dr. Jack Newman, FRCPC: “Cuti 3 Bulan Terlalu Singkat”

Setelah punya pengalaman menyusui Bumi selama dua tahun lebih, saya sangat percaya kalau keberhasilan memberikan ASI didukung banyak faktor. Mulai dari keluarga terdekat seperti suami, orangtua, support group yang terdiri dari teman-teman dekat yang sudah punya pengalaman, termasuk dukungan tenaga medis.

Sayangnya, di Indonesia masih banyak tenaga medis yang terlihat menggampangkan dalam memberikan susu formula dengan berbagai alasan. Salah satu yang sering saya dengar, sih, “Kalau ASI-nya seret, kasih susu formula saja, supaya bayinya nggak kuning”. Sebuah kalimat yang dulu juga sempat mampir ke kuping saya ketika Bumi baru saja lahir.

Di sini, saya, sih, juga nggak mau ‘ngecap’ kalau semua tenaga medis seperti itu, atau mau bilang kalau susu formula itu jelek. Lah, wong, seperti yang saya ceritakan di sini,  saya pun termasuk ibu yang pernah memberikan Bumi susu formula lantaran memang pada awalnya ASI mandek nggak mau keluar. Beruntung, berkat dukungan sana sini dan yakin kalau sebenarnya saya mampu memproduksi ASI, keinginan memberikan hak eksklusif Bumi pun bisa berhasil.

Beruntung sekali pengetahuan saya soal parenting seperti hal-hal yang berkaitan dengan menyusui ini kian bertambah setelah bergabung di Mommies Daily. Kalau sebelumnya, pekerjaan saya dulu banyak menuntut harus liputan malam dari satu club-ke club karena waktu itu memang berkerja di media pria, sekarang nggak lagi! Malah karena saya berkerja di Mommies Daily, belum lama ini jadi punya kesempatan bisa ngobrol bersama pakar Laktasi yang kiprahnya sudah diakui secara Internasional, dr Jack Newman, FRCPC.

Meskipun perbicangan kami cukup singkat, karena dokter anak sekaligus pakar laktasi asal Kanada ini mau memberikan seminar laktasi bersama Asosiasi Konsultan Laktasi Internasional Indonesia (AKLII), namun banyak sekali informasi penting yang bisa saya dapatkan. Mudah-mudahan, Mommies yang lagi juga bisa ‘memetik’ pelajaran yang sama seperti yang saya dapatkan. Berikut petikan obroalan saya waktu itu.

Bisa diceritakan bagaimana Anda mengawali menjadi pakar laktasi seperti sekarang ini?

Waktu itu, setelah lulus dari Universitas Toronto, saya sudah mulai mengembangkan minat saya dalam masalah menyusui setelah hampir 2 tahun lebih bekerja di sebuah rumah sakit di Afrika Selatan. Di sana, saya cukup banyak melihat cukup banyak bayi yang tidak diberi ASI. Akibatnya, tingkat penyakit karena kurangnya menyusui sangat tinggi, bahkan angka kematian anak dan ibu meninggal di Afrika sebagian disebabkan kerena karena tidak mendapatkan ASI dari ibunya.

Saat saya bekerja kembali ke Kanada saya bekerja di rumah sakit, dan di sana saya menemukan masalah yang sama, di mana ibu dan anak kesulitan untuk dengan breasfeeding dalam kesehariannya terutama pada wanita miskin. Sejak saat itulah saya memutuskan untuk mulai membantu banyak ibu yang punya masalah dengan breastfeeding. Dan di sinilah saya sekarang, akan berbagi soal pengalaman yang saya punya dan membantu menyebarkan informasi bagus soal ini.

Menurut Anda, apa saja, sih tantangan terbesar dalam memberikan ASI di negara berkembang seperti Indonesia atau Kanada?

Pada umumnya, saya bisa melihat bahwa tantangan terbesar yang ada di beberapa negara ada 2 hal, seperti bagaimana memberikan pendidikan untuk tenaga profesional serta bagaimana caranya melarang para produsen susu formula untuk melakukan pemasaran pada ibu menyusui. Saat ini kita sudah melihat iklan susu formula yang dipromosikan sebagai pengganti ASI, dan banyak ibu yang akhirnya salah memaknai dan berpikir kalau menggunakan susu formula itu bagus untuk bayi dan mereka sendiri, padahal tidak demikian.

Tenaga profesional dan rumah sakit juga harus berperan aktif dalam medukung pemberian ASI. Sayangnya, pada umumnya kondisi ini masih belum maksimal, sehingga diperlukan edukasi serta pelatihan yang cukup dan terus menerus pada mereka sehingga dapat mendukung keberhasilan memberikan ASI.

Sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia, menurut Anda, masalah terbesar di ibu menyusui di Indonesia, apa, ya?

Tidak berbeda jauh dengan negara lain, saya lihat masalah di Indonesia tidak jauh dengan banyaknya ibu menyusui yang menggunakan susu formula, produsen susu yang terus menerus  berpromosi, serta dokter kadang tidak peduli dengan breastfeeding dan dengan mudah memberikan memberikan susu formula di botol.

Jadi bisa dibilang, susu formula memang jadi musuh paling besar, ya?

Ya, dan sebenarnya kejadian ini tidak hanya di Indonesia saja, tapi ada di berbagai negara. Perusahaan formula memiliki uang yang banyak, sampai sekarang masih terus menghabiskan ratusan juta untuk berpromosi dan ternyata upaya tersebut berhasil. Otomatis, hal ini memang akhirnya memberikan pengaruh buruk yang cukup besar. Tapi yang harus juga disadari di sini, sebenarnya permasalahan susu formula ini juga bukan cuma pada ibu saja, tapi juga kepada tenaga medis seperti dokter.

O, ya, di Indonesia banyak perempuan yang bekerja sulit memberikan ASI secara maksimal. Sebenarnya, bagaimana cara mengatasi hal ini?

Memang, untuk ibu yang bekerja sering kali mengalami kendala seperti ini. Apalagi ternyata di Indonesia cuti melahirkan hanya tiga bulan saja, padahal waktu ini begitu singkat. Ibu menyusui akan sangat sulit memberikan ASI secara maksimal dengan waktu cuti yang sangat sempit.

Tapi sebenarnya kesulitan ini juga terjadi di banyak negara, misalnya Kanada. Saya menekankan agar pemerintah di sana supaya membuat cuti melahirkan yang lebih panjang. Ibu hamil di Kanada pun akhirnya diperbolehkan mengambil jatah cuti selama 1 tahun. Upaya ini pun akhirnya meningkatkan angka keberhasilan pemberian ASI. Rasanya, tanpa cuti melahirkan yang cukup, keberhasilan pemberian ASI memang sulit dicapai.

Sudah sering berkeliling ke berbagai negara untuk memberikan edukasi dan meningkatkan perempuan lebih sadar dalam pemberian ASI, sejauh ini, negara mana saja, yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi terhadap menyusui?

Pertanyaan yang cukup sulit, karena keberhasilan menyusui di setiap negara bebeda-beda karena berapa aspek yang mendukungnya. Contohnya Indonesia, yang memberikan cuti melahirkan hanya tiga bulan. Padahal kesuksesan pemberian ASI dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jadi memang tergantung pada banyak faktor. Selain itu biasanya negara yang tingkat ekonominya sudah sangat baik, penduduknya menengah ke atas cenderung lebih sibuk bekerja dan punya banyak uang untuk membeli susu formula sehingga keberhasilan ASI-nya cenderung rendah.Tapi selama ini ada beberapa negara yang saya lihat tingkat kesadaran ibu menyusui yang paling tinggi adalah Norwegia, Swedia dan Denmark.

Wah, saya merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan ‘suhu’-nya ASI tingkat internasional. Semoga hasil ngobrol saya ini bisa bermanfaat, ya!


2 Comments - Write a Comment

Post Comment