Makan Tanpa Perang ala Self-Regulation

Waktu kecil, saya termasuk super picky eater. Picky eater aja udah bikin emaknya pusing. Gimana super picky eater? Insert little me here. Bayam? Iuh. Wortel? Nggak doyan. Ayam? Cuma mau dada aja. Itu juga kadang-kadang. Ikan? Hanya ikan bandeng. Presto. Goreng garing. Kata ibu, saya lebih memilih makan nasi lauk garam dan kelapa parut daripada sup ayam. Gerakan tutup mulut alias mogok makan? Sering.

Setelah dewasa, saya juga tidak ambil pusing soal ini. Ya, semua orang punya kesukaan dan bukan kesukaan, kan? Nggak usah dipaksa. Saya bahkan sering geleng kepala ketika melihat ada anak yang dipaksa makan oleh orangtuanya. Emangnya segitunya, ya? Biasa ajalah, bapak dan ibu.

Sampai akhirnya saya punya anak.

Bayangan anak kurang gizi, berat badan kurang, pertumbuhan lambat, bla bla bla, gara-gara susah makan membayang di kepala.

Okay, now I understand you, guys.

Lalu, seperti kebanyakan orangtua, saya mencari banyak informasi tentang makan-memakan ini. Saya ingin tahu cara agar anak saya tetap mendapatkan gizi yang cukup tanpa harus perang dengannya setiap kali acara makan tiba. Yang saya yakini waktu itu adalah kayaknya nggak mungkin sih anak dilahirkan dalam kondisi sudah jadi picky eater. Iya, nggak? Selain itu, menurut saya, makan dengan baik adalah sebuah skill kehidupan yang harus diajarkan kepada anak karena dalam jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatannya sebagai orang dewasa.

Susu, multivitamin, atau penambah nafsu makan, menurut saya, hanya akan membantu kecukupan gizi anak dalam jangka pendek karena seumur hidupnya, dia akan berhadapan dengan acara makan. Lagipula, mekanisme dalam tubuh manusia ini kan aslinya didesain untuk memperoleh energi dan gizi dari makan, bukan potong kompas lewat susu sapi atau multivitamin.

Then, I stumbled upon self-regulation. Saya menemukan cara ini ketika berbagi cerita dengan teman-teman sesama orangtua. Salah duanya, ibu dan psikolog yang membidani 24hourparenting.com. Keduanya memperkenalkan saya pada sesuatu, yang singkatnya, saya sebut sebagai panduan a la self-regulation. Cara panduan ini mengajarkan skill makan ternyata paling logis buat saya.

Sebagai makhluk hidup, tubuh kita mampu mengatur fungsi bertahan hidupnya sendiri. Ini yang disebut kemampuan self-regulation. Termasuk dalam self-regulating ability ini adalah sensor lapar-kenyang. Contoh adanya sensor ini sejak kecil adalah bayi yang menangis karena lapar. Kita tinggal mengenalkan sensor ini pada anak dan mengajari cara meresponnya. “Oh, kamu rewel, perutmu keroncongan, pingin ngemil ini itu terus, mungkin kamu lapar. Kalau lapar tuh sebaiknya kita makan. Makan, yuk.” Anak pasti akan lebih kooperatif soal makan jika dalam keadaan lapar. Jika perut anak dalam kondisi kenyang, seperti manusia dewasa pada umumnya, sudah sewajarnya dia akan menolak makan.

Saya menerapkan self-regulation ini pada Nara, anak saya, sejak dia MPASI hingga saat ini. Caranya, di jam-jam makan, saya tawarkan makan padanya. Jika dia tidak mau, saya akan menunggu, membiarkannya bermain dulu. Tapi saya menghindari menawarkan cemilan atau susu sementara menunggu, itu hanya akan membuyarkan nafsu makannya atau malah membuatnya kenyang. Biasanya, sebentar kemudian dia mau buka mulut dan makan. Sekarang, di usia 18 bulan, dia sudah bisa minta makan sendiri di jam makannya.

Apakah dengan cara ini saya tidak takut anak saya kelaparan? Saya percaya bahwa insting alami anak saya tidak akan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Kemampuan self-regulating tubuhnya akan memberi tahu si anak kalau dia butuh makan. Bagian ‘percaya pada kemampuan tubuh anak’ ini memang cukup menantang bagi orangtua dan pengasuh.

Di awal Nara mulai MPASI, ibu sering mengeluh pada saya, “Anaknya makan baru seuprit udah gak mau.” Biasanya saya akan mengecek, seuprit itu seberapa? Sedikit menurut kita bisa jadi banyak menurut anak. Kapasitas lambung anak kan jauh berbeda dengan orang dewasa. Untuk Nara, seringnya karena dia tidak suka menunya. Begitu ganti menu, dia lahap.

Soal menu, saya juga pernah dilapori Nara pilih-pilih makanan. Ternyata, ceritanya, anak saya lebih memilih makan kentang dan makaroni dibanding nasi. “Nanti susah dia kalau udah gede gak doyan nasi.” Saya pernah menimpali, “Untung dia doyan kentang. Siapa tahu kalo dia pindah ke Inggris, dia nggak susah makan karena nggak ketemu nasi.”

Soal doyan-nggak doyan, saya percaya anak punya seleranya sendiri. Kita sendiri kalau disodori makanan yang kita tidak suka pasti enggan. Lagipula, sumber zat gizi kita bukan hanya satu, kan? Kita hanya perlu cermat membuat menu untuk anak demi kecukupan gizinya.

Tapi kan anak kecil belum bisa apa-apa. Lo mau percayain soal makan ke dia, Put? Nah, buat saya, modal utama self-regulating ini adalah percaya bahwa anak punya mekanisme penunjang kehidupan yang baik dan berfungsi. Saya percaya bahwa dalam jangka panjang, self-regulation akan membantu anak untuk percaya pada kemampuan tubuhnya sendiri. Selain itu, yang paling penting, saya sendiri merasa perlu belajar untuk tidak meremehkan kemampuan anak saya sejak dini.

Masih banyak keuntungan dari mengajarkan self-regulation ini pada anak. Bukan hanya soal makan saja, self-regulation juga bisa diterapkan pada aktivitas tidur anak. Namun, kemampuan self-regulating ini juga bisa terkikis. Bagaimana menghindarinya? Berikut ini link ke 24hourparenting.com, klik: http://bit.ly/kokudahkenyang untuk tahu lebih jauh tentang self-regulation dan manfaatnya.

Putri adalah editor di 24hourparenting.com24hourparenting.com adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan ortu.


Post Comment