Mau Hemat? Beralih ke Lampu LED, Yuk!

Namanya juga ibu-ibu, setiap membeli barang pasti maunya yang awet, ya. Jadi, meskipun harganya lebih mahal, nggak masalah asalkan umurnya bisa bertahan jauh lebih lama dan jadi ivestasi.

Makanya, saya setuju banget dengan artikel ini, ataupun artikel frugal living and money. Intinya, setiap hari kalau bisa, sih, kita melakukan sesuatu dengan cermat, khususnya, ya, dalam hal pengeluaran bulananan.

Mungkin salah satu contoh yang bisa dilakukan dalam hal pemilihan lampu. Dari sekian banyaknya pilihan lampu, saat ini saya sudah jatuh cinta pada lampu jenis LED. Alasannya? Banyak banget, deh, keunggulannya! Saya memang mulai melirik jenis lampu ini setelah mengikuti rangkaian acara Kota Terang Hemat Energi Bersama Philips LED di Bali beberapa waktu lalu. Mungkin, waktu itu Mommies ada yang melihat konsernya di salah satu stasiun swasata karena memang konser tersebut bagian acara puncak yang disiarkan secara langsung.

Dibandingkan lampu konvensional ataupun jenis lampu yang lainnya, lampu LED ini diklaim lebih ramah lingkungan dan hemat energi karena perbedaan pada caranya menghasilkan cahaya. Bahkan kalau dibandingkan dengan lampu konvensional, teknologi LED ini mampu menghemat energi hingga 85 persen.

Waktu itu, Ryan Tirta Yudhistira, Head of Marketing Lighting PT Philips Indonesia juga menjelaskan kalau lampu LED ini lebih ramah lingkungan bila dibandingkan dengan lampu konvensional karena jika kaca pada lampu konvensional pecah, dapat mengeluarkan gas merkuri yang dapat berbahaya bagi pernapasan. Sedangkan untuk lampu LED tidak mengandung gas. Selain itu, materialnya lampu LED juga bisa didaur ulang, lho!

Mengingat efek cahaya lampu LED yang sangat nyaman di mata dan tidak memancarkan radiasi UV, lampu jenis ini pun sangat cocok untuk teman setia saat membaca. Hal ini dikerenakan sifat semi-konduktor, dan sistem chip, lensa, dan driver  sehingga membuat lampu LED memproduksi cahaya yang nyaman di mata.

Keunggulan lampu ini nggak cuma itu saja, soalnya umur lampu LED Philips bisa bertahan sampai dengan 15 tahun. Jadi, bisa kebayang, dong, ya, kalau di rumah kita menggunakan jenis lampu LED seperti ini, kita bisa lebih bisa menghemat daya ataupun biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya.

Nggak aneh rasanya, jika saat ini banyak fasilitas umum yang menggunakan lampu LED. Kalau sebelumnya lampu Philips LED sudah digunakan untuk beberapa ikon kota di Tanah Air seperti Tugu Monas, Tugu Pahlawan Surabaya, dan Jembatan Ampera Palembang, yang paling anyar, lampu LED ini pun sudah digunakan untuk patung Satria Gatot Kaca dan Dewa Ruci di kawasan Simpang Siur, Kabupaten Badung, Bali. Bahkan, disepanjang jalan by pass Ngurah Rai, jalan tol Nusa Dua-Tanjung Benoa pencahayaannya menggunakan lampu Philips LED.

Saya dan beberapa teman media waktu itu berkesempatan menikmati jalan tol dalam keadaan sunyi senyap. Ya, maklum, deh, waktu ke sana, jalan tol Nusa Dua-Tanjung Benoa memang belum digunakan, bahkan belum diresmikan oleh Presiden SBY.

Selain itu, kami juga sempat menikmati keindahan pencahayaan di patung Satria Gatot Kaca. Setelah menggunakan menggunakan beberapa jenis lampu Philips LED seperti model Tango, Vaya Flood, iW Reach Compact dan  LED underwater, area Satria Gatot Kaca memang semakin banyak dikunjungi masyarakat Bali. Soalnya, suasana di sana jadi makin hidup dan indah dengan pencahayaan yang berwana warni dari lampu lampu Philips LED. Usaha yang dilakukan Philips untuk mengajak masyarakat hemat energi khususnya di wilayah Bali juga dilakukan dengan cara memberikan donasi untuk Desa Banjaran.

Kalau sekarang ini Philips sudah berusaha untuk memasyarakatkan dan mengenalkan  betapa hematnya menggunakan lampu LED ketimbang lampu konvensional, bagaimana dengan Mommies? Apa saja, sih, usaha Mommies dalam rangka hemat energi di rumah? Share di sini, dong!


Post Comment