Pilih Menggambar Atau Mewarnai?

Najwa, anak saya, 3 tahun 1 bulan, suka sekali menggambar. Tapi, tidak suka mewarnai. Jadi, postingan ini berawal dari kegalauan saya sebagai emaknya, gara-gara hal itu tadi.

Ceritanya, kemarin saat mengantar Najwa sekolah dan sekaligus ketemu dengan guru Kelompok Bermainnya, Bu Guru ini bercerita bahwa Najwa nggak mau mewarnai sama sekali. Iya sih, saya tahu dia tidak suka mewarnai. Ayahnya pernah repot-repot mengunduh dan mencetak berbagai coloring page, tapi Najwa tidak begitu tertarik. Cuma yang bikin galau adalah kali ini dia sama sekali tidak mau mewarnai. Saya lihat buku aktivitas mewarnainya di Kelompok Bermain, kosong blong bin bersih, gak ada coretan sama sekali, padahal punya teman-temannya sudah penuh coretan warna.

Saya pikir, tadinya dia ngadat karena tidak cocok dengan krayon yang dipakai di Kelompok Bermain. KB-nya pakai krayon minyak (oil crayon) yang membekas di tangan. Mungkin karena itu dia tidak mau. Kemudian saya ganti dengan krayon lilin (apalah namanya ya, pokoknya itulah), krayon yang licin, tapi tidak membekas di tangan.

Naik kapal selam, sambil melihat-lihat dari jendela

Tapi ternyata, setelah diganti, tetap tidak mau juga. Mulailah emaknya ini galau beliau. Akhirnya bercurhatlah saya ke adik yang kebetulan sekarang sedang pendidikan profesi psikologi. Lumayan konseling gratisan, hahaha. :D

Setelah sesi curhatan tumpah ruah dengan adik dan ayahnya, plus membaca browsang-browsing sampai akhirnya nemu artikel di sini, akhirnya secercah sinar terang (halah :D) pun menyinari kegalauan saya.

Dad with his bike and his hat

Anak umur 3-5 tahun (ya, seumuran Najwa) memang sedang tumbuh ketertarikannya pada kegiatan menggambar dan mewarnai. Karena dua kegiatan itu memberikan kesempatan pada otak anak untuk berimajinasi dan mewujudkan imajinasi itu dalam bentuk gambar/lukisan. Menggambar dan mewarnai merupakan proses kreatif, memberikan wadah bagi anak-anak untuk menuangkan ide-idenya dalam suatu karya.

Dari sisi kreativitas, menggambar memberikan kesempatan untuk berekspresi yang lebih luas daripada mewarnai, karena anak dibiarkan berkreasi sebebas-bebasnya di atas kertas kosong. Mewarnai, walaupun memberikan stimulasi kreativitas juga, namun memiliki keterbatasan pada pola-pola dan garis-garis yang harus diikuti anak.

Dalam cerita Najwa, saya melihat itulah benang merahnya. Dari kecil, Najwa yang suka menggambar memang lebih banyak diajak berkegiatan menggambar. Saya selalu menyediakan setumpuk kertas bekas (dibawa dari kantor) untuk media Najwa mencorat-coret. Seringkali kami melakukannya bersama, saya menggambar sambil bercerita, Najwa memperhatikan dan berkomentar ini-itu. Kebiasaan ini rupanya melekat juga pada Najwa, karena dia punya kebiasaan menggambar sambil bercerita. Nah, saya jarang mewarnai hasil gambar saya. Hanya gambar-gambar sambil cerita begitu, kalau kertas sudah penuh, kami ganti dengan kertas lain.

Mungkin karena terbiasa menggambar, di kertas kosong yang tidak ada batasan-batasan atau aturan-aturan, Najwa jadi enjoy dengan kegiatan menggambar. Ketika disuruh mewarnai, yang mana juga jarang dilakukannya di rumah, dia jadi tidak tertarik. Bisa jadi karena batasan-batasan itu tadi.

Najwa dan Pocoyo memberi makan burung, burungnya bertengger di dahan

Kata ayahnya, Najwa itu pelukis freestyler. Suka-suka aja dia mau gambar apa. Menurut tantenya si calon psikolog itu :D, biarkan saja imajinasinya bermain. Kalau sukanya gambar, ya biarkan saja dia menggambar. Diajak mewarnai boleh, tapi jangan dipaksa. “Gak perlu dikasi aturan, Bunda. Itu kan berkarya, biarin aja dia bebas berekspresi, individual differences. Kalau aturan yang sifatnya life skill dan social skill, itu yang nggak boleh di-pass.”

Sebetulnya, menggambar maupun mewarnai merupakan bahasa rupa anak. Sama-sama merupakan sebuah hasil bereksperimen, pembelajaran, dan penghayatan yang berbuah kreasi. Itulah yang terjadi saat anak menggambar maupun mewarnai di mana anak belajar melalui bermain. Baik menggambar ataupun mewarnai, keduanya dapat meningkatkan kemampuan otak kanan, yang berkaitan dengan berekspresi dan berkesenian. Sering kali kemampuan ini kurang diperoleh dari pelajaran di sekolah yang lebih cenderung menekankan pentingnya otak kiri (menghafal, mengingat).

Pesta ulang tahun dengan kue ulang tahun dan tiup lilin

Dan lagi, kemampuan menggambar Najwa menurut kami (Ayah dan Bundanya) sudah cukup baik. Dia bisa menggambar tokoh bajak laut anak Jake (dari serial Jake and The Neverland Pirates, Disney Junior channel) lengkap dengan ikat kepala dan rambut “jabrik”nya, sedang berenang pakai kacamata renang.

Kata ayahnya, “Gambar Jake pakai kacamata speedo..berenang..bahkan di filmnya pun belum pernah itu si Jake pakai kacamata speedo..” :D

Jadi kesimpulannya, usah dirisaukan. Menggambar dan mewarnai, bagus. Menggambar saja, juga bagus. Baru mau mewarnai, pun bagus juga. Najwa, sebagaimana setiap anak, punya minat dan kesukaannya masing-masing, dan sepanjang anak menikmati itu, yang harus kami lakukan adalah mendukungnya. Memberinya pujian, komentar, dan pelukan. Dan ikut serta dalam proses kreatif itu, turut menjadi bagian dalam imajinasinya.


Post Comment