Cerita Tentang Menggendong

Ini bukan cerita aneka merek gendongan ya, tapi bagaimana cara kita menggendong bayi. Jadi ceritanya, karena beberapa waktu lalu dokter rehab medik Najma, dr.Sely di klinik Anakku, komentar tentang cara menggendong saya, yang menurutnya, sebagai salah satu penyebab juga keterlambatan tumbuh kembang Najma.

Saya biasa menggendong Najma dengan gendong depan di mana Najma menghadap saya. Menurut beliau, saya harus menggantinya dengan menggendong depan juga tetapi Najma menghadap keluar.

“Biar dia melihat dunia luar, Mah, dan biar dia jadi lebih berani, dan ga tergantung Mama lagi..” kata beliau.

*gambar dari sini

Huaaa mau nangis rasanya. Mau nangis karena saya seperti diingatkan harus segera kembali ke ‘jalan’ yang benar. Entah sengaja atau nggak, kondisi dengan lahir prematur mungkin membuat saya juga suami tentunya ingin terus ‘mendekapnya’, yang akhirnya malah membuatnya merasa ‘nyaman-aman’ untuk nggak berusaha lebih giat lagi dengan tumbuh kembangnya.

Mau nggak mau jadi memunculkan pikiran tentang ‘filosofi gendongan’ ini, benar juga kata bu dokter. Ada 3 macam cara menggendong yang saya kenal:

Gendongan bayi baru lahir, menopang tubuh mungilnya di buaian kita, mata saling menatap, berkomunikasi dengan berbagai macam ekspresi, saling mengenal satu sama lain “aku ibumu, dan kamu anakku” itu indah banget, melenyapkan segala sakit dan lelah..

Gendongan depan menghadap dalam, mendekapnya erat, mata masih saling menatap, begitu juga berbagai macam ekspresi untuk berkomunikasi dengannya, kini kita sudah mengenal lebih jauh “aku anakmu, dan kamu ibuku” itu indah banget, membuat makin erat mendekapnya..

Gendongan depan menghadap luar, saatnya tiba, membimbingnya melihat ‘dunia’, melihat berbagai macam bentuk dan rupa, warna dan suara, berkomunikasi dengan ‘mereka’, saling mengenal juga merasakan, kelak dia akan menantang ‘dunia’nya untuk nggak disimpan di hatinya, tapi di tangannya “Nak, ibu insyaallah selalu ada di sini..”

Dan sekarang, tiba untuk saya dan suami membimbingnya melihat ‘dunia’, Najma bukan gadis mungil setahun lalu, dia sudah tumbuh dan berkembang. Kalau dipikir ini semua tentang bagaimana kesiapan juga kerelaan kami sebagai orangtua, ‘melepaskan’ anaknya untuk melihat ‘dunia’.

So far, setelah mengganti cara gendong dengan menghadapkannya keluar, Najma terlihat sangat menikmatinya, melihat ‘dunia’ ke segala penjuru.

“Iya nak, dunia bukan Ummi saja kok” :’)

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment