Rumah Baru Atau Second?

Berbeda dengan beberapa teman saya yang memutuskan akan menikah setelah memiliki rumah, saya dan suami tidak demikian. Waktu menikah dulu, bisa dibilang modal paling besar yang kami punya adalah niat. Jadi, boro-boro, deh, beli rumah dulu, ada rezeki untuk biaya untuk akad nikah dan syukuran saja, sudah Alhamdulillah sekali.

Jadi, untuk sementara waktu setelah menikah kami pun memutuskan untuk numpang rumah orangtua saya. Dan masih berlangsung hingga detik ini. Kalaupun ada beberapa teman atau keluarga yang tanya kenapa kami nggak ngontrak, tentu nggak terlepas dari keinginan kami untuk nabung supaya bisa beli rumah. Daripada uangnya untuk bayar kontrakan, ya lebih baik disimpan untuk modal DP rumah, kan? *pembenaran*

Saya juga ingat, dulu, ayah saya pernah bilang, kalau sebelum usia 30 lebih sebaiknya kita sudah memiliki rumah. Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang dibilang ayah saya, masa produktif seseorang itu kan memang sebelum memasuki kepala 3. Kalaupun lewat, ya, pasti nggak akan lebih dari umur 35 tahun.

*gambar dari sini

Pendapat ini pun seakan dipertegas lagi lewat survei yang dilakukan iPropery Group. Lewat survei online yang mereka lakukan 3 Juni hingga 2 Juli 2013 lalu membuktikan bahwa 45% dari 10.179 responden  di Indonesia membeli rumah atau properti lainnya seperti tanah dan apartemen di usia 20 hingga 30 tahun.  Selain itu, survei ini juga membuktikan bahwa 58% responden membelinya untuk pertama kali. Kondisi ini sangat berbeda dengan Singapura, di mana masyarakat di sana justru pertama kali membeli rumah di usia 40 hingga 50 tahun.

Padahal, kalau dipikir-pikir harga rumah ataupun tanah di Indonesia khususnya Jakarta kan nggak murah, ya? Meski begitu di Indonesia, ternyata membeli rumah tampak masih yang sangat populer dibandingkan kondominium. Fakta ini saya ketahui saat menghadiri jumpa pers Pemaparan Hasil Survei Sentimen Pasar Properti di Asia yang saya hadiri beberapa pekan lalu. Saat itu,  Shau Di Gregorio selaku Chief Executive Officer iProperty Group juga bilang kalau sejak lama rumah tampak menjadi jenis properti yang paling disukai, khususnya di Indonesia dan Malaysia. Alasannya, karena pembangunan dan kependudukan meningkat dengan cepat, sementara tanah semakin langka. Dengan begitu, harga tanah akan menjadi mahal.

Waktu itu saya juga sempat bertanya, kecenderungan pasangan muda saat membeli rumah lebih memilih rumah baru atau rumah second. Dan ternyata lewat survei tersebut mempelihatkan bahwa peminat rumah baru dan second sebenarnya seimbang. Semuanya kembali tergantung pada lokasi atau areanya, dan yang paling penting, sih, soal biaya :)

Buat saya dan suami, sebenarnya membeli rumah baru ataupun second sama saja. Masing-masing ada plus minusnya, yang terpenting saat membeli rumah kita memang harus sangat selektif dan hati-hati. Dengan begitu, nggak akan ada penyesalan dikemudian hari. Hal ini jugalah yang saya dan bapaknya Bumi pertimbangkan saat memutuskan membeli rumah second yang notabene pemiliknya adalah kakak saya sendiri.

Berikut beberapa hal yang saya perhatikan saat membeli rumah second. Mudah-mudahan, membantu Mommies yang sedang bingung mau beli rumah baru atau second.

 

*Gambar dari sini

Usahakan membeli rumah dari pemiliknya

Kalau beli barang elektronik saja saya hanya percaya melakuan transaksi dengan tangan pertama atau pemiliknya langsung, apalagi dengan membeli rumah. Makanya, poin ini sangat penting untuk saya dan suami saat membeli rumah. Dengan membeli rumah second langsung dari pemiliknya sendiri, tentu kita bisa mendapatkan informasi yang lebih detail. Lagipula harganya tentu akan jauh lebih murah ketimbang harus beli lewat perantara. Kebetulan, pada kasus saya, saya membeli rumah kakak saya sendiri. Dengan begitu, memang sangat terpercaya :D

Developer/ Broker yang terpercaya

Berhubung cari rumah itu seperti cari jodoh, rasanya nggak ada salahnya juga kalau kita mempunyai beberapa alternatif pilihan rumah dengan menggunakan jasa developer atau broker properti. Buat yang nggak punya waktu ekstra, sebenarnya untuk memudahkan pencarian rumah nggak ada salahnya kita hunting lewat internet. Bahkan, lewat survei iProperty Group memperlihatkan bahwa 75% masyarakat Indonesia melihat bahkan membeli properti secara online. Lagi pula, mereka bisa membantu kita untuk menyelesaikan proses transaksi ataupun dokumen penting lainnya. Untuk meminimalisir tindakan penipuan, pilih agen properti yang telah terpercaya, hal ini bisa dilihat apakah agen tersebut telah berbadan hukum atau tidak. Dengan begitu tentu proses transaksi bisa berjalan lancar.

Harga

Meskipun saya membeli rumah kakak saya sendiri, bukan berarti saya dapat potongan harga hingga 70%, lho! Biar bagaimana, rumah tersebut kan merupakan salah invetasi kakak saya, jadi ia pun menjualnya tanpa banting harga :D. Waktu itu, kami sama-sama sepakat untuk mengecek harga pasaran rumah yang dijual di sana lewat masyarakat sekitar. Setelah mendapatkan beberapa informasi, waktu itu akhirnya kakak saya menjualnya dengan harga yang paling rendah :)

Lingkungan sekitar rumah

Selain karena faktor harga dan pembayaran yang bisa dicicil, alasan lain kenapa saya tertarik membeli rumah kakak saya adalah karena faktor lingkungannya. Rumah tersebut memang dekat dengan sarana umum, mulai dari puskesmas, rumah sakit, sekolah, bahkan pusat perbelanjaan dan yang paling penting nggak kena banjir! Perumahan ini pun mudah diakses, baik dengan kendaraan umum seperti bis ataupun kereta api. Kebetulannya lagi, ternyata lingkungan perumahan ini, khususnya di blok saya, lebih banyak dihuni oleh pasangan muda seperti saya dan suami. Dengan begitu, otomatis usia anak-anaknya nggak berbeda jauh dengan Bumi.

Detail kondisi rumah

Saat memutuskan membeli rumah second, tentu kita sudah paham kalau kondisi rumahnya nggak akan semulus rumah baru. Meski begitu, bukan berarti kita nggak bisa meminimalisir kondisi yang buruk. Caranya, bisa dengan memperhatikan kondisi fisik rumah. Semakin muda usia bangunan, tentu kondisinya akan lebih baik. Hal ini pulalah yang menjadi pertimbangan kami saat memutuskan untuk membeli membeli rumah second. Usia bangunan rumah kakak saya memang belum masuk dalam kategori tua. Hanya saja, karena memang  sudah tidak pernah ditinggali, saat ini kami memang perlu menyiapkan dana untuk renovasi.

Bagaimana? Semoga cukup membantu, ya!

 


5 Comments - Write a Comment

  1. Kalau alasan saya beli rumah second adalah karena di lingkungan yang kami mau itu hampir semuanya inden. Jadi daripada nunggu-nunggu lagi, beli rumah second aja lah, harganya juga lebih rumah walaupun ditambah renovasi :D

  2. Gw termasuk yg beli rumah 2nd, karena terpaksa. Kriteria gw waktu itu juga lokasi dan umur properti. 1 lagi, yg interiornya (kalau bisa) gak jauh2 dari selera kita, biar gak keluar duit (makin) banyak buat renovasi. Tapi yang ini sifatnya sekunder deh.
    Tapi kalau bisa milih sih gw mau rumah baru, biar semuanya bener2 pilihan sendiri :)

Post Comment