Pilah Pilih Jenis Susu

Dari dulu sampai sekarang saya masih doyan minum susu. Bahkan, kata mama saya,  saat masih TK, saya selalu minta jatah minum susu 4 kali dalam sehari. Kalau nggak, pasti akan nagih. “Ma, mau minum susu, dong, kan baru minum dua kali,” begitu kata saya dulu.

Mungkin hobi saya ini yang akhirnya menular pada Bumi. Soalnya urusan minum susu, Bumi termasuk jagonya. Hampir setiap bangun tidur, hal kedua setelah saya, yang Bumi cari adalah susu. Begitupun menjelang tidur siang  dan malam hari. Rata-rata sehari, Bumi bisa menghabiskan 600 ml susu. Untungnya, sih, hal ini nggak mengganggu pola makannya.

Berbeda dengan saya, beberapa teman justru memilih sama sekali tidak menyediakan susu untuk anak-anaknya. Alasannya, nggak terlepas dari cara pandang yang menganggap kalau kebutuhan nutrisi sudah tercukupi dengan makanan sehari-hari. Termasuk dengan kandungan kalsium yang memang bisa diperoleh dari berbagai jenis ikan, daging ataupun kacang.

*gambar dari sini

Meskipun pandangan tersebut memang tidak salah, dr. Fiastuti Witjaksono MS.SpGk menegaskan kalau sebenarnya susu banyak memiliki manfaat. Baik untuk bayi yang baru lahir, dalam hal ini ASI,  termasuk untuk anak-anak, remaja bahkan dewasa.  Kenapa? Soalnya susu bermanfaat untuk menyempurnakan  gizi. Termasuk untuk mengganti sel-sel yang rusak, serta menjaga kepadatan dan pertumbuhan tulang.

“Seperti diketahui, kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda, karena itulah pemilihan susu perlu disesuaikan menurut kebutuhan dan tahapan usia. Susu cair baik dikonsumsi setiap hari, namun untuk anak-anak, susu cair dapat dikonsumsi di atas satu tahun setelah ASI. Baiknya, kita mengonsumsi minimal satu gelas per hari,” ujarnya pada peluncuran kampanye Susu UHT: Beragam Manfaat & Pilihan yang digagas Tetra Pak beberapa waktu lalu.

Sayangnya, meskipun susu mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan sebagai bahan pembangunan tubuh, dokter spesialis gizi klinik dari FKUI ini mengungkapkan kalau sampai saat ini pemahaman masyarakat tentang manfaat susu masih kurang. Hal itu terbukti dengan rendahnya konsumsi susu di Indonesia, bahkan jauh di bawah negara di kawasan ASEAN lainnya.

Menurut data internal Tetra Pak 2013, konsumsi susu nasional baru mencapai 13,47 liter/kapita/tahun. Cukup jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti  Vietnam yang mencapai 20,07 liter, ataupun Malaysia yang sudah mencapai  53,52 liter/kapita/tahun.

Selain dr. Fia, waktu itu Prof. Purwiyatno Hariyadi, Ph.D  sebagai Direktur SEAFAST (Southeast Asian Food and Agricultural and Technology) Center juga hadir sebagai pembicara. Profesor Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB ini mengingatkan agar kita sebagai orangtua harus cermat memilih susu yang tepat untuk dikonsumsi.

Saya pun pernah mengalami masa-masa bimbang menentukan susu yang aman dan tepat untuk Bumi. Sekarang ini kan jenis susu banyak sekali. Ada susu bubuk, susu pateurisasi atau susu UHT. Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya saya pun memilih susu UHT.

Saya makin yakin kalau pilihan saya ini tepat ketika melihat langsung pengolahan susu UHT di Pangalengan Bandung. Ditambah lagi dengan mengikuti jumpa pers kampanye minum susu 2013 yang diadakan Tetra Pak, sebuah perusaahan yang memelopori teknologi UHT untuk pemrosesan dan pengemasan susu cair di dunia.

Saat itu, Prof. Purwiyatno juga sempat bilang, “Proses pengolahan susu dengan UHT (Ultra High Temperature) merupakan teknologi sterilisasi yang paling efektif dalam membunuh mikroba berbahaya dan kualitas gizi dan mutu lebih terjamin.”

Prof Purwiyatno hari Senin 7 Oktober lalu telah menjadi expert di thread Q&A mengenai susu untuk balita di sini. Nah, kalau Mommies ketinggalan,  thread ini masih dibuka, lho. Mommies masih bisa tanya-tanya seputar susu untuk balita di forum tersebut dan nanti akan dijawab lagi oleh ahlinya. Yuk, ah!

 

 


2 Comments - Write a Comment

    1. Hihihi… kl sekarang, sih, gue juga udh nggak nyari2 susu kaya zaman bocah dulu. Jatahnya sudah dialihkan buat Bumi. Salah satu kenapa milih susu UHT emang krn jauh lebih praktis, sih. Nggak kebayang betapa ribeeetttnya kl harus bikin sufor buat Bumi.

Post Comment