Pasangan Mengorok=Menyebalkan

Sejak kecil, saya adalah tipe orang yang lebih kuat tidak makan ketimbang tidak tidur. Jadi, saya masih bisa berfungsi dengan baik meski saya belum makan selama berjam-jam. Tapi, jangan pernah coba-coba mengajak saya beradu argumentasi saat kurang tidur. Bisa-bisa emosi saya akan lepas kendali.

Nah, saat menikah, urusan tidur menjadi masalah besar bagi saya. Bagaimana tidak? Suami saya ternyata mengorok! Suara ngoroknya kencaaangg sekali dan amat mengganggu. Saya pun jadi merasa terjebak karena saya tidak bisa kabur ke ruangan lain. Maklum, waktu itu kami masih menumpang di rumah mertua.

*gambar dari sini

Seringkali saya bergadang sepanjang malam karena tidak bisa tidur sama sekali. Apalagi saat saya hamil. Sudah tubuh berubah, hormon berubah, eh suami ngorok pula. Ya ampuunn… Sampai-sampai saya menangis saking frustrasinya!

Sebagai pelampiasan, saya biasanya mencuri waktu tidur siang di rumah orangtua. Pekerjaan pun jadi sedikit terganggu karena saya nggak bisa berfungsi dengan baik saat kurang tidur. Untung lagi hamil. Bos kan jadi merasa nggak enak untuk memarahi saya hahaha…

Saat Nadira lahir, mungkin saking lelahnya, saya bisa tidur lelap meski dihujani suara dengkuran suami yang kencangnya nggak kalah dengan suara bajaj itu. Mungkin ini juga yang menyelamatkan saya dari serangan baby blues. As long as I get enough sleep, nothing will bother me, hehehe…

Saat kami pindah ke rumah sendiri, hati saya gembiraaaa sekali. Artinya, saya punya pilihan untuk tidak tidur sekamar dengan suami. Saya bebas dari suara dengkurannya, hore! Jadi saya tidur di kamar Nadira, suami tidur di kamar kami.

Alasan saya sih, selain menghindari dengkuran suami, juga pelan-pelan membiasakan Nadira agar bisa tidur di kamarnya sendiri. Terus kalo nanti Nadira sudah bisa ditinggal, paling-paling saya tidur di kamar tamu. Daripada stres gak bisa tidur sepanjang malam lah yaa hihihi…

Ternyata apa yang saya alami ini banyak sekali dialami pasangan lain di seluruh dunia. Bahkan, menurut beberapa survei dan artikel yang salah satunya artikel ini, mengorok atau mendengkur adalah penyebab ke-3 dalam sebuah perceraian, dan menjadi penyebab perceraian nomor 1 dari sisi medis. Membacanya saya kaget lho. Ternyata memang banyak sekali hal sepele dalam pernikahan seperti ngorok, yang tak bisa dianggap enteng ya?

Suami sendiri kayaknya sudah kebal saya ceramahi dan sindir soal kebiasaannya mengorok. Padahal, bagi saya, mengorok bukan hanya jadi masalah laten bagi hubungan kami sebagai pasangan. Tapi mengorok itu juga berbahaya bagi kesehatan penderitanya. Banyak sekali ditemukan kasus mati mendadak, stroke atau penyakit jantung pada para pendengkur.

Sampai saat ini, saya berusaha tidak putus harapan. Banyak hal sepele yang menyebabkan pertengkaran dalam rumah tangga. Biasanya para ahli menyarankan adalah agar keduanya saling beradaptasi. Nah untuk kasus mengorok saya merasa ini berbeda. Sebab, mengorok hanya bisa “dibetulkan” dengan bantuan ahli medis. Selain itu, mengorok juga dapat berpengaruh pada kesehatan kedua belah pihak. Si pendengkur bisa terkena penyakit parah, pasangannya juga bisa depresi jika kurang tidur terus menerus. Ya nggak sih?

Ada yang punya masalah sama? Share dong gimana cara mengatasinya. Makasih Mommies!

 


4 Comments - Write a Comment

  1. Suamiku jg sama banget Mbak. Ngoroknya keras banget. Kl sy udah tidur duluan, biasanya sih ngga ngaruh. Tp kl dia yg tidur duluan, woww.. Biasanya ngorok keras kl posisi tidurnya telentang. Jd sy dorong aja badannya biar nyamping. Lumayan berkurang dengkurannya

Post Comment