Menjadi Keluarga Digital

Behavior & Development

nu to the ri・02 Oct 2013

detail-thumb

Saya dan suami adalah salah satu produk pasangan yang 'jadi' karena bertemu di internet. Proses 'mengenal' suami juga lebih banyak dari proses chatting dan saling kirim email. Jadi memang bisa dibilang kami ini internet freak, sejak zaman internet pakai dial-up. Malah tagihan telepon rumah saya pernah mencapai 1 juta-an rupiah, akibat internetan nggak kenal waktu. Suami (yang waktu itu belum jadi suami, dan masih berstatus mahasiswa) nggak kalah ekstrim, mengobati lapar dengan internetan. Katanya waktu itu, nanti juga laparnya hilang. Ha.

Proses 'berkenalan' berlanjut hingga lewatlah masa dial-up dan menikahlah kami di masa-masa kami internetan dengan DSL.

Lucunya, setelah kami menikah, masa-masa berduaan di dalam kamar bukannya 'pacaran' dengan semestinya, misalnya ngobrol atau bermesraan, saya dan suami malah anteng berhadapan dengan netbook masing-masing. Internetan. Waktu itu belum booming smartphone, apalagi tablet. Jadi kalau mau internetan ya buka netbook, koneksikan dengan modem gsm, sukur-sukur dapat sinyal, dengan paket yang cukup mahal saat itu. Dipikir-dipikir, ironis sih, seharian sudah berpisah, giliran ketemu malah cuek-cuekan.Kalau lagi kumat iseng, saya tegur dia via chatting supaya paling tidak dia menoleh ke saya :p

*gambar dari sini

Lalu hadirlah Maryam di tengah-tengah kami pada tahun 2009. Peran internet sangat besar dalam membantu saya jadi ibu baru, mulai dari beberapa bulan sebelum saya melahirkan. Saya dapat info tentang potensi pembekuan darah saya yang tinggi dan bisa menyebabkan pre-eclampsia, saya belajar tentang ASI, survei dokter dan RS yang pro ASI dan pro rawat gabung, tahu tentang cloth diaper, sampai belanja keperluan new born baby dari pelbagai online shop.

Jadi, internet sudah membantu saya menemukan suami. Sudah pula membantu saya menyiapkan diri menjadi ibu baru.

Sekarang apa yang sudah internet lakukan dengan keluarga saya?

Sekarang teknologi internet sudah mulai bergeser ke HFC, modem-modem GSM sudah jadi bangkai karena masuklah era smartphone, paket internetan dengan GSM semakin murah, dan internetan sudah semudah a-click-smartphone-away.

Saya sendiri masih belum berani menyimpulkan pemandangan yang saya lihat sekarang. Yang saya lihat adalah kami bertiga (saya, suami, dan Maryam) masing-masing memegang gadget dalam kamar, sangat khusyuk. Saya tidak tahu ini pertanda bagus atau bukan, ketika melihat melihat gadis 4 tahun saya sudah fasih mengeksplorasi tombol dan sudah paham logika Android. Kok, ya, dia bisa membuka sendiri Android yang terkunci, bisa membedakan tombol play-continue-exit ketika main games. Tahu kalau ingin nonton Mickey Mouse di Youtube dengan menggunakan Netbook, dia harus klik icon browser, lalu bundanya disuruh mengetik keyword tertentu (yaitu, ‘Mickey Mouse Youtube’) di tab browser. Sejauh ini saya lihat internet melalui gadget berpengaruh cukup positif dalam tumbuh kembang Maryam. Dia belajar huruf, angka, warna, nyanyian, menulis, dari aplikasi Android.

Saya takjub sekaligus ngeri.

Terus terang, dulu gambaran ideal saya tentang keluarga harmonis adalah semua anggota keluarga berkumpul di meja makan saat makan malam dan saling bercerita tentang kejadian-kejadian yang kami alami hari itu, seperti saat saat saya kecil dulu. Dulu juga saya sering mengalami bagaimana Ayah saya melatih pemikiran kritis saya dan kakak saya dengan mendebat pemikiran kami tentang berbagai hal yang terjadi di luar sana. Pastinya, melalui interaksi aktif, diskusi maksudnya.

Saya takjub dengan kefasihan Maryam memainkan perangkat smartphone, tapi saya juga beberapa kali mendengar pengaruh negatif gadget pada anak-anak. Daripada telanjur menyesal nanti karena ketidaktahuan, saya coba mencari bacaan tentang pengaruh gadget terhadap anak melalui browsing (pasti lah, yaa.. via browsing :))

Kesimpulan saya ada dua :

  • Pengaruh positif lebih banyak mempengaruhi aspek kognitif anak
  • Pengaruh negatif lebih banyak mempengaruhi aspek sosial anak.
  • Tidak ada satupun sumber yang dengan tegas melarang orang tua untuk mengenalkan gadget kepada anak, dan semua sumber kompak bahwa orang tua bisa mengenalkan gadget dengan pengawasan dan bimbingan. Saya coba rangkum hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mengawal hubungan dan interaksi anak dengan internet dan gadget :

  • Sama seperti menonton televisi, anak perlu diajak berdiskusi tentang apa yang disaksikan di internet. Sering-sering uji pemahaman anak tentang apa yang disaksikan atau didengar anak, tanpa ada ‘penilaian subjektif’ khas orang tua dulu, ya. Saya pernah punya prasangka berlebihan sama Maryam, waktu itu saya khawatir karena dia mendengar lagu-lagu cinta orang dewasa. Jadi saya tes saja apa pengertian dia tentang Cinta, saya tanya sama dia “Maryam tahu cinta?”, dengan lugas dia menjawab “Sama kayak yang lagu Susan, kan? Cita-citaaaku.. ingin menjadi dokteeerr..”. Haha.. Jadi disangka sama tuh, Cinta dan Cita. Anyway, tadinya kalau Maryam sudah ngeh dengan cinta, rencananya mau saya bahas lebih lanjut bahwa menyenangkan sekali merasakan cinta antara orang tua dan anak, antara dirinya dengan Allaah, dirinya dengan anggota keluarga yang lain, tapi rupanya masih terlalu abstrak bagi Maryam.
  • Banyak sumber mengatakan kalau internet membuat anak menjadi dangkal dalam berhubungan dengan orang lain, tidak menikmati proses, mudah menyerah, lebih suka hal-hal instan, dan semacamnya. Kuncinya dikembalikan lagi kepada kreativitas orang tua mengajarkan anak dalam “menikmati berproses”, dengan atau tanpa internet. Bagaimana konkretnya mengenalkan anak “menikmati berproses” melalui internet? Bisa melalui games edukatif, tontonan tutorial yang langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan banyak hal lagi.
  • Untuk lebih mengoptimalkan perkembangan fisik yang bisa terhambat karena anak fokus menonton internet dan gadget, simpelnya, ya, batasi waktunya untuk internetan. Kalau anak ngamuk karena dilarang? Nah, itu berarti ujian supaya orang tua lebih kreatif mengarahkan anak, ya? Kalau anak sudah ngamuk, berarti.. lihat no. 4
  • Berarti orang tua yang harus refleksi ke diri sendiri. Jangan-jangan anak tidak terima dilarang internetan sebagai bentuk protes orang tua yang terlalu intens memandangi layar smartphone :). Ayo, Mommies, segera taruh gadget-nya dan nikmati waktu bercengkrama dengan anak. Yang juga saya lakukan, saya dan Maryam sama-sama menyerbu suami yang asik dengan gadget, supaya suami meletakkan juga gadget-nya.
  • Saya kira itu dulu kiatnya, mudah-mudahan bisa menambah dampak positif dan mengurangi dampak negatif gadget dan internet terhadap anak, ya. Mungkin Mommies mau menambahkan kiatnya?