Anak Puber? Ini Yang Harus Dilakukan!

Usia Bumi memang masih 3 tahun, masih jauh dari masa pubertas. Tapi, dari beragam berita yang tengah mencuat belakangan ini, seperti kasus Miley dan Dul, bikin jantung saya deg-degan. Saya saja yang cuma tau mereka sebatas lewat pemberitaan, nggak ada hubungan darah sama sekali, waktu dengar kejadian tersebut rasanya jantung mau copot. Lha, gimana perasaan orangtua mereka, ya? Maia, misalnya. Saya yakin, saat ini perasaannya benar-benar kalut. Antara trauma, sedih, kecewa, dan perasaan kacau balau lainnya yang berbaur jadi satu. Atau bahkan, kejadian yang menimpa Dul justru bikin pentolan Ratu ini jauh lebih syok dibandingkan saat dirinya harus bercerai dengan Ahmad Dhani. Entahlah….

Yang pasti, kejadian tersebut seakan makin menegaskan kalau memang masa puber merupakan saat yang paling sulit. Tidak hanya buat anak-anak, pun orangtuanya karena harus ekstra hati-hati dalam mendampingi masa perubahan hidup anak-anaknya. Gimana nggak waspada, yah, habisnya bisa dibilang sebagai orangtua kita ini serba salah. Terlalu membebaskan anak dan memberikan banyak fasilitas,  takutnya bisa kebablasan. Sebaliknya, kalau selalu dicekokin dengan norma agama atau pendididikan yang cenderung mengekang, anak juga bisa sangat konservatif. Menolak dengan hal-hal baru. Wah, bisa ketinggalan zaman nanti.

Biar nantinya nggak kaget dan bingung saat menghadapi Bumi puber, saya pun mencari tahu bagaimana, sih, sebaiknya orangtua bersikap untuk menghadapi masa puber buah hatinya. Sebagai orangtua saya harus punya bekal yang kuat untuk menghindari supaya Bumi nggak salah langah. Berikut obrolan saya dengan seorang psikolog, Cherry Zulviyanti Riadi Lukman,  Chief Consultant dari Experd Consultant.

Banyak yang bilang  masa pubertas dilewati dengan penuh gejolak, kenapa sih?

Masa pubertas memang kerap diwarnai dengan gejolak, karena seorang anak menghadapi perubahan hormonal yang besar, sehingga mempengaruhi perkembangan secara fisik ataupun psikologis, yang akhirnya berujung kepada kematangan seksual. Masa pubertas ini memang terjadi pada masa perkembangan anak menjadi seorang remaja, dan masa ini merupakan perubahan yang besar, di mana anak dituntut mulai menunjukkan sikap yang dewasa, sementara ia belum tentu sudah cukup dewasa walaupun secara fisik mulai menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Belum lagi perubahan suasana hati yang kerap menimbulkan gelombang dalam interaksi seorang remaja dengan lingkungan sekitarnya. Dan hal ini disertai dengan berkembangnya pergaulan anak dengan kelompok seusianya, dan bahkan mulai melihat teman-teman sebayanya sebagai pihak yang lebih dibandingkan dengan keluarganya.

Biasanya, perubahan apa saja, sih, yang terjadi di awal masa pubertas?

Pada anak laki-laki dapat dilihat perubahan pada testikular atau penis, tumbuhnya jakun, tumbuhnya bulu pada wajah dan daerah kemaluan. Selain itu ada perubahan lain, misalnya suara anak laki-laki yang membesar, berkembangnya otot sehingga dada menjadi bidang dan bahu melebar. Selain itu tentunya jerawat dan bau tubuh yang khas. Hal ini merupakan perubahan fisik yang sangat mudah diamati oleh orang tua untuk mengetahui apakah sang anak sudah mulai mengalami pubertas atau belum. Perubahan yang terjadi pada anak perempuan dan anak laki-laki memang berbeda, dan masing-masing membutuhkan penanganan yang berbeda untuk masalah perkembangan fisik maupun psikologisnya.

Jadi, antara anak perempuan dan anak laki-laki, pendekatan orangtua juga harus berbeda?

Secara garis besar, hal yang dapat dilakukan oleh orangtua kepada anak remajanya, baik anak laki-laki maupun perempuan, dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan dan pola asuh yang dapat diterima serta dipahami oleh para anak remaja tersebut. Orangtua dapat memahami bahwa masa remaja berbeda dengan masa kanak-kanak ditinjau dari berbagai segi.  Untuk menangani dan menghadapi para remaja ini, orangtua dapat mulai mengubah ataupun menyesuaikan cara mereka melakukan komunikasi dengan para remajanya. Orangtua juga mulai lebih tegas dalam menetapkan aturan/ disiplin dan memberikan penjelasan yang dapat anak mengerti dari penetapan aturan tersebut. Orangtua juga dapat mengajak para remajanya untuk lebih kritis dalam memandang suatu permasalahan, mengajak mereka untuk melakukan banyak pertimbangan sebelum melakukan tindakan untuk menghadapi masalah yang ada. Orangtua juga dapat menjelaskan manfaat positif ataupun akibat yang dapat merugikan dari setiap alternatif penyelesaian masalah yang ada. Selain itu, yang tak kalah pentingnya, orangtua perlu memberikan penguatan motivasi kepada para remajanya agar mereka bisa menghadapi masa pubertas ini dengan pandangan dan sikap yang positif.

Saya pernah baca dalam beberapa artikel, katanya saat ini banyak anak-anak yang mengalami masa pubertas sangat cepat. Bahkan ada yang di usia 6 tahun. Wajarkah?

Patokan usia masa pubertas sangat bervariasi, namun rata-rata berkisar antara usia 9-14 tahun untuk anak perempuan dan usia 10-17 tahun untuk anak laki-laki. Rentang usia yang besar ini dapat dengan mudah diamati pada beberapa anak yang terlihat sudah sangat matang di usia belia, sementara anak lainnya masih seperti anak-anak. Namun demikian usia terjadinya masa pubertas ini semakin bergeser, pada jaman Opa- Oma kita dulu adalah wajar seorang anak perempuan untuk mengalami pubertas pada usia 10 atau 11 tahun, namun pada jaman sekarang usia 8 tahun mungkin sudah merupakan hal yang jamak dan memang banyak terjadi.

Kenapa bisa seperti itu?

Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya pubertas adalah faktor keturunan. Ibu yang mengalami pubertas dini, umumnya dikuti pula dengan pola yang sama oleh anak perempuannya. Namun demikian ada juga faktor lain yang terlibat di dalamnya, misalnya masalah nutrisi yang berujung kepada pertumbuhan yang terlalu cepat atau lambat. Sementara itu bahan kimia atau hormon yang berada dalam makanan juga bisa berpengaruh pada terjadinya pubertas dini, walaupun memang masih diteliti secara lebih luas.

Banyak dijumpai anak dengan masalah obesitas yang cenderung mengalami pubertas dini. Sementara anak yang banyak berolahraga mengembangkan massa tubuh yang rendah, sehingga cenderung mencegah pubertas dini. Sementara itu dari sisi perkembangan psikologis yang menyertai pubertas juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya tontonan dewasa yang kerap muncul di televisi. Hal ini membuat anak lebih cepat tahu tentang berbagai hal yang harusnya menjadi konsumsi orang dewasa, sementara itu ia secara mental belum siap mengolahnya secara matang.

Ada pendapat yang bilang, kalau anak-anak yang  mengalami masa pupertas terlalu dini bisa berisiko. Akan mengalami depresi, gangguan perilaku, serta beragam kelainan psikologis lainnya, benarkah?

Anak yang mengalami pubertas dini bisa mengalami dampak positif ataupun negatif. Contoh dari dampak positif dapat dilihat pada anak laki-laki dengan pubertas dini yang tentunya mempunyai tampilan fisik lebih dari teman-temannya. Ia lebih tinggi, lebih besar, lebih kuat. Ia mungkin lebih populer di antara teman-teman perempuannya, atau lebih dipilih masuk ke dalam tim olah raga, atau bahkan dipilih menjadi pemimpin kelompoknya. Hal ini bisa menimbulkan rasa percaya diri yang kuat, juga kemandirian menghadapi berbagai masalah.

Namun ada pula konsekuensi negatifnya, karena dengan fisik yang lebih, ia pun diharapkan menampilkan tingkah laku yang serupa dengan orang dewasa, termasuk juga tingkah laku yang negatif. Ia bisa jadi menjadi lebih agresif, sehingga potensial terlibat dalam konflik fisik. Selain itu mungkin saja terlibat dalam hubungan seks dini, hal yang harusnya belum menjadi konsumsi seorang remaja.

Apa saja yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa pubertas ini?

Untuk anak perempuan, pubertas dini memang lebih kerap menimbulkan dampak negatif. Penampilan fisik yang berbeda dengan teman-teman sebaya membuatnya merasa malu dan berusaha menyembunyikan dirinya dengan segala perkembangan fisiknya. Ada yang berkembang menjadi gangguan makan, dengan diet yang berlebihan, sementara pada usia ini nutrisi yang baik akan mendukung perkembangan secara optimal. Ada pula yang berkembang menjadi gangguan depresi.

Sementara itu ada juga dampak positifnya karena dengan tubuh yang mendewasa dengan cepat, umumnya anak perempuan mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya yang lebih besar. Namun hal ini juga mengandung akibat lainnya, karena ia menjadi terekspos dengan cepat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seksual, hal yang dapat berujung pada hubungan seksual dini ataupun kehamilan.

Pada kedua jenis kelamin ini, mencoba-coba hal negatif, seperti rokok, obat-obatan, alkohol juga dapat terjadi. Hal ini mungkin diakibatkan oleh tekanan kelompok yang diikutinya, yang biasanya pun berusia lebih besar.

Bagaimana dengan peran orangtua? Apa yang mereka harus persiapkan sebagai bekal untuk anak-anak mereka?

Maka pertanyaannya adalah apakah masa pubertas melulu dikaitkan dengan hal negatif di atas? Tentunya hal ini sangat berkaitan dengan kesiapan anak dan pendampingan orang tua dalam menghadapi masa penuh perubahan seperti ini. Pengetahuan anak akan hal yang akan dialami merupakan bekal baginya untuk bertindak konstruktif dalam menghadapi berbagai perubahan ini. Sementara itu ia pun perlu dibekali dengan pendidikan moral, budi pekerti, dan agama yang kuat, sehingga ia tahu persis apa yang benar dan apa yang salah.

Jadi, lingkungan sangat berperan, ya?

Hal yang perlu disadari adalah bahwa anak remaja adalah tetap anak walaupun tubuhnya telah berkembang seperti orang dewasa. Pikirannya masih belum sepenuhnya matang, sehingga masih perlu pendampingan. Dalam hal ini, kita sebagai orangtua ataupun orang-orang yang ada di lingkungannya perlu tetap memperlakukannya sesuai dengan usianya. Jangan sampai dengan tubuh besarnya ini, ia dapat dengan leluasa mengkonsumsi hal-hal dewasa, misalnya tontonan, rokok, alkohol.

Dalam hal ini lingkungan sosial juga hendaknya mengambil peran sebagai filter, bukannya malah mengenalkan mereka pada hal yang bukan porsi anak remaja. Orangtua sendiri dapat bersikap lebih sebagai teman daripada penjaga dan penghukum, tentunya akan menimbulkan kepercayaan dari para remaja untuk mendiskusikan masalahnya. Selain itu  komunikasi yang continue memberikan kesempatan bagi orangtua untuk mendalami masalah yang ada dan melakukan intervensi secara bijaksana.

Perkembangan pemikiran pada masa ini memang membuat anak bisa memilah apa nilai apa yang hendak ditelan, namun dengan dasar moral dan keyakinan diri yang kuat, maka anak akan dapat dengan bijak mengolah dan mencerna apa yang ada di lingkungannya. Pada masa ini, anak masih mudah terombang-ambing oleh kebutuhannya menjadi bagian dari lingkungan atau lebih tepatnya kelompok sebayanya, misalnya takut ditolak teman-temannya karena tidak merokok. Dalam hal ini, ia memang perlu terus menumbuhkan keyakinan diri agar tetap kuat menghadapi tekanan seperti ini. Hal ini akan membuatnya tetap bisa berteman tanpa mengikuti gaya hidup yang negatif. Pemilihan rekan sebaya dan kegiatan yang positif akan sangat membantunya tetap berkembang dengan baik.

Minta kiat-kiat untuk orangtua untuk menghadapi masa pubertas anak remajanya, dong, Mbak….

Ada beberapa kiat yang bisa saya share, di sini, antara lain:

  1. Pahami dan menerima bahwa pubertas merupakan proses alami yang akan dijalani oleh sang buah hati sejalan dengan proses tahapan perkembangan yang akan anak lalui.  Orang tua tidak perlu panik manakala menghadapi anak perempuannya yang masih  kelas 4 SD sudah mendapatkan haid pertama, ataupun anak laki-lakinya mengalami mimpi basah.  Adanya pemahaman dan penerimaan  yang baik dari orang tua akan mengantarkan anak-anak mereka menjalani masa pubertas secara positif dan menunjang perkembangan mereka menuju masa dewasa secara matang.
  2. Berikan peran dan kepercayaan kepada anak remaja untuk berkontribusi positif dalam keluarga. Ini akan memandu anak untuk mengembangkan sikap bertanggungjawab dan juga meningkatkan rasa percaya diri serta pemahaman dalam diri mereka bahwa mereka merupakan salah satu anggota keluarga yang disayangi, dicintai, dihargai dan diperlukan keberadaannya dalam keluarga.
  3. Tetap tenang dan bijaksana saat menghadapi tingkah laku anak remaja yang tengah bereksperimen dengan hal baru. Misalnya, berlama-lama berdandan, kamarnya ganti suasana seperti toko poster, mencoba aneka peran, dan lain-lain.
  4. Hargai pendapat mereka, antara lain dengan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Pada masa ini, logika mereka semakin matang dan cenderung bersikukuh dengan pemikiran yang mereka miliki. Dalam hal ini, orangtua perlu mengasah kesediaan untuk mendengarkan pendapat anak dan menghargai pemikiran yang mereka miliki.
  5. Menjadi teman dekat anak. Adanya kedekatan hubungan dan harmonisnya jalinan komunikasi yang dibina oleh orangtua dengan sang anak, akan membuat mereka lebih mudah mengungkapkan isi hati dan problematikanya. Prinsipnya, lebih baik anak mencurahkan isi hatinya kepada orangtuanya, ketimbang curhat dan meminta saran dari teman, ataupun mencari solusi dari koran, internet dan hal lainnya.
  6. Kenali lingkungan sosial anak. Orangtua perlu mengetahui siapa teman-teman dekat anak. Hal ini dapat orangtua lakukan secara santai melalui komunikasi yang terbuka dengan anak. Orangtua perlu menghindari pemantauan ataupun berkesan mengintai gerak-gerik anak.
  7. Selaraskan gaya  komunikasi orangtua kepada anak. Orangtua tidak dapat menerapkan gaya komunikasi satu arah/ dominan kepada anak remajanya. Justru orangtua perlu mengembangkan pola komunikasi dua arah yang dapat mendukung proses penyampaian informasi secara efektif dari kedua belah pihak (orangtua – anak). Orangtua dapat menjadikan dirinya sebagai sosok pemberi informasi dan teman berdiskusi yang bijak namun tetap tegas, yang diidolakan oleh anak.

———————–

Aah… setelah obrolan yang cukup panjang ini, sedikit banyak saya jadi punya gambaran apa saja yang harus saya siapkan untuk mendampingi Bumi saat menghadapi masa pubernya nanti. Mudah-mudahan, Mommies yang lain juga bisa mendapatkan masukan juga, ya….

Gambar dari sini dan sini


8 Comments - Write a Comment

  1. Haloo… salam kenal, saya newcomer, mau curhat n tanya dikit ya…. putri saya sudah memasuki masa remaja (11 thn), sudah dpt menstruasi 2x. Dari segi pergaulan saya rasa tidak terlalu mengkhawatirkan, saya kenal teman2nya. Saya suka memeriksa smsnya keteman2nya. Tindakan saya ini bener apa ngga ya ? Saya melakukan itu krn saya pikir ortu harus tau apa yg dibicarakan, dgn siapa atau bagaimana bahasa mereka ke sesama teman2nya. alhamdulillah semuanya tidak ada yg menyimpang. Tp masalahnya saya masih suka merasa bersalah kalo lg periksa2 smsnya..:0
    Menurut teman2 ?

Post Comment