Family Friday: Manik ‘La Luna’, Anak Itu Titipan!

Mommies yang masuk di generasi 90-an, pasti ingat dengan band asal Bandung yang bernama Laluna. Manik Prajana adalah vokalis Laluna yang sudah mempunyai dua anak laki-laki. Malaki Aiman Vicdan Prajana (3 tahun) dan Mirkal Baihaqi Aidan Prajana (20 bulan). Manik kini bekerja sebagai PR & Promotion di sebuah clothing line khusus perempuan di Bandung, memiliki usaha kuliner yang sedang dirintis perlahan-lahan, dan tentunya tetap bernyanyi sebagai vokalis La Luna. Walau sudah punya dua anak, Manik mengaku belum menemukan manajemen waktu yang pas agar semua urusan bisa berjalan lancar. Sambil menyesuaikan ritme hidup, tanpa bantuan ART atau Baby Sitter, Manik yang sehari-hari sering ngelucu saat bekerja, ternyata mengaku galak setelah menjadi orang tua. Mari kita dengar ceritanya.

Photo by @erentz6

Manik, waktu pertama kali punya anak, apa yang terasa paling berubah?

Apa ya? Hmm, banyak! Dulu, sebelum nikah, saya adalah tipe perempuan yang harus punya waktu luang untuk me-time. Ini berkaitan dengan jenis pekerjaan yang mengharuskan saya ketemu banyak orang, jadi saya butuh waktu untuk sendirian.  Nah, pas pertama kali punya anak, saya stres! Karena saya susah ketemu me-time. Nyantai sedikit aja nggak bisa. Untung suami baik banget dan ngerti. Pernah dulu, pertama kali manggung lagi setelah lahiran, suami yang jagain Malaki di kamar hotel. Baru 5 menit keluar hotel, saya langsung nelpon untuk tanya kabar Malaki. Suami cuma bilang, “everything is ok, mom!! Amaaaan!! Selamat manggungggg…”. Dan saya tahu dia bohong, karena backsound yang terdengar adalah suara bayi ngamuk-ngamuk. Hahahhhahha!

Eh, kan anaknya sudah dua sekarang. Ada perbedaan signifikan antara Malaki dan Mirkal?

Nah, ini yang menarik! Sebelum melahirkan anak kedua, jujur saya stres lagi. Karena sebelum menjadi pribadi yang menyenangkan, Malaki (anak pertama saya) adalah bayi yang cukup meresahkan. Suara menangisnya kencang sekali, minum ASI juga banyak sekali. Jadi kalau telat sedikit kasih ASI, suara tangisannya bisa meresahkan warga! Haha. Takut dong, ya, anak ke dua kejadian lagi. Ternyata saya salah duga, dong! Si Malaki (anak kedua) ini tipe bayi yang santai. Kalem banget! Sampai beberapa tetangga masih sering bertanya “Manik udah melahirkan?” Saking nggak ada suaranya, hehehe.

Terus bagaimana dengan pola asuhnya?

Kayaknya tipe ibu-ibu galak, deh! Haha.. Mungkin juga karena kedua anak saya ini sedang dalam sama disiplin yang nantinya akan jadi dasar pola hidup mereka yang akan datang. Dari mulai waktu makan, tidur, apa yang boleh dan tidak.. Pokoknya kami sedang giat-giatnya mendisiplinkan anak-anak. Toh nanti juga akan datang masa kita (orang tua) menjadi teman. Inilah yang harus diperhatikan, jangan sampai terbalik dengan masa disiplin, takut nanti besarnya jadi pembangkang. Agak sulit di masalah konsistensi, kan setiap hari anak-anak kami titip di nenek kakeknya, kadang-kadang ada jadwal yang tidak dijalani, atau ya, saya sendiri juga suka kurang konsisten dalam membuat peraturan.

Terus terang, saya suka menggabungkan berbagai gaya pola asuh dari berbagai referensi yang saya miliki. Ada yang saya ambil sedikit gaya baratnya (tapi juga diperhatikan agar tidak kebablasan serba bebas), ambil juga gaya Amy Chua ala tiger mother (tapi juga nggak mau galak-galak amat), tapi yang paling utama yang gaya pola asuh ala Rasulullah :)

Pelajaran paling berharga yang didapat setelah menjadi orang tua?

Pelajaran paling berharga dari menjadi ibu adalah makin mencintai orang tua. Begitu punya anak pertama, kayak dikasih cermin, “Nih, perjuangan Ibu!”. Pas punya anak ke dua, semacam dapat charge lagi. “Nih, Manik, kamu tuh awalnya sama begini, dari makhluk yang tidak punya daya”. Alhamdulillah, saya merasakan semua, yang bahagia, rasa takut, resah, khawatir, all packed!!

Jadi ada kunci agar sukses jadi orang tua?

Mengubah mindset dari ‘Anak Ini Milikku’ menjadi ‘Anak Merupakan Titipan Allah SWT’, karena kalau sudah posesif, kita bisa jadi semena-mena. Tapi bayangkan ketika kita dititipi anak tetangga, berani nggak sembarangan? Yang ada malah menjaga sebaik-baiknya! Pasti takut, kan, yang nitipin ke kita marah dan nggak percaya lagi sama kita. Iya, kan? Insya Allah kalau sudah bisa merubah mindset seperti itu, kita bisa sukses jadi orang tua. Anyway, ini juga baru terpikir beberapa waktu lalu, dan belum bisa menjalankan sepenuhnya.

Eh, kok saya jadi kayak Mamah Dedeh, ya? Hahaha..

Wah, benar juga, menjaga sesuatu yang dititip pasti lebih berhati-hati dibanding menjaga milik sendiri, kan? ;) TFS, Manik!


One Comment - Write a Comment

Post Comment