Health Organization (WHO) tahun 2013 juga menunjukkan kondisi yang sama, di mana  pneumonia atau radang paru akut dinyatakan jadi penyebab kematian terhadap sekitar 1,2 juta anak setiap tahunnya.

Walaupun angka kematian yang disebabkan pneumonia masih sangat tinggi,  tapi secara global perhatian masyarakat, termasuk dari pemerintah ataupun tenaga kesehatan terhadap pneumonia memang masih sangat kurang. Bahkan, WHO punya julukan lain untuk penyakit yang satu ini, ‘forgotten killer in children’.

Kondisi ini dipaparkan Prof. Dr. dr. Bambang Supriyatno, SpA (K), saat bicang-bicang dengan media di acara “Kenali dan Lawan Pneumonia” yang dilangsungkan dalam rangka World Pneumonia Day yang diperingati setiap 12 November setiap tahunnya. Harapannya, lewat acara seperti ini masyarakat bisa lebih aware lagi terhadap penyakit pneumonia.

“Di Indonesia penyakit pneumonia dan diare dinyatakan sebagai penyebab kematian utama pada anak-anak balita. Tapi, untuk diare, banyak orang tua yang sudah semakin pintar bagaimana cara mengatasinya. Sedangkan kalau pneumonia, banyak orang tua yang datang terlambat untuk menanganinya,” ungkap dari Profesor dari UKK Respirologi IDAI, Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) FKUI-RSCM Jakarta.

foto dari sini

Padahal, menurut Prof. Dr. dr. Bambang Supriyatno, SpA (K), jika orangtua lebih sadar dan memiliki pengetahuan akan bahaya pneumonia, tentu akan banyak balita yang bisa diselamatkan. Memang, sih, Prof. Dr. dr. Bambang mengakui kalau gejala pneumonia hampir serupa dengan kondisi batuk biasa. Jadi, nggak heran kalau akhirnya banyak orangtua yang seakan-akan menggampangkannya. Kalaupun datang ke dokter, kondisi penyakitnya sudah sangat memprihatinkan.

Ternyata berbeda dengan batuk biasa, pneumonia merupakan penyakit respiratorik yang ditandai dengan batuk, sesak, napas cepat dan demam.

Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita, Msc.,Sp.A (K).,PhD, dari UKK Respirologi IDAI, Departemen Ilmu Kesehatan Anak  FK-UNPAD menambahkan, kalau orangtua sudah melihat anaknya batuk-batuk yang disertai dengan napas cepat, harus hati-hati karena itu bisa gejala pneumonia. Saat bernapas, anak yang terkena pnemonia juga akan mengalami tarikan dinding dada ke dalam.

Untuk itu, Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita yang praktik di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung ini menyarankan agar setiap orangtua bisa mengenali dan paham bagaimana cara menghitung napas cepat pada anak.  Pemeriksaan ini bisa dilakukan saat anak dalam kondisi yang rileks.

Katanya, pada bayi berusia kurang dari dua bulan kondisi ini yaitu saat frekuensinya mencapai 60 kali per menit. Sementara itu, bagi bayi berusia 2-12 bulan frekuensinya 50 kali per menit. Dan untuk balita berusia 1-5 tahun frekuensinya 40 kali per menit.

Berhubung Bumi termasuk anak yang sering terkena batuk dan ada keturunan asma dari saya, waktu itu pun saya bertanya pada Prof. dr. Cissy apakah gejala batuk pneumonia bisa dibedakan dengan batuk asma? “Sebenarnya memang mirip, namun batuk pneumonia ini tidak disertai dengan tarikan napas yang berbunyi. Namun, jika sudah batuk-batuk dengan tanda-tanda napas yang cepat, apalagi disertai dengan deman, sebaiknya bayi atau balita segera diberi pengobatan kerena itu bisa gejala dari  pneumonia.”

Lebih lanjut, Prof. Bambang Supriatno menjelaskan dalam kebanyakan kasus, penyebab utama pneumonia pada balita adalah disebabkan oleh bakteri. Yang paling sering ditemukan adalah bakteri Streptococcus pneumonia, bakteri lain yang menjadi penyebab kedua yang juga  sering ditemukan adalah bakteri Haemophilus influenza type b atau Hib. Sedangkan penyebab lainnya yang tidak terlalu sering ditemukan adalah berasal dari virus, jamur ataupun parasit.

Bagaimana cara penularannya?

“Pneumonia dapat ditularkan melalui beberapa cara, kuman yang secara normal memang biasa ditemukan pada hidung dan tenggorokan dapat mempengaruhi paru-paru jika kuman itu tersedot, penularan juga bisa terjadi melalui udara lewat percikan ludah pada saat kita bersin, ataupun batuk.”

Untuk mencegah terjadinya pneumonia, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Yang paling utama, para ibu diusahakan untuk memberikan ASI ekslusif untuk meningkatkan antibodi anak, dan memastikan bahwa anak cukup mendapat gizi sesuai dengan kebutuhannya. Harapannya, jika gizi dan nutrisi tercukupi makan perkembangan sistem kekebalan tubuh bisa terjaga dengan baik.

Selain itu, ada cara sederhana  yang sering kali dilupakan, yaitu membiasakan untuk menutup mulut ataumemakai masker saat sedang batuk. Ditambah dengan selalu menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan menggunakan sabun untuk menghindari kemungkinan penyebaran kuman.

Oh, ya, kondisi rumah yang terlau padat serta adanya polusi udara yang disebabkan oleh asap rokok juga merupakan faktor risiko lain yang harus dihindari. Dan yang nggak kalah penting, jangan lupa untuk memberikan vaksinasi guna pencegahan terjadinya pneumonia.

 


4 Comments - Write a Comment

  1. sekedar share, radang paru ini kadang tidak di sertai batuk. si dedek hanya demam saja. demamnya tinggi, sekitar 39-30 derajat celcius, berhari-hari. karena TIDAK BATUK, TIDAK ADA RIAK, 2 dokter spesialis anak bahkan tidak curiga dedek radang paru. akhirnya karena demam tidak turun walaupun sudah ngamar 2 hari, dan infus antibiotik, dokter minta foto thorax, dari foto inilah baru di ketahui adik radang paru. untunglah akhirnya ketahuan, karena kadar crp dedek sangat tinggi, lebih dari 200, padahal yang normal skalanya kurang dari 6. dedek ngamar sekitar 9 hari, karena crpnya yang sangat tinggi tersebut.

Post Comment