Manajemen Waktu (dan Perasaan) Ibu Bekerja

by: - Tuesday, September 17th, 2013 at 7:30 am

In: Parenting Psychologist Working Mommies 7 responses

0 share

Saya nggak ingat hari apa waktu itu, tapi pastinya weekday, hari kerja dengan load kerja yang lagi lumayan tinggi. Saya sampai rumah sekitar jam 7-an malam. Kantor saya bubar jam 5, dan dari kantor saya mampir ke Pondok Indah Mall untuk window shopping dan ngemil. Ya semacam me-time yang menurut saya waktu itu, saya deserve karena saya seharian sibuk kerja.

Sampai rumah,  seperti biasa saya disambut oleh Hanami (3 tahun waktu itu usianya). Dia selalu menghampiri ke garasi tiap saya pulang. Seneng banget. Masuk ke rumah, seperti biasa saya meng-update Hanami dan juga nanny-nya (sebut aja namanya Ira), apa saja yang Hanami lakukan hari itu, gimana makannya, mainnya dan lain-lain, karena memang saya tidak menelepon sepanjang hari.  Setelah selesai ngobrol selesai, saya makan, dan Hanami naik ke kamarnya sama Ira untuk ganti baju, siap-siap tidur, sambil menunggu saya makan.

Sebelum saya selesai makan, Ira turun dari kamar Hanami. “Hanami udah tidur?” tanya saya. “Udah, kak.” jawab Ira. OK, saya tenang aja meneruskan makan. Lalu, tiba-tiba Ira menghampiri saya di meja makan, dan bilang, “Kak, aku mau ngobrol sebentar, boleh?” Tentunya saya iya-kan walau rada deg-degan, ada apa nih, mau mudik kali ya.

“Kak, aku mau kasih saran boleh ya,” Ira mulai obrolannya dan saya mulai menata hati aja. “Hanami kasian kalau sampai rumah kak Lia nggak langsung mandi dan terus sama dia. Kalau nggak langsung mandi, kan sofa dan tempat tidurnya kotor kena baju dari luar rumah, Hanami kan kulitnya sensitif. Kalau nggak langsung mandi dan cepet-cepet makan, Hanami keburu tidur. Terus seharian juga nggak nelepon. Hanami nggak nyariin tapi kan jadi nggak pernah ngobrol, cuma pagi aja sebentar pas sebelum berangkat. Mandiin dan makan juga sama saya, jadi kurang waktu sama Kak Lia dan Kak Adit (suami saya). Kalau weekend, Kak Lia sama Kak Adit juga kadang kerja. ”

Semacam geledek.

Sebenernya ada pilihan untuk saya ngejerit: “Berani-beraninya kamu, ra. Kamu nggak tau kan rasanya jadi saya, jadi ibu, istri dan kerja”.

Tapi, entah kenapa, setelah Ira ngomong gitu, reaksi saya: “Oh gitu (biar tetep cool ceritanya :p). Ok makasih ya sarannya. Nanti saya obrolin sama Kak Adit deh”.

Jadilah, malam itu, pas suami pulang, kita diskusi panjang lebar bahas ini. Dan kita mengakui, ada yang nggak beres dengan manajemen waktu kami, kesadaran soal anak, dan hal-hal seputar ini. Berat awalnya, ada saling menyalahkan, ada saling tunjuk siapa yang harusnya gimana, tapi kemudian kami sepakat untuk berubah dan langsung dimulai keesokan harinya.

Perubahan untuk hal seperti ini memang harus drastis, menurut kami waktu itu.

Hanami mandi pagi sama saya, sarapan, makan siang, tidur siang main sore sama Ira. Saya menelpon ketika kepikiran Hanami. Biasanya saya ignore feeling ini, karena saya taunya kalau sering-sering telepon, nanti dia malah jadi sedih. Padahal, setelah saya cari referensi lagi, ini adalah alarm yang harus saya jaga “nyala”nya.  Semakin saya ignore alarm ini, lama-lama dia tidak muncul lagi. Berkaitan dengan alarm ini, sebenarnya memang untungnya banyak di saya. Yah pastinya ada juga di Hanami, meski ibunya nggak ada tapi ibunya nggak melupakan dia. Dia nggak merasa dicuekin. Alarm ini menjaga bonding saya dengan dia (yang sudah saya bangun ketika memberi ASI ke Hanami selama 2,5 tahun). Alarm yang saya dapat sepaket dengan menjadi ibu.

Kemudian, saya pulang lebih cepat. Meeting malam kalau tidak urgent, saya usahakan geser di jam kantor aja. Kalau pun load lagi tinggi, saya usahakan kalau hari ini sudah pulang malam, esok harinya pulang cepat. Nggak ada acara window shopping random lagi. Sampai rumah langsung mandi dan ngelonin Hanami. Suami ikutan bareng pas dia bisa pulang lebih cepat. Dan pada akhirnya dia mengusahakan untuk bisa pulang lebih cepat.

O iya, hasil diskusi kami soal me-time adalah, untuk kami sebenernya saat kerja itu sudah me-time. Pekerjaan yang alhamdulillah memberikan kenyamanan hati dan juga penghasilan. Me-time yang berkaitan dengan leyeh-leyeh? Mostly, dilakukan malam setelah anak-anak tidur. Nonton DVD atau ngemil di depan tv. Tetap ada ngabur ngopi atau nyalon. Di waktu-waktu tertentu.

Dari perubahan ini, siapa yang dapat manfaatnya? Hanami? Mungkin iya, tapi saya nggak tahu pasti, karena dia belum bisa mengungkapkan perasaannya secara lengkap dan verbal. Manfaat ke tumbuh kembangnya? Semoga.

Yang pasti manfaatnya buat saya. Saya mulai review satu per satu apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya. Capek? Nggak siap dengan konsekuensi jadi pekerja, ibu dan istri? Ya, wajar saja sih. Kadang kontrol hilang. Tapi, saya inget-inget lagi, ini semua pilihan saya. Menjadi istri, ibu dan pekerja. Lengkap dengan konsekuensinya dan menjalaninya dengan kelegaan hati.

Thanks to Ira. Pelajaran bisa datang dari mana aja.

Sekarang usia Hanami sudah 5 tahun 3 bulan. Dan sudah ada adiknya Ainikko, 9 bulan.

Beberapa hal yang selalu saya ingat dari peristiwa ini:

  1. Merasa bersalah bukanlah hal untuk dihindari, tapi untuk disyukuri, bahwa saya masih dikasih alarm sebagai ibu.
  2. Menjaga interaksi. Saya sekarang tipe yang percaya quantity time dan quality time sama pentingnya. Tanpa quantity sulit tercapai quality. Meski saya tidak di rumah, saya berusaha menjaga interaksi dengan Hanami. Lewat telepon, terutama. Hanami juga bisa telepon saya kapanpun dia mau. Begitu juga ayahnya.
  3. Pamit saat berangkat dan mengabari apabila ada perubahan waktu pulang.
  4. Memeluk saat kita berpisah di pagi hari.
  5. Ngobrol sebelum tidur, kruntelan, baca buku bareng adalah momen yang saya tunggu-tunggu. Semoga juga buat mereka.

Nggak cuma 5 poin ini aja, masih banyak poin menarik seputar manajemen waktu (dan perasaan :p) untuk ibu bekerja. Yang saya anggap paling realistis dan cocok untuk saya adalah dari 24hourparenting.com (diasuh oleh psikolog dan ortu) berikut ini http://bit.ly/untukibubekerja.

Poin-poin ini meski singkat tapi nyolek saya, bahwa memaafkan diri sendiri dan mencoba lagi adalah hal yang terpenting untuk menjadi orangtua (dan mungkin untuk hal apapun).

Yulia Indriati adalah content manager di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua .

Share this story:

Recommended for you:

7 thoughts on “Manajemen Waktu (dan Perasaan) Ibu Bekerja

  1. mb yulia i feel you..sebelumnya sama persis dengan mb waktu sy dan suami benar2 terbatas untuk main atau ngobrol dengan anak-anak (5 thn dan 3 thn) hanya 1 -2 jam di malam hari ketika kami pulang kerja. Lebaran kmrn suster yang mengurus anak-anak mudik dan nggak kembali, saya berusaha agar rutinitas suami tdk terganggu jadi sy yg harus handle semua situasi tanpa suami merasa ada perbedaan (karena itu kesepakatan dgn suami ketika sya ijin berkerja). Saya yg mandiin anak2, nyuapin makan, nyiapin bekal sekolah (TK dan PG), mandikan (wiken) dan menidurkan, semua yang biasa dikerjakan suster. Awalnya berat banget, capek, riweh, ribet, stress tapi lama kelamaan sy mulai terbiasa secara fisik maupun mental bahkan jujur akhirnya sy merasa menikmatinya. Saya merasa menemukan apa yang hilang dari hubungan saya dengan anak-anak. Skrng sy sudah punya suster baru tapi semua itu tetap sy kerjakan (sama seperti ketika tidak ada suster) dan suster hanya berperan sebagai back up terutama ketika anak-anak stay dirumah oma mereka sepulang sekolah untuk menunggu saya dan suami pulang kerja…tapi saya enjoy and happy ^ ^

  2. I feel you, mbaknya!

    Tapi untung Langit kalau lihat ibunya datang, sengantuk apapun dia bakal nunggu. Jadi kalau udah ngantuk banget, gue yang ngalah. Nggak makan, cuma ganti baju bebersih terus nidurin Langit, deh. Pasang alrm untuk bangun untuk makan :D

    Kalau udah tau bakal balik malam banget, mendingan titip ke mbaknya untuk ditidurin aja dulu biar besok paginya bisa bangun lebih pagi dan bisa ada kelonggaran waktu 10-15menitan sebelum berangkat sekolah. Dilema oh dilema :D

  3. Jleeeebbbb bgt.
    langsung praktek, tlp art di rumah,, nanyain Akhtar (10m) lagi apa?minta di dengerin ke anak, sekedar “haloo akhtar sayang,,lagi apa nak”.. Walopun tidak ada jawaban dan au kalo hp art malah dimasukin mulutnya -__-
    Tapi emang rasanya bedaaaa, bedaaaaaaaa banget. Apalagi si papa berada nun jauh d luar kota..
    Rasanya bener2 haruuuu #meweksudah.

    Many many thanks ya mbak ceritanya ˆ⌣ˆ

  4. *langsung sms guru di tempat daycare Rasya*
    rasanya ga kebayang kalau saya bekerja di Jakarta. sekarang aja kerja di kota kecil, yang jamnya jauh2 lebih fleksibel, saya sering merasa bersalah. apalagi pas ART lagi ga ada, terpaksa anak di daycare dekat rumah. setiap dia menangis karena saya tinggal, rasanya patah hati terus. tapi kita emang ga boleh terus2 merasa bersalah yaa, karena emosi negatif itu bisa menular pada anak. terima kasih sudah sharing :)

Leave a Reply