Family Friday: Erwin Arnada, “Berkeluarga Mengubah Hidup Saya”

Masih inget nggak soal pemberitaan yang menyangkut majalah Playboy Indonesia? Nah, salah satu orang yang nggak bisa lepas dari kasus ini adalah Erwin Arnada, Pemimpin Redaksi dan orang yang berhasil membawa majalah pria dewasa ini ke Indonesia. Kebetulan, dia adalah Om saya sendiri, adik bungsunya mama saya. Seingat saya, dari dulu Om saya yang satu ini memang selalu punya pemikiran yang out of the box. Termasuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya di industri media. Jadi, nggak heran setiap kali bertemu dengannya, selalu ada berita mengejutkan dan hal-hal baru yang saya dapatkan. Bisa dibilang, Om Erwin inilah salah satu orang yang akhirnya menginspirasi dan menggerakan saya untuk bekerja di media.

Nggak lama setelah keluar dari di penjara akibat kasus majalah Playboy, Om Erwin pun akhirnya memutuskan untuk berumah tangga. Dan, alhamdulillah nggak lama setelah menikah, saat ini Om saya sudah dipercaya memiliki putera yang kini kini berusia 4 bulan. Dante Ray Arnada,  namanya. Setelah menikah dan memiliki anak, Om saya ini mengaku kalau hidupnya berubah total. Selain itu, banyak sekali pemikirannya yang bisa saya petik.

Om Erwin, bersama sepupu cilik saya, Dante :)

Berikut petikan obrolan saya waktu itu dengannya saat lebaran lalu. Mudah-mudahan memberikan insight buat Mommies yang lain, yah!

Berkerja di industri perfilman dengan waktu nggak menentu, bagaimana cara Om Erwin membagi waktu dengan keluarga?

Kebetulan pekerjaan saya sebagai produser film,sutradara dan penulis memungkinkan bekerja di rumah, ya, katakanlah 80 % kegiatan. Kecuali saat syuting film yang dilakukan di luar rumah. Jadi bisa maksimal berkumpul dengan keluarga. Sudah jadi rencana saya juga, kalo sudah berkeluarga, tidak boleh seambisius saat lajang, hahaha.

Ada waktu atau momen tertentu nggak yang biasa Om Erwin lakukan dengan keluarga? Atau berjalan apa adanya saja?

Karena hampir tiap waktu bersama anak istri, semua go with the flow aja. Paling secara khusus yang kita rencanakan itu kalau bepergian Sabtu dan Minggu. Kalau bisa ke tempat yang bisa kita jadikan tempat belajar Dante mengenal semesta. Meski baru 4 bulan, saya dan Hevie selalu memilihkan tempat jalan jalan yang memungkinkan bagi Dante berinteraksi dengan alam. Misalnya, ke penangkaran kupu kupu di Tabanan, Museum, Dog Show, main ke sawah atau pantai favorit kami di Bali.

Biasanya kami ajak juga Husky piaraan kami. Mereka sudah jadi sahabat sekaligus penjaga Dante. Pokoknya, sejak dini, kami ajarkan Dante mencintai alam dan mahluk hidup lain. Terakhir kami ajak Dante ke Desa Petulu untuk lihat puluhan ribu burung Kokokan yang hidup di sebuah desa di Gianyar. Unik, puluhan ribu burung itu hidup membaur dengan penduduk desa. Saya nggak mau Dante masa kecilnya dihabiskan di mal atau main gadget saja. Dia harus merasakan kehidupan yang balance.

Banyak pasangan yang bilang, setelah memiliki anak akan banyak perubahan yang terjadi. Bagaimana dengan pandangan Om Erwin, setuju dengan hal tersebut ?

Bagi saya kelahiran anak memang merupakan proses perubahan hidup yang ekstrem. Truly life changing ! Apalagi, saya baru memutuskan berkeluarga saat usia 47 tahun. Kebiasaan hidup melajang, tiba tiba berubah total. Dulu saya punya 100 teori tentang hidup berkeluarga dan nol rencana. Itu saya pakai buat alasan hidup melajang. Eh, sekarang terbalik. Saya punya 100 rencana untuk keluarga, dan nol teori. Sebelum berkeluarga saya suka sekali pekerjaan yang menantang dan penuh risiko. Nggak suka yang biasa biasa saja dan main aman. Dari bikin film berbagai genre sampai bikin majalah yang membuat saya dipenjara 9 bulan. Tapi sekarang, saya sudah nggak pengen lagi main main dan ambil risiko. Sudah nggak ambisius, mau yang safe aja. Saya nggak mau keluarga saya jadi pusing karena pekerjaan saya.

Dengan hadirnya Dante tentu memberikan warna baru untuk keluarga Om Erwin,  saat ini ada ritual baru nggak yang dilakukan bersama Dante?

Ada! Bikin lagu buat menidurkan Dante, hahaha.

*Om Erwin bersama keluarga kecilnya

 

Mbak Hevie saat ini memberikan ASIX untuk Dante, apa saja sih dukungan Om Erwin untuk membantu Mbak Hevie?

Sejak Hevie hamil, saya sudah mengharuskan dia memberi ASI ekslusif buat Dante. Saya rada cerewet soal ini. Bahkan ke dokter kandungan yang nangani persalinan Hevie saya bilang berulang kali, saya hanya mau ASI, ASI dan ASI buat anak saya. Pas bersalin di RS di Bali saya temuin semua perawatnya. Saya bilang, “anak saya jangan diberi susu formula, yah. Dua hari pertama air susu hevie belum keluar. Ada suster yang coba kasi sufor. Katanya, “Sudah dua hari ibunya nggak keluarin ASI, nanti anaknya sakit, loh. Beri susu formula dulu aja”.  Saya cuekin tuh suster sampe akhirnya dia diam sendiri. Keluar dari RSB air susu hevie masih belum keluar. Saya inisiatif minta bantuan komunitas Ayah ASI, Aimi ASI di Bali. Mereka kirim konselor ke rumah. Setelah itu , ngucur deh tuh ASI buat Dante. Happy banget saya. Kengototan saya akhirnya membawa hasil.

Bisa dibilang menyusui merupakan salah satu cara ibu membangun bonding dengan anaknya, kalau seorang ayah tentu memiliki cara yang lain. Bagaimana cara Om Erwin?

Saya punya cara tersendiri. Setiap habis menyusui, Dante langsung saya gendong sampe tertidur. Bisa dibilang kalo soal meninabobokan Dante, saya lebih jago dari Hevie. Saya selalu menyanyi buat Dante. Kata Hevie saya mengarang lagu buat menidurkan Dante, ada seratus lagu kayaknya, hahaha. Memang, sih, saya selalu mendendangkan lagu yang lirik dan nadanya saya karang sendiri. Absurd, tapi mengasikkan.

Sejauh mana, sih,  keterlibatan Om Erwin dalam pengasuhan Dante?

Hevie melibatkan semua kegiatan pengasuhan Dante, kok. Mulai pilih popok, nyimpen ASI hasil pompaan sampe hal detail lainnya. Semua, deh. Kebetulan saya punya waktu untuk itu semua. Jadi enak saja ngejalanin semuanya.

Susahkah menjadi seorang ayah?

Jadi ayah atau suami, bukan soal susah atau mudah. Tapi soal tanggung jawab dan komitmen yang besar banget. Mulai dari bayi sampe Dante tumbuh berkembang kan jadi urusan kita. Beruntung, saya berasal dari keluarga besar,  9 bersaudara,  jadi sedikit banyak sudah terbiasa melihat pertumbuhan keponakan-keponakan. Bagaimana mereka dididik dan diarahkan.

Menjadi ayah atau orangtua tidak ada sekolahnya, bagaimana cara Om Erwin untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan peran Om sebagai kepala keluarga atau ayah?

Seperti saya bilang tadi , belajar dari keluarga besar. Saya terbiasa main sama keponakan sejak bayi, kok. Sering lihat bagaimana ortu mereka urus anak anak. Sekarang lebih mudah karena banyak informasi yang bisa didapat dari media. Semua persoalan bayi kayaknya ada ‘jawabannya’ semuanya tuh. Semua sahabat saya itu juga sudah punya anak remaja. Saya tinggal tanya mereka aja Do and Dont’s nya

Arti keluarga untuk Om Erwin?

Keluarga adalah sarana untuk membuat kita ingin selalu jadi baik, benar dan punya tanggung jawab.

Di mata Om Erwin sendiri, Om Erwin sosok suami atau ayah yang seperti apa, ya?

Saya mau Dante mengenal ayahnya sebagai seorang yang selalu menghormati orang lain tanpa pandang derajat. Sebagai seseorang yang menghargai kehidupan. Saya ingin Dante juga menyelami pemikiran saya “Dont hurt other people. Go play with art and nature”

Rencananya ingin punya anak berapa?

Satu aja duluuuuu, hahahhaa. Tapi mau lagi punya anak perempuan. Soalnya sudah punya nama bagus dan beberapa baju buat bayi perempuan. Dua tahun lagi lah kalo diijinkan Allah.

————-

Amiin…. mudah-mudahan keinginan Om saya ini bisa terkabul, ya :)

 


Post Comment