Bila Ibu Menulis Buku Anak dan Remaja

Berangkat dari keinginan untuk memberikan tempat, kesempatan dan jaringan kepada calon-calon penulis baru yang potensial, Plotpoint menyelenggarakan workshop berbagai macam penulisan seperti fiksi, non fiksi, skenario, dan lain-lain. Salah satu workshop yang sudah menelurkan bibit-bibit baru adalah workshop penulisan fiksi. Contoh silabus dari workshop ini di antaranya: ide, setting, karakter, plot, sudut pandang, dialog dan adegan, prolog dan epilog, memilih adegan, diksi dan deskripsi, plus editing.

Pada bulan Juli lalu di Grand Indonesia West Mall, PlotPoint mengadakan launching Clara Ng Book Project “Regenerasi Penulis Indonesia” yang diinisiasi sejak tahun 2010. Pesan utama workshop ini adalah “Jangan menulis novel sebelum membaca novel.” :D

Ada tiga buku yang berhasil diterbitkan dari tiga tim yang sukses menindaklanjuti hasil dari workshop, yaitu Hujan dan Pelangi, 3 Burung Kecil, dan Sketsa Terakhir. Sebetulnya peserta workshop tidak hanya personel dari tiga tim ini, tapi yang tekun dan sukses meneruskan tulisan sampai jadi novel hanya mereka.

Dari workshop yang pertama, peserta diminta membuat tim dan menyerahkan draft I. Draft ini kemudian diseleksi dan didiskusikan lagi antara peserta dan Clara Ng sebagai pengajar, untuk bisa memenuhi syarat dikembangkan sebagai novel. Kebanyakan draft awal dari para peserta ini dianggap kurang dalam dan kurang luas konfliknya jika dijadikan novel. Peserta kemudian diberi waktu 10 minggu, dengan empat minggu untuk editing awal.

Banyak yang bisa dibagi saat momen penulisan dan mengejar deadline. Ada satu penulis yang ketika mengikuti workshop sampai bukunya terbit, itu dalam keadaan hamil sampai melahirkan dan harus mengurus anak. Kebayang, kan, repotnya? Tapi peserta seperti ini justru yang diharapkan PlotPoint. Karena misi PlotPoint yang fokus pada bacaan yang mendidik untuk anak dan remaja, alangkah lebih berisinya buku tersebut bila penulisnya seorang ibu, yang dalam kesehariannya dekat dengan anak-anak :)

*gambar dari sini

Tadinya agak ragu, ya, apa bisa ibu-ibu (ya, walau masih muda juga, sih) menulis cerita dalam perspektif anak atau remaja. Kan, masanya sudah jauh dilewati. Beberapa detil yang di masa remaja mungkin lebih emosional, 10 tahun kemudian bisa jadi sudah jauh lebih lempeng. Padahal novel harus hidup konfliknya, galau-nya. Tapi ternyata setelah jadi buku, keraguan itu tidak terbukti. Ceritanya tetap seru, galaunya dapet, konfliknya juga khas remaja.

Nah, Mommies ada yang tertarik juga mengikuti workshop seperti ini? PlotPoint kabarnya akan menambah workshopnya dengan ‘jurusan’ story telling juga, lho.
Kalau Mommmies sudah punya naskah sendiri dan ingin menerbitkannya, bisa juga dikonsultasikan ke PlotPoint terlebih dahulu.

Informasi lebih lanjut tentang workshop yang sedang berjalan dan keterangan lain bisa ditanyakan ke @_plotpoint, ya.

 


Post Comment