Motherhood Monday: Nina Moran, the Person Behind GoGirl!

Majalah GoGirl! memang untuk anak muda, tapi pendirinya 3 kakak beradik sudah ada 2 yang berkeluarga, lho. Di sini saya ngobrol-ngobrol seru dengan Nina Moran, Business Director dari majalah GoGirl! tentang bagaimana dia membagi waktu antara bisnis dan keluarga. Nina sudah menjalankan bisnis ini selama 9 tahun dan sekarang memiliki 2 anak, Christopher Andrew, 6 tahun, dan Mikaella Noel, 11 bulan. Dan menariknya, sejak 2009 suaminya ikut dalam jajaran manajemen GoGirl! bagaimana sih rasanya satu kantor dengan suami?

Pertanyaan klasik nih. Apakah mempunyai usaha sendiri = mempunyai waktu lebih untuk keluarga?

Enggak! Kalau aku bandingkan dengan karyawan di GoGirl!, mereka bisa pulang on time most of the time. Aku memang sekarang juga lumayan sering pulang on time. Tapi waktu 4- 5 tahun pertama berat sekali. Aku sering tidur di kantor, di karpet atau di kursi. Ada masanya juga nggak pulang ke rumah selama beberapa hari. Sekarang memang sudah lebih enak, but it takes 9 years to get here. Tapi memang harus diakui kalau punya usaha sendiri lebih fleksibel. Misalnya ketika anak sakit, kita nggak usah bingung lagi dan langsung bisa memutuskan untuk kerja dari rumah. Nggak perlu izin ke bos dulu, nggak perlu mikirin cutinya masih berapa hari, nggak perlu isi formulir cuti. It’s a priviledge.

Family & Work balance. Can we achieve it?

Kalau kita bahas balance dari segi waktu yang dihabiskan di kantor jumlahnya sama dengan waktu yang dihabiskan bersama keluarga ya nggak akan pernah tercapai. Jadi saya lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas. Kalau sudah di rumah sama anak-anak, jangan cek kerjaan lagi, jangan sibuk dengan gadget lagi. Waktunya benar-benar dicurahkan untuk keluarga. O, ya, untuk mencapai kehidupan yang lebih balance, kita butuh support dari sekeliling kita juga, terutama suami yang suportif. Suportif di sini bukan hanya membolehkan kita bekerja tapi juga mau sigap untuk mengambil peranan ibu di rumah. Mau membantu menyiapkan anak sekolah, sigap dengan PR anak dan lain sebagainya. Suami yang sangat sigap inilah yang membuat saya sangat bersyukur. Dengan suami, kita juga harus pintar-pintar mencuri momen. Seperti waktu saya ada business trip ke Manila baru-baru ini, suami akhirnya ikut supaya kita punya quality time berdua. Padahal sih di sana juga nggak sempat ke mana-mana. Tapi paling tidak bisa berdua saja di kamar hotel, ngobrol tanpa ada gangguan sambil makan hasil pesan room service sudah cukup refreshing untuk kami. We have to be able to enjoy the simple things in life.


Sebagai ibu bekerja, apakah rasa bersalah itu sering muncul?

All the time. It never goes away. Belajar dari pengalaman sih, kalau saya yang lagi terlalu memikirkan anak-anak,  mereka pasti akan bisa merasakan juga dan akhirnya malah jadi rewel. Kasian orang rumah yang dititipkan jadinya. Pernah waktu saya lagi kangen banget sama anak kedua Noel yang masih bayi, ibu mertua saya bilang kalau Noel lagi rewel. Feeling ibu dan anak nyambung sekali ternyata. Dan saya yakin, sebagai orang tua sebenarnya kita yang lebih butuh anak-anak kita daripada mereka butuh kita. Saya juga lagi belajar untuk letting go, sih. Memberikan mereka space dan kebebasan.

Yang dilakukan untuk mengurangi rasa bersalah?

Dulunya saya selalu mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa I’m doing this for them untuk menutupi rasa bersalah. Namun setelah dipikir lagi, saya harus jujur mengatakan bahwa I’m doing this for me. Sebagai manusia saya merasa butuh bekerja, butuh berkarya, it’s part of my well being. Kalau memang untuk anak pasti kita akan berusaha memberikan yang mereka mau, kan? Kalau saja mereka bisa memilih, mereka pasti maunya kita ada di rumah setiap hari.

Bagaimana rasanya sekantor bareng suami, ada kiat-kiat tertentu?

  • Respect  and learn each other boundaries. My husband is very detail-oriented and controlling. Karakternya ini membuat saya stress karena performa saya justru lebih bagus kalau dibiarkan sendiri, with minimum supervising. Dulu-dulu suami saya suka tanya ‘Kamu udah kerjain ini belum? Project A sudah sampai mana? Coba aku liat progressnya?’ Jadi harus dicari jalan tengahnya, karena nanti gantian dia yang stress kalau tidak tahu apa-apa tentang yang saya sedang kerjakan. Solusinya,  ketika di jalan mau ke kantor kami saling update tanpa ditanya, dengan suasana yang lebih santai.
  • Learn to be professional. Kalau di kantor dan lagi kerja kita nggak memposisikan diri sebagai suami atau istri, tapi sebagai profesional. Misalnya ada yang kerjanya nggak benar ya harus ditegur, kalau perlu dimarahin juga nggak papa. Nanti nggak adil juga untuk yang lain soalnya kalau kita mempunyai double standard.

So far saya senang satu kantor bersama suami. Nggak bosen kok karena seringnya kita malah nggak ketemu di kantor. Makan siang juga dengan orang yang berbeda. Nggak senangnya juga ada sih. Karena suami saya yang memegang keuangan kantor, jadi ketahuan deh gajinya berapa, pendapatan kantor berapa aja, nggak bisa colongan beli sepatu lagi :D

—————-

Terimakasih atas waktunya, Nina. Sukses selalu untuk GoGirl!-nya ya :)

 

 


Post Comment