Bawaan Tetap Ringkas Walau Punya Bayi

Saat bepergian atau sekedar ke mal, saya sering melihat keluarga muda dengan satu bayi membawa baby bag sebesar travel bag kecil. Padahal biasanya si ibu pun sudah membawa handbag-nya sendiri.
Saya sendiri dengan empat anak biasanya hanya membawa satu tas, tas saya. Konsekuensinya, sih, memang jadinya harus membawa mom-bag yang ukurannya minimal medium. Tapi setidaknya nggak perlu bawa dua tas, deh.

*gambar dari sini

 

So how could I push everything into one big mom-bag?
Here’s how:

1. ASI
Dengan memberi ASI, kita sudah mengurangi bawaan setidaknya termos air panas, milk container, beberapa botol susu, dan tas pembawanya tentu.
Apron atau nursing cover sebenarnya juga tidak terlalu perlu. Saya malah nggak pernah punya :D. Saya biasanya pakai bagian jilbab yang menutup sampai bawah dada. Selain itu bisa juga pakai pasmina atau syal yang sekaligus bisa jadi selimut bayi.

2. Wrap Carrier
Karena bentuknya sudah satu lembar kain yang panjang, bisa berfungsi jadi selimut juga saat bayi ditidurkan di stroller.

3. Baju ganti dan diaper.
Satu stel baju ganti plus 2 diaper bisa dimampatkan dalam pouch kecil. Bisa juga ditambah cadangan topi barangkali suatu saat perlu. Anak-anak saya, sih, nggak terbiasa pakai topi sehari-harinya.

Membawa baju ganti yang bukan one-piece akan lebih fleksibel karena kalau misalnya yang kotor hanya atasan saja, bawahan tidak perlu ikut diganti. Sementara saat bepergian menggunakan one-piece, satu set baju ganti tersebut masih bisa berguna.
Pastikan baju ganti yang dibawa sesuai dengan gaya bepergian si kecil ya. Kalau biasa perginya pakai alas kaki, jangan bawa baju ganti yang full leg. Nanti PR lagi bawa sepatunya.

Dari pengalaman saya, sebenarnya cukup jarang bayi sampai harus ganti baju. Kebanyakan gumoh dan air liur cukup dilap dengan baby bib. Tapi pernah juga saya mengalami bayi muntah berturut-turut 3x dan dia memastikan sudah ganti baju saat muntah kembali *jambak-jambak rambut*. 3 baju ganti langsung ludes saat itu juga.

O, ya, karena baju ganti ini jarang terpakai, bawa size yang agak besar supaya tidak cepat kekecilan.

4. Tisu Basah dan kering.
Ketimbang bawa kapas basah untuk misalnya ganti diaper, tisu basah lebih ringkas karena lebih multifungsi, kemasannya praktis, dan…wangi :D. Sangat berguna untuk menyamarkan bau bekas muntah, tumpahan susu, atau BAB. Sependek pengalaman saya, wangi tisu basah lebih mempan ketimbang wangi baby lotion.

Dengan cara ini, tas saya masih bisa memuat satu dompet besar dan satu dompet ponsel plus powerbank.

Lalu bagaimana dengan ekstra selimut atau flanel, plus (mungkin yang ingin tahu) baju cadangan anak-anak yang lebih besar?

Saya menyiapkan semacam tas darurat seperti yang dibahas di artikel-artikel traveling bersama anak. Menyiapkan satu atau dua stel baju per range usia anak, utamakan atasan. Range usia di sini maksudnya untuk anak yang sepantar besarnya bisa dicadangkan baju yang sama. Agak kebesaran atau kekecilan nggak masalah, namanya darurat, kan. Saya masukkan juga 2-3 buah celana dalam, beberapa diaper ekstra ukuran sedang, dan baju cadangan untuk saya dan si Ayah juga. Jangan lupa beberapa lembar kantong plastik untuk tempat baju kotor.

Semua bisa masuk dalam ransel tipis ukuran sedang, dan ditinggal di mobil. Saat perlu saja ngabur ke parkiran ambil ganti seperlunya.

Anak-anak di atas 5 tahun sudah jarang sampai harus ganti baju karena mengompol, muntah, atau ketumpahan sesuatu. Tapi bukan berarti nggak mungkin, lho.

Dengan begini, yang perlu dibawa saat berjalan-jalan bisa tetap ringkas, kan, walau tetap siap kalau sewaktu-waktu ada kejadian tidak terduga.

 


Post Comment