Honesty is the Best Policy?

Mommies, tentu tau banget dengan pepatah di atas, ya. Tapi, ada satu hal nih yang gampang-gampang susah: pernah pura-pura orgasme nggak? Hehehehe, kalau pertanyaan ini diajukan ke saya, jawabannya, pernah. Tapi itu pun nggak sering-sering, kok, paling hanya sekali dua-kali saja.

Setelah punya anak, urusan ranjang memang sudah banyak mengalami perubahan. Rasanya, seluruh energi sudah keburu habis untuk mengurus anak, kegiatan di kantor, ditambah harus menghadapi kemacetan Jakarta. Duuh, capek.

Ya, namanya juga perempuan, setiap  melakukan hubungan seks, pasti bawa-bawa suasana hati. Kalau kondisi  fisik ataupun pikiran lagi lelah, sementara suami minta jatah, ujung-ujungnya jadi dilema, deh.

*gambar dari sini

Kebanyakan dari kita akhirnya memilih melakukan ‘charity sex’. Itupun dengan cara yang ekspres. Maksudnya, sih, supaya bisa cepat istirahat :D Lagipula, yang paling nyeremin, kalau suami nggak puas di rumah, bisa-bisa dia jajan di luar sana, hiiiiii, jangan sampai terjadi, deh!

Mungkin ada beberapa Mommies yang memilih untuk blak-blakan bilang ke suami dan menolak untuk diajak ‘mesra-mesraan’. Tapi kalau saya, kok, rasanya nggak tega, yah? Lagipula, takut suami jadi kecewa.

Buat saya, meskipun lagi nggak mood, melayani suami harus tetap diutamakan. Khususnya untuk urusan ranjang :D

Rupanya, salah satu teman dekat saya juga mengalami hal yang serupa. “Iya, Dis, gue sering banget pura-pura orgasme biar cepet selesai dan suami tetap senang,” ujarnya sambil terkekeh.

Urusan pura-pura orgasme ini ternyata perempuan memang  juaranya. Bahkan Universitas Columbia, Amerika Serikat, pernah melakukan survey yang melibatkan responden 453 wanita. Di sana terungkap bahwa bahwa lebih dari 54 persen wanita memalsukan orgasme. Alasannya, supaya suaminya puas dan mencegah terjadinya perselingkuhan.

Hal ini juga diamini oleh dr. Anita Gunawan MS. Sp. And. Jadi, waktu itu saya sempat bertemu dengan androlog dari RS. Pusat Pertamina ini.  Jadilah saya tertarik untuk sedikit membahas soal fake orgasm. Ia mengatakan bahwa memang banyak sekali perempuan yang melakukannya, hal ini dikarenakan perempuan lebih cenderung susah mencapai klimaks.

“Perempuan itu sebenarnya bukan tidak bisa mencapai titik orgasme, namun untuk mencapainya, kadang perempuan memerlukan waktu lebih  cukup panjang,” ucapnya.

Tapi apa iya, hanya pihak perempuan saja yang sering melakukannya? Dan pria nggak melakukannya?

“Sebenarnya hal ini akan kembali ke satisfaction-nya. Pria bisa orgasme karena orgasme-nya bersamaan dengan ejakulasi. Tapi perempuan tidak seperti itu. Walaupun dikatakan ada ejakulasi pada wanita, tapi itu belum tentu orgasme. Orgasme itu salah satu kepuasan, baik  badaniah  maupun psikologis. Jadi kepuasan psikologis itulah yang dikatakan satisfaction. Sehingga ada kepuasaan secara menyeluruh. Ini sebenarnya kembali pada kualitas daripada hubungan. Bila kualitasnya bagus, sudah tentu hasilnya akan maksimal.

Apa saja dampak negatif jika berpura-pura orgasme ini terus berlanjut?

Kalau si suami mengetahui, maka ia berpikir ada sesuatu pada istrinya. Suami akan bertanya-tanya, apakah pasangannya sudah  bosan, atau hal lain yang akhirnya bikin si suami mengalami paranoid.

Kalau pura-pura orgasme terus berlanjut, dikhawatirkan juga akhirnya bisa membuat perempuan tersebut mencari pelarian. Seseorang yang bisa menyelami dia dan mengetahui “need” dia.  Ini biasanya terjadi setelah pasangan memasuki perkawinan, yang cukup lama, sehingga merasa aktivitas seks hanya sebuah rutinitas.

Waduh, bahaya juga, nih. Ternyata meskipun pada awalnya pura-pura orgasmse kita lakukan supaya pasangan nggak selingkuh, justru bisa membuat kita yang melakukan selingkuh. Meskipun saya nggak pernah berpikir bahwa aktivitas seks ini sesuatu yang membosankan dan melakukannya hanya sebatas kewajiban, tapi pernyataan dr. Anita membuat saya lebih aware mengenai hal ini.

Tapi saya percaya, sejauh saya dan suami bisa melakukan komunikasi dua arah dengan dengan lancar, dan saling terbuka, berbagai dampak negatif yang dipaparkan dr. Anita di atas tidak harus kami rasakan.

Lagipula mengingat suami saya juga bukan tipe yang suka maksa dan memiliki tingkat kesabaran berjuta-juta kali lipat dari saya, pasti dia akan paham jika memang lagi nggak mood untuk bercinta.

Memang, jujur itu di atas segala-galanya. Seperti yang diungkapkan Mahatma Gandhi, “Truth never damages a cause that is just.”

 

 


7 Comments - Write a Comment

Post Comment