Motherhood Monday: 3B For Boit, Bunga, And Books!

Beberapa tahun lalu, adik dan suami (yang dulu masih berstatus pacar) mengajak saya ke sebuah toko di jalan Sultan Agung, Bandung. Adik dan pacar, sih, liat-liat beragam kaos produksi God.Inc, sepatu new rock, berbagai kaset, CD, hingga plat atau vinyl. Saya kepincut sama koleksi buku-bukunya yang tidak lazim dan harganya relatif murah, berujung dengan berkenalan dengan Boit, yang waktu itu saya kenal sebagai shop keeper disana. Beberapa waktu kemudian, ketika saya kembali untuk membeli buku, saya sedih karena book section di toko ini menghilang. Ketika bertanya pada penjaga toko saat itu, jawabannya “sms saja ke Boit”, sambil diberikan sebuah nomor hp. Ini adalah awal perkenalan saya dengan perempuan yang juga seorang ibu dari Bunga Putri Raditha (7 tahun).

Di tahun 2006. Boit mengabarkan kalau tokonya yang bernaman Omuniuum sudah buka kembali di depan UNPAR, Ciumbuleuit, Bandung! Iya, sebuah toko buku yang mempunyai sekitar 3000-an koleksi buku baru dan buku bekas ini bisa membuat dada para pecinta buku bergetar. Kalau saya, sih, biasanya jika menemukan koleksi buku langka yang harganya super murah, atau koleksi buku anak yang pernah saya punya dulu! Lalu ada apa dengan Boit, Bunga, dan Buku? Ini dia ceritanya!

Boit, awal mula Omuniuum gimana sih?

Awalnya dulu ketika rundingan sama partner yang tak lain dan tak bukan adalah suami sendiri, mau bikin toko terus ditanya mau punya toko apa, saya jawab “toko buku!”. Sebetulnya mikirnya sederhana, karena saya punya koleksi buku banyak di rumah saat itu dan bisa dijadiin modal awal.

Bisa jatuh cinta sama buku sebegitu besar sampai banyak sekali koleksinya dan bisa dijadiin toko itu gimana ceritanya?

Ini adalah salah nyokap, haha. Ibu saya bukan orang yang intelek, bahkan beliau nggak suka baca. Tapi entah kenapa, untuk kedua anaknya sedari kecil beliau senang membeli buku bacaan. Jadi saya biasa pegang buku bergambar dari umur 4-5 tahun dan mulai beralih baca novel sekitar umur 8-9 tahun.

Emm, dulu waktu kecil sampai SMP jarang keluar rumah. Jadi kerjaan saya, ya, baca buku seharian di kamar dan mungkin juga saat itu tidak terlalu banyak hiburan seperti saat ini, jadi setiap main ke rumah siapapun, pasti ketemunya sama buku atau majalah. Inilah kenapa baca buku menjadi kebiasaan buat saya, karena memang rutin dilakukan dan menyenangkan.

Bagaimana cara mengatur waktu antara mengasuh anak dengan menjaga toko?

Waktu bayi sampai umur 3-4 tahunan sebelum sekolah, sih, biasanya dibawa atau dititip ke mertua. Begitu sekolah Bunga ditinggal di rumah sama ibu saya. Biasanya ketemu pagi sampai Bunga berangkat sekolah jam berapapun, abis Bunga berangkat, baru saya pergi ke toko. Makanya jadwal saya di toko selalu nggak jelas karena ngikut jadwal Bunga sekolah. Sulitnya paling karena pulangnya malam, biasanya begitu sampai rumah, Bunga pasti sudah tidur.

Ada pengaruh nggak antara kecintaan sama buku dengan pola asuh anak? Bunga jadi lebih cinta sama buku dibanding anak seusianya?

Wah, kalau dibilang lebih suka baca atau enggak,  hmm, nggak tahu juga! Soalnya saya  nggak pernah bandingin sama anak lain. Tapi yang pasti gara-gara lingkungannya terbiasa sama buku, Bunga nggak pernah nyoret atau merusak buku dengan sengaja. Biasanya buku rusak karena terlalu sering dibuka-buka. Belajar menghargai buku dan menghargai waktu membaca setiap orang.

Dari usia berapa Bunga dikenalin sama buku? Buku pertamanya apa?

Dari bayi. Tapi bisa dibilang buku pertamanya Bunga itu Goodnight Moon – Margaret Wise Brown. Sekitar umur satu tahun, setiap malam, Bunga selalu minta dibacakan buku tersebut.

Ada buku favorit yang jadi favorit untuk acuan pola asuh?

Totto Chan. Saya suka cara kepala sekolah, Pak Kobayashi mendidik anak-anak sekolahnya. Tapi inspirasi paling besar datang dari Winnie The Pooh versi klasik milik A.A. Milne (bukan terbitan Disney, ya!). Ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran terutama dari persahabatan Winnie The Pooh dan Christopher Robin serta teman-teman yang lainnya.

Oh, iya, baca buku kan jadi kebiasaan Boit. Nah, pas sudah punya anak, bagaimana cara mengatur waktu baca untuk memenuhi me-time?

Hmm, salah satu cara adalah menyediakan tempat untuk menyimpan buku di kamar mandi. Lalu menunggu semua yang mesti diurus sudah tidur, baru mulai membaca. Jangan lupa biasakan anak melihat kita membaca buku, jadi begitu anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi dua arah, saya memberitahu jika saya sedang membaca maka Bunga tidak boleh mengganggu. Sebaliknya, jika Bunga sedang ikut ke toko, maka Bunga akan mendapat kesempatan untuk browsing di rak, buku apa yang mau ia baca. Nanti kami akan membaca buku pilihan masing-masing sambil duduk bersebelahan.

Ada kiat untuk memilih buku anak?

Tergantung umurnya, ya! Tapi banyaknya buku yang saya bacakan ke Bunga ketika ia belum bisa baca sendiri sih,  pas kebanyakan buku bergambar dari luar, semacam dr. Seuss, Margaret Wise Brown, serial Tini dan buku- buku semacam mengenali benda-benda, warna, dan angka. Oh iya, biasakan untuk mengajak anak main ke toko buku, anggarkan dana untuk membeli buku. Satu lagi, belanja bukunya juga bisa di tempat buku bekas, tempat loak ini harganya jauh lebih murah tapi tetap mendapat buku dengan kualitas yang masih baik. Dan jauhkan anak dari televisi nasional, hehe!

Quotes dari buku favorit yang jadi tag Boit dalam mengasuh Bunga?

“Rabbit’s clever,” said Pooh thoughtfully.
“Yes,” said Piglet, “Rabbit’s clever.”
“And he has Brain.”
“Yes,” said Piglet, “Rabbit has Brain.”
There was a long silence.
“I suppose,” said Pooh, “that that’s why he never understands anything.”
― Winnie The Pooh – A. A. Milne

***

Kalau kata Ernest Hemingway, “There is no friend as loyal as a book!”, kan? Semoga cerita Boit, Buku dan Bunga menginspirasi hari Senin ini, ya! Have a good day, Mommies!


Post Comment