Sawang Sinawang

Kalo kata orang Jawa, hidup itu sawang sinawang.  Artinya mungkin kurang lebih, dalam hidup, kita selalu melihat (keadaan) orang lain (dan kemudian membandingkannya dengan keadaan yang kita jalani). Sepertinya enak hidup begitu, menjadi itu, berada di posisi itu, bla bla bla…yang kalau diteruskan kedengarannya akan jadi seperti keluh kesah dan tidak mensyukuri hidup.

Begitu juga saat menjalani peran sebagai ibu, baik itu ibu yang tugasnya mengurus rumah tangga saja, ibu yang mengurus rumah tangga sambil bekerja di rumah, maupun ibu yang bekerja kantoran. Saya sendiri, ibu bekerja yang harus ngantor Senin-Jumat 8 to 5. Posisi saya sebagai ibu bekerja mengharuskan saya meninggalkan Gendra (9m) di rumah di bawah pengasuhan eyangnya. Seperti kebanyakan working moms, kondisi seperti ini kadang membuat patah hati. Bagaimana tidak, jika saksi mata dari setiap first moment Gendra adalah eyangnya dan yang ditangisi ketika pergi adalah eyangnya, bukan saya, ibunya. :( Saya iri dengan teman-teman saya yang jadi stay at home mom, yang bisa jadi saksi dari setiap first moment anak-anaknya.

Kadang kalau sedang galau tingkat dewa, saya berpikir untuk resign saja. Jadi SaHM agar bisa mengasuh Gendra sendiri. Tapi kemudian ketika emosi kembali stabil, saya berpikir ulang, apa iya saya siap untuk jadi SaHM.

Di sisi lain, keluh kesah menjadi SaHM sering saya dengar dari teman-teman saya. Mereka iri dengan ibu-ibu bekerja yang otomatis punya penghasilan sendiri, terlihat eksis, dan punya waktu untuk bergaul dengan teman-teman saat di kantor. Mereka kerap mengeluh jenuh karena harus 24 jam mengurus anak, suami, dan rumah.

Yahh, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Yang working mom iri dengan SaHM, yang SaHM juga kepingin jadi working mom. Inilah yang membuat saya terus berpikir ulang tentang cita-cita saya menjadi SaHM. Saya nggak mau kalau suatu saat saya menyesali keputusan yang sudah saya ambil.

Yang bisa dan harusnya dilakukan adalah bersyukur. Untuk SaHM, syukurilah bahwa waktu yang dihabiskan untuk keluarga, terutama anak, adalah priceless. Bersyukurlah bahwa setiap perkembangan anak-anak bisa disaksikan sendiri. It’s really priceless. Bisa mengasuh anak tanpa campur tangan orang lain adalah anugrah. Ingatlah, banyak working mom di luar sana yang iri karena tak bisa meluangkan sebagian besar waktunya untuk anak-anak mereka.

Sedangkan untuk working mom, syukurilah bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk memiliki penghasilan sendiri. Saat bekerja di kantor pun bisa menjadi “me time” khusus dan itu priceless juga loh, karena “me time” bisa menghilangkan stres. Stres hilang makes a happy mom dan a happy mom makes a happy family, kan?

So, bersyukurlah moms… :)


2 Comments - Write a Comment

Post Comment