I Support You

Last August, thru’ the World Breastfeeding Week, “I SUPPORT YOU” campaign was launched. It was all about supporting mothers and their feeding choice. It was covered all over the news with pictures of moms sharing their support. And I felt the necessity to spread such important message since I don’t think it has reached our community yet. But what actually pushed me to write this article was because my dear Cousin has just recently celebrated her milestone “LULUS ASIX 6bulan”.

Sepupu saya adalah ibu E-ping (exclusive pumping) yang dikarenakan masalah latch on, flat nipple, dan bingung puting sehingga tidak bisa menyusui langsung.

Sebagai ibu yang menyusui langsung, saya nggak bisa bayangin menjadi ibu E-ping…

Waktu Clay nursing strike, saya pumping selama 3 hari karena Clay gak mau menyusui langsung. Yang ada malah tiap hasil pompaan makin turun tapi payudara bengkak dan sakit karena ASI-nya gak mau keluar, saya makin stres, ASI makin berkurang. Saya juga gak bisa membayangkan gimana harus mompa tiap 2-3 jam apalagi harus mompa tengah malam dan subuh. Belum lagi harus bangun malam-malam manasin ASI. Sedangkan kalo menyusui langsung saya tinggal buka kancing (malah sekarang Clay udah bisa self-service alias buka baju mommy-nya sendiri… hihihihi) dan saya lanjut bobok. Ditambah perkara harus bawa printilan pompa, botol, ice pack, etc. Sepupu saya pernah ngomong, “Kalo dulu ketinggalan hp bisa kalang kabut, sekarang mah gak apa-apa ketinggalah hp, ketinggalan dompet pun gak masalah. Yang penting jangan ketinggalan pompa!!”. Ditambah lagi, ibu E-ping pun gak luput dengan segala komentar miring yang sering diterima oleh ibu lain yang meragukan ASI-nya, mulai dari ASI dingin, basi, gak cukup, gak ada bergizi, sampe early weaning.

So, I was really shocked to find out that E-ping mom took a lot of bashing because they pump and do not nurse their baby. Kalau dilihat dari curhatan  di thread E-ping rata-rata banyak yang memandang remeh mereka “tidak menjadi ibu sesungguhnya”, gak ada bonding sama anak, ASI cepet kering lah. Malah pernah ada yang bilang ke saya kalo mompa itu bikin kanker. OH MY!! Padahal perjuangan ibu-ibu ini sungguh membanggakan. Kalau saya kayaknya udah ciut niat ASI kalau sampai harus E-ping. Actually they are an inspiration for a breastfeeding mom like me karena kalo mereka aja bisa masak saya gak bisa ASI ekslusif. Mereka ada sebuah testimoni bahwa kalau ada niat ASI (baca: ngotot), pasti bisa ASI.  So, ibu-ibu E-ping I Support you.

And then, there are those moms who have to supplement with formula. Ada ibu-ibu yang harus ngasih formula karena kondisi kesehatan si anak seperti gagal tumbuh atau breastmilk jaundice serta gangguan kesehatan si ibu. Ada juga yang dikarenakan menjadi korban dari “ASI NAZI” yang pushy and judgmental lalu mempertanyakan kemampuan si ibu untuk memberi ASI. Ada yang menjadi victim penjual sufor berkedok tenaga kerja medis. Sebagian besar karena tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat untuk memberikan ASI. Yang lain karena kemakan mitos tentang ASI atau belum melek ASI. Dan ada juga beerapa ibu yang nggak peduli sebanyak apa daun katuk dimakan, pahitnya jus pare ditenggak, mahalnya ASI booster dipake, dan berapa lama power pumping tetep aja ASInya gak mencukupi. Whatever your reason is….I surely know that if you were given the opportunity to be able to produce enough milk for your child you will definitely feed exclusive breast milk. But in the meantime, Baby needs come first!

Gak sedikit cerita ibu-ibu yang gak sanggup melihat di saat anaknya harus dikasih sufor, ada yang merasa di-judge, ada yang merasa terintimidasi oleh ibu-ibu ASI, malah banyak yang merasa gagal menjadi ibu.  If I were in your shoes, I know it will take a lot of Mama-Wisdom (not to mention tears) for me to finally come to decision to feed my baby formula if it necessary. So, this is coming from first time mom yang baru saja lulus ASI eksklusif, I Support you (and I don’t judge you).

And finally, there are US, the breastfeeding moms. See world, we are still here despite all the marketing bombardment, old aunties tale, and all the effort to tell us that breast is best (no more). Dalam 1 tahun saya menyusui Clay, saya sudah cukup melewati banyak petualangan. Mulai dari ASI gak keluar, sampe banjir. Mulai dari plugged duct, engorgement, overactive let down, baby refluks, nursing strike, sampai yang terakhir baru ketahuan di usia 11 bulan kalau ternyata Clay tongue tie (gak heran waktu pertama menyusu rasanya cetar membahana sakitnya). Yet, we are still going strong!

Dulunya saya beranggapan setelah saya bisa membuktikan sukses menyusui Clayton sampe 6 bulan pertama, pasti setelah itu tidak ada lagi yang akan mengeluarkan omongan miring. Darn, I was SO WRONG. Dan mostly yang protes bukan karena ASI secara Clayton yang gembul, aktif, bawel dan jarang sakit sudah menjadi bukti kalo gak ada yang salah dengan ASI saya.. tapi protesnya karena saya masih menyusui! Dari sejak lahir saya sudah dipaksa agar “ngajarin” Clayton minum dari dot yang akhirnya berujung pada nursing strike. Banyak yang bilang ke saya mitos macam-macam mulai dari payudara kendor, jadi manja dan lagi-lagi ada yang menakuti saya kalau kelamaan menyusui nanti kena kanker! Bahkan ada tenaga medis yang menyentil kalau menyusui bisa menyebabkan Autis. That is just ABSURD. Kalo saja saya gak melek ASI pasti nyali saya sudah ciut apalagi yang ngomong punya ilmu kedokteran sedangkan saya cuma ibu rumah tangga. Ditambah lagi sekarang Clayton sudah berumur 1 tahun sehingga protes nambah banyak because I am now breastfeeding a TODDLER. Mulai dari tatapan miring, heran sampai dimalu-maluin udah biasa diterima. Tapi kembali saya selalu berkaca pada pengalaman sesama ibu. Daripada mikir omongan miring, saya malah merasa sangat bersyukur karena bisa menyusui Clayton sampai saat ini dia berusia 14 bulan. Saya tahu banyak ibu yang berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk menyusui anaknya, dan banyak juga anak-anak yang tidak pernah mendapatkan ASI sama sekali. So I know I am one Lucky Mom. And yes, my Mama-wisdom tells me that BREAST IS (still) BEST. For fellow breastfeeding mom out there, I SUPPORT YOU!

Whatever your feeding choice is, I support you.

Let’s show your support moms!

*gambar dari sini


2 Comments - Write a Comment

  1. Gue juga masih menyusui Rasya, 21 bulan. meski sudah nambah susu formula (karena produksi ASI nggak sebanyak dulu & anaknya juga mau), tetep optimis bisa sampai 24 bulan. masih belum tau bagaimana memulai menyapihnya, karena dia sekarang galak banget kalau minta nenen, nggak dikasih bakal mewek guling2 :p
    Selama kita sebagai ibu masih bisa memberikan ASI, artinya anak harus mendapatkan haknya, ASI sampai 2 tahun :)

Post Comment