Family Friday: Irfan Hakim, “Anak Harus Segan Sama Ortunya, Bukan Takut”

Banyak yang bilang kalau punya anak perempuan itu jauh lebih sulit ketimbang punya anak laki-laki. Nah, saat punya kesempatan ngobrol-ngobrol dengan Irfan Hakim beberapa lalu, saya pun nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk menanyakan hal ini. Soalnya, setelah menikah  dengan Della Sabrina Indah Putri, pria kelahiran 15 Oktober 1975 ini memang dianugerahi 3 anak perempuan yang cantik-cantik. Aisha Maydina Hakim,  serta putri kembarnya, Rakana Hakim dan Raina Hakim.

Berikut kutipan perbincangan saya waktu itu. Mudah-mudahan bisa memberikan insight buat Mommies, ya!

Banyak yang bilang membesarkan anak perempuan lebih sulit ketimbang punya anak laki-laki. Benar, nggak?

Setiap anak kan beda-beda, ya, nggak terbatas pada gender. Jadi buat saya, sih, anak perempuan dan anak laki-laki sama-sama punya keunikan masing-masing. Kebetulan anak saya memang tiga-tiganya perempuan, tapi cara  menghadapi anak yang satu dengan yang lain juga nggak sama, kok. Jadi nggak bisa dipukul rata, kalau anak perempuan jadi harus A atau harus B.

Anak yang  pertama Aisha, 5 tahun beda cara menghadapinya, dengan adiknya yang kembar. Antara Raina dan Rakana cara menghadapinya juga lain lagi. Mungkin,  kalau memang mau dilihat dari gender, katanya, sih, anak laki-laki cenderung lebih hiperaktif. Tapi sebenernya nggak juga, lho, soalnya tiga anak perempuan saya ini juga bisa dibilang semuanya  hiperaktif. Karena memang saya nggak punya pengalaman ngurus anak laki-laki seperti apa, jadi memang nggak bisa membandingkan.

Katanya anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya. Benar seperti itu?

Teorinya, sih, memang begitu, ya. Anak perempuan lebih sayang dan dekat dengan ayahnya. Sedangkan buat saya, anak pertama dan ketiga memang sangat dekat dengan saya.  Tapi anak yang ke dua bisa dibilang jauh lebih nempel sama bundanya.

Kalau bisa digambarkan,  sedekat apa, sih?

Dekat banget. Kalau saya lagi mau berangkat kerja, belum juga sampai tujuan, Aisha sudah telepon dan tanya ayah di mana, sudah sampai apa belum. Bahkan hampir setiap hari dia juga bilang, ‘aku ini nggak bisa berpisah dari ayah, aku sangat sayang sama ayah’. Sebenarnya agak drama dan sedikit lebay, sih, ya, hahahaha. Tapi mungkin itu cara dia mengekspresikannya. Kalau tidur juga begitu, saat dikasih pilihan mau tidur di mana, Aisha dan Raina maunya tidur sama ayahnya di ruang tengah. Dan kalau tidur, badan kita itu harus benar-benar nempel,  saya juga harus ngusap-ngusap mereka.

Tapi memang kalau sedang ada saya, mereka seakan jadi ‘lumpuh’, padahal kalau nggak ada saya mereka sudah pintar. Bilang nggak bisa gosok gigi, lalu minta di giginya digosokin. Nggak bisa jalan, lalu maunya minta digendong. Terutama anak yang paling besar, Aisha.

 

Pola asuh yang diterapkan di rumah, seperti apa?

Bebas tapi tanggung jawab. Ya, lebih membebaskan apa yang mereka mau. Misalnya mereka bilang, ayah aku mau gini, ya, sok aja. Atau, ayah aku maunya begitu, ya, sok juga. Tapi aku juga kasih akan kasih tahu ke mereka akibat dari perbuatannya. Misalnya mau loncat atau lari-larian, risikonya bisa jatuh dan sakit. Jadi kalau dia memutuskan sesuatu, ya, itu berdasarkan pilihan mereka sendiri. Sebisa mungkin dari kecil sudah diajarkan bertanggung jawab dengan pilihannya.

Pernah nggak melarang anak-anak untuk melakukan sesuatu?

Untuk hal-hal tertentu, pasti pernah. Dan saya juga akan kasih tahu ke mereka kalau orangtua melarang itu sebenarnya ada baiknya, karena mereka dikasih tahu sesuatu hal yang belum mereka rasakan. Misalnya melarang mereka main listrik. Saya akan kasih tahu bagaimana rasanya kalau kena setrum. Untungnya, sih, mereka sampai sekarang nggak penasaran rasanya kesetrum, yah, hahaha. Yang jelas saya nggak mau membentuk anak-anak jadi generasi penakut. Ketika ada tikus gede, sebenarnya jujur aja kalau gue itu sangat jijik. Tapi dihadapan mereka ya gue nggak akan nunjukin kalau gue takut atau geli. Malah kadang-kadang mereka yang jadi terlalu berani. Semuanya memang jadi proses belajar untuk mereka semua.

Mengingat kerjaan yang begitu padat, kalau di rumah ada ritual khusus nggak sama anak-anak?

Yang penting ketika kita ada waktu di rumah, ya waktu memang full dicurahkan untuk mereka saja. Gadget juga sudah pasti akan saya tinggalin. Apalagi Aisha juga sudah bisa protes, kalau gue sibuk sendiri sama gadget.

Jadi,  no gadget kalau di rumah?

Nggak melarang sama sekali, sih, tapi lebih membatasi aja. Karena biar bagaimana kan mereka juga harus tahu perkembangan teknologi. Jadi, saya membuat kesepakatan bersama anak-anak, kapan saatnya main games, makan permen, bahkan saat nonton TV.  Biasanya, kalaupun mereka mau main gadget, ya, silahkan saja. Tapi sama-sama.

Sekarang ini saya lagi menanamkan dan membiasakan untuk bercerita sama anak-anak. Mereka juga sering nagih saya ngedongeng. Menurut saya kebiasaan orangtua mendongeng untuk anak-anak sekarang ini sudah sangat berkurang. Dulu, saat saya kecil sepertinya orangtua kita punya banyak sekali stok cerita. Nggak cuma lewat buku-buku, tapi mereka juga mampu mengarangnya. Nah, sekarang saya selalu berusaha untuk berpikir kreatif bagaimana bisa menciptakan cerita-cerita baru yang fresh buat anak-anak.

Jadi ritual setiap malam, ya?

Hampir setiap hari. Mau tidur atau bahkan saat mereka lagi mogok melakukan sesuatu. Misalnya, kalau lagi nggak mau mandi, gue langsung puter otak cari ide cerita yang menceritakan bagaimana dampak kalau anak-anak nggak mandi. Dengan begitu, ada sesuatu yang membuat mereka jadi tambah tertarik. Bahkan saat mengajarkan mereka sholat. Meskipun mereka bisa mencontoh langsung tapi lewat cerita justru jadi cepat nempel. Gue, sih, sebenarnya ingin menularkan kebiasaan ini sama orangtua lainnya. Soalnya kegiatan  seperti ini seru banget, lho. Anak juga bisa jadi berimajinasi dan lebih ekspresif dengan kita orangtuanya.

Di mata anak-anak, Mas Irfan sosok ayah seperti apa?

Buat mereka saya ini ayah yang seru. Tapi ketika gue harus tegas, ya, mereka juga bisa segan. Awal-awalnya, kalau sedikit saja ngomong dengan nada tinggi dan keras, anak-anak suka nangis. Tapi sekarang, sih, nggak lagi. Buat saya, anak-anak harus tetap mandang ayahnya, ada perasaan segan. Tapi bukan, takut, ya. Kalau gue dulu takut sama bokap, jadi apa-apa nggak mau cerita ke beliau. Untungnya hubungan gue sangat dengan mama, jadi kalau ada apa-apa saya cerita ke beliau.

Biasanya Mas Irfan akan tegas pada hal-hal seperti apa?

Yang sifatnya prinsipil  gue cukup keras. Contoh kecilnya mandi. Buat gue mandi itu hal yang prinsipil dalam hidup. Waktu itu pernah Aisha nggak mau mandi sampe dua hari, dan dia malah bangga waktu cerita. Dan ketika saya nggak suka dan harus tegas, saya tunjukan hal itu ke anak-anak.  Hal lain, tentunya juga soal agama. Tapi, didikan saya lebih mengarah pada mengajak, bukan memerintah. ‘Ayah mau sholat, nih. Siapa, ya, yang mau temenin ayah sholat dan setelah itu makan?’

Oh, ya, gimana cara Mas Irfan membangun kedekatan pada anak-anak agar mereka percaya kalau Mas Irfan juga bisa dijadikan sahabat?

Biasanya gue ada kencan khusus sama anak-anak tanpa bundanya, dan itu saya berlakukan untuk ketiga anak-anak saya. Kencan bedua sama Aisha, dan minggu berikutnya dengan Raina atau Rakana. Bisa yoga bareng, atau sekedar makan es krim.  Dengan cara ini komunikasi kami jadi lebih lancar, momen seperti ini saya jadikan ajang buat ngobrol secara terbuka dengan mereka.

Hari ini ngeri juga kan punya anak perempuan, makanya sejak dini saya sudah mengajarkan hal-hal penting seperti pendidikan seks, khususnya untuk Aisha. Nantinya, saya kan nggak akan bisa ikut dan ngawasin mereka setiap saat. Makanya dari sekarang harus menanamkan hal yang penting sebagai bekal mereka nantinya. Menanamkan betapa saya sayang dan bangga terhadap mereka. Mereka juga harus sayang dan bangga terhadap diri sendiri.

——-

Setelah ngobrol santai sambil menemani ketiga anaknya bermain,  banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Mudah-mudahan, Mommies yang lain bisa merasakan hal yang sama, yah…


One Comment - Write a Comment

Post Comment