Kesempatan Untuk Bersama

You’ll never miss the water til the well runs dry.

Saking terbiasanya kita pada suatu keadaan, kadang membuat kita terlupa bahwa itu adalah kenikmatan yang tiada tara.

Buat saya, salah satunya adalah bisa kumpul serumah dengan suami setiap hari. Setelah sejarah awal pernikahan kami diwarnai dengan long distance marriage, Bengkulu-Jakarta; Jogja-Jakarta, pada akhirnya Allah mengijinkan kami untuk bersatu kembali. Plus di Jogja pula, tempat di mana kami bermula.

*gambar dari sini

Ga akan ada yang menyangkal, menjalani pernikahan itu  banyak tantangannya. Menyatukan pendapat dari dua kepala dengan level egonya masing-masing. Berjuang menyelesaikan satu masalah dengan kadar ketenangan dan kesabaran yang berbeda. Berkomunikasi menyatukan kata. Memaklumi kebiasaan-kebiasaan besar maupun kecil pasangan kita. Aah..banyak deh pokoknya :D

Ada kalanya, kepada suami, kepada lelaki yang telah kita percaya jadi imam diri, karena segala perbedaan itu tadi, terbesit juga rasa sebal atau sebaaaal sekali. Dan bisa dipastikan begitu pula sebaliknya. Hahaha..Kembali lagi, kami cuma satu dari sekian juta pasangan di dunia. Banyak mesranya, tapi pernah berantem juga :D

Sekarang, setelah melewati hampir 4 tahun pernikahan, saya pribadi masih terus berlatih  menenangkan diri kalo sedang didera ujian rumah tangga. Saya ingat-ingat lagi, laki-laki ini saya yang pilih sendiri untuk menjadi suami saya. Laki-laki ini, saya sendiri yang putuskan untuk jadi pemimpin dan papa dari anak (-anak) saya. Laki-laki ini yang saya percayai untuk berbagi suka, duka, dan menemani seumur hidup saya .Dan semua itu karena cinta yang dihadirkan Allah pada hati saya..untuk dia.  Maka dari itu, saya harus konsekuen dong ya atas segala risiko pilihan saya itu. Saya menikah untuk bahagia. Dan kebahagiaan itu harus saya usahakan sendiri..bersinergi dengan sang suami tentu saja :)

Waktu  yang diberikan oleh Allah untuk bertemu suami setiap hari saat ini, harus saya maknai sebagai ladang amal dan kesempatan ibadah saya sebagai istri. Meski lima hari dalam satu minggu kami bertemu di pagi hari dalam kondisi serba buru-buru karena bersiap pergi ke kantor dan sorenya kelelahan seusai sama-sama bekerja, saya tau, fitrah saya sebagai istri yang punya kewajiban melayani suami tidak bisa jadi terhapus begitu saja. Siapa yang tau, bahwa di dalam setiap cangkir teh hangat yang saya seduhkan untuk suami mungkin akan berbalas sungai-sungai di surga yang bebas kapan saja saya minum kelak?  Siapa yang akan menolak, jika setiap kali saya pijat lembut punggung suami mungkin akan berpahala sebanyak 7 tola emas?  Siapa yang mau melewatkan kesempatan melayani suami yang pulang ke rumah dalam keadaan letih, jika ganjarannya adalah seperti pahala jihad? Siapa yang ga mau, ‘hanya’ dengan saling berpandangan dengan suami penuh kasih sayang akan mendatangkan pandangan penuh rahmat dariNya? Waaw..amazing ya kalo bisa jadi istri sholehah itu. Tapi ya memang sungguh berat perjuangan dan pengorbanannya :D

Saya sadar sesadar-sadarnya sadar, masih jauh kalo mau disebut istri sholehah. Suami pun  begitu, pasti ada kekurangan jika mau disandingkan dengan standar kesholehan Sang Pemilik Jagad Raya. Itulah makanya kami dipertemukan, untuk  terus saling belajar, saling mengingatkan, dan memperbaiki diri lewat lembaga pernikahan.

Semua karena cinta dan hanya karena mengaharap ridho-Nya. Insya Allah bisa :))


3 Comments - Write a Comment

  1. Baca artikel Mom Amaleea, jadi inget lagi kl belakangan ini suka males bgt bikin teh manis panas kalau bapaknya Bumi pulang. Bukannya apa2, sih, habisnya pulangnya juga lagi sering malem2 bgt.. Bukain pintu aja masih dalam kondisi kriyep2, jadi boro2 deh kepikiran ke dapur lagi. Bawaannya mau ke kasur aja. Ngantuuukkk :))) *cari pembenaran*

    Tapi makasih, ya, Mommies, jadi diingetin lagi. Seperti yang Mommies bilang, siapa yang tau setiap kali bikinin teh hangat untuk suami, akan berbalas sungai-sungai di surga yang bebas diminum kapanpun. Amiiin…..

Post Comment