Pilah-Pilih Gaya Mengasuh

Suatu sore, mata saya sedang berseliweran di timeline Twitter, dan terhenti pada pemberitahuan adanya event seminar parenting. Saya menarik napas dan berpikir, “Here comes another one.” Saya teringat pada beberapa booklet seminar yang tersimpan rapi dalam map arsip saya. I have nothing against parenting seminars. Jika ada topik yang menurut saya menarik, saya akan bela-belain mengikuti.  Hanya saja, setelah beberapa kali mengikuti seminar parenting dengan expert yang berbeda-beda, saya justru menemui gaya pengasuhan yang kadang sangat berbeda dari satu expert dengan yang lain. Secara positif, hal ini bisa memperluas pemahaman dan wawasan, tapi di sisi lain, kadang justru membuat gamang.
Pada masa keberlimpahan informasi ini, orangtua dihadapkan pada begitu banyak gaya pengasuhan. The world is in our hand. Tanpa diminta, puluhan artikel seputar saran maupun tren terbaru dalam pengasuhan datang ke pangkuan kita setiap harinya.

Ada berapa jenis sih, gaya pengasuhan itu? Setelah melakukan semacam “riset”, saya menemukan beberapa yang lazim disebut-sebut dalam kancah psikologi pengasuhan, di antaranya:

  • Instinctive parenting: Paham ini mengajak orangtua mengandalkan intuisi atau “go with your gut.” Hasilnya akan berupa gaya pengasuhan yang sangat personal. Dan kemungkinan besar, orangtua akan melakukan cara pengasuhan yang paling dikenalnya, yaitu dengan bagaimana dia dibesarkan.
  • Attachment parenting: Bertujuan agar orangtua dan anak membentuk ikatan emosional yang kuat. Penganutnya juga cenderung memilih kelahiran secara normal, co-sleeping, baby wearing, extended breastfeeding, dsb.
  • Helicopter parenting: Orangtua terus-menerus berinteraksi dan sering mengintervensi hidup anak-anaknya.
  • Authoritative parenting: Orangtua menerapkan peraturan dan menginginkan anak mematuhinya. Meski begitu, metodenya lebih demokratis dari sekedar menyuruh anak menuruti apa yang dikatakan orangtua, karena orangtua menanamkan respect dan hubungan yang seimbang dengan anak.
  • Permissive parenting: Gaya pengasuhan di mana orangtua tidak memiliki banyak tuntutan terhadap anak, jarang mendisiplinkan anak, serta lebih ingin menjadi teman bagi anaknya.

Selain yang umum tadi, juga ada banyak informasi mengenai gaya atau tren pengasuhan yang khas dari negara tertentu. Klik halaman berikut ya!


4 Comments - Write a Comment

  1. kalau aku, jujur kasus si anak ganteng-umur 13 tahun-nyetir-trus nabrak itu bikin ketampar banget, dan aku yakin banyak orang tertuju pada kedua ortu si anak mempertanyakan bagaimana sih pengawasannya dirumah?
    semua pola pengasuhan tentu punya plus minusnya dan kita sebagai ortu ngga bisa mengontrol ketika si anak memasuki lingkungan pergaulan diluar rumah. tapi pembekalan dasarlah yang menurut aku penting untuk ditanamkan pada diri si anak, jadi ketika dia melakukan sesuatu masih “inget-pesan-ortu”
    karena berdasar pengalaman pribadi yang membatasi seseorang untuk tidak melakukan hal2 diluar batas adalah moral dalam diri….
    semoga kita semua menjadi ortu yg sukses membawa anak2 kita menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, amin!

    1. Kebetulan banget ya, terjadi tragedi menyangkut anak 13 tahun itu :( Pastinya membuat kita semua sebagai orangtua jadi bertanya-tanya… dan, semoga berkelanjutan pada melakukan refleksi terhadap gaya pengasuhan kita masing-masing.
      Setuju juga kalau lingkungan memainkan peranan yang besar ke perilaku anak. Tugas paling berat ortu menurut aku adalah gimana supaya anak bisa memilih mana yang paling ‘benar’ dan punya boundaries di dirinya sendiri, ya. Tough work, but would definitely be worth it.

  2. Haha, ya, kadang2 emang suka overload sama info2 yang bertebaran. Kalo gue baliknya selalu ke, percaya ke insting. Merasa bersalah atas sebuah hal yang kita terapkan ke anak? Nah, ini gue jadiin sebagai alarm. Kalau cocok, harusnya nggak menimbulkan rasa bersalah. Soalnya gue salah satu yang percaya banget bahwa happy parents make happy children :)

    TFS, Riska :)

Post Comment