Why They Failed?

Happy Breastfeeding Month!

Saya yakin pembaca Mommies Daily dan ibu-ibu pengguna internet aktif saat ini pasti sudah mempunyai pemahaman dan pengetahuan yang cukup mengenai asi eksklusif dan tahapan asupan nutrisi bayi. Saya sendiri merasa over-informed dengan segala hal mengenai ASI. Jauuuuuuh sekali dengan kondisi saat saya menyusui pertama kalinya, tahun 2004 waktu informasi yang saya dapat hanya melalui orangtua dan buku panduan dari RS bersalin.

Keyakinan tersebut muncul dari berbagai interaksi dengan orang-orang sekitar di mana saya tiap harinya berinteraksi, seperti teman-teman di grup BBM, teman kerja, dan lingkungan di mana saya tinggal (di kota besar) saat ini. Meskipun tingkat pemahaman tidak secanggih seperti konselor laktasi, tapi minimal semua sepakat bahwa ASI eksklusif itu hukumnya wajib, dan harus semaksimal mungkin diusahakan, dan rata-rata mereka juga sudah memberikan ASI kepada bayinya.

Semua informasi tentang ASI sepertinya sudah ‘khatam’ untuk saya, mulai dari IMD, posisi menyusui, prinsip ketersediaan ASI, manfaat-manfaatnya, tata laksana asip, dan lain-lain.

Sampai saya mendapati kenyataan ini. Bahwa keluarga terdekat saya, adik perempuan dan adik ipar perempuan, dua saudara perempuan paling dekat dengan saya, tidak bisa memberikan ASI pada bayinya. Whaaat?

Perasaan semacam ini pun muncul, apa gunanya punya semua pengetahuan itu kalau tidak bisa membantu orang lain -orang terdekat- untuk sukses menyusui. Apa yang mau dibanggakan?

Untuk dua adik saya ini, kasusnya memang berbeda. Saya juga tidak intens bertemu mereka, tapi setidaknya dari awal saya sudah mewanti-wanti untuk jangan putus asa memberikan ASI pada bayinya. Sampai sedikit ‘kuliah’ tentang prinsip supply and demand, ASI pasti cukup, dan semacamnya.

Tetapi merekalah yang menjalani. Adik saya hanya memberikan ASI sampai 3 bulan, karena tidak tahan terhadap bayinya yang selalu menggigit puting. Adik saya yang satu lagi tidak memberikan ASI eksklusif karena harus bekerja dan merasa ASI-nya kurang.

Awalnya saya merasa harus menerima bahwa kondisi seorang ibu memang tidak ada yang sama. Semuanya beda. I’m not in their shoes, maybe I can’t imagine what they’ve been thru. Mungkin kondisi saya memang baik-baik dan mulus saja tanpa halangan sehingga bisa sukses menyusui.

 

 

Tetapi setelah menelaah lebih lanjut, No. That’s not the case. Default-nya adalah, kita bisa menyusui, bisa memberikan ASI eksklusif. Bahwa hal itu harus diusahakan, that’s TRUE. Dalam hal ini, yang membedakan adalah usahanya. Pemahaman yang menyeluruh terwujud pada seberapa jauh seorang ibu mengusahakan untuk bisa memberikan ASI pada bayinya.

Saya pun tersadar pada hal ini. keyakinan saya bahwa ibu-ibu masa kini pasti sudah mempunyai pemahaman benar tentang menyusui, tidak sepenuhnya benar. Mungkin saya tidak bisa memberikan angka akurat, tetapi di Indonesia persentase ibu memberikan ASI eksklusif masih rendah.

Saya tidak menafikan bahwa memang ada kasus tertentu yang menyebabkan seorang ibu tidak bisa menyusui anaknya. Tetapi untuk yang saya alami, adik-adik saya seharusnya bisa memberikan ASI kepada bayinya. They just didn’t fight hard enough, or didn’t know where to go. And worse, I didn’t push hard enough with them.

Afterall, pengalaman ini tidak untuk men-judge siapapun, hanya mengambil pelajaran dari kasus ini. I’m overly blind by only mingle with my inner circle, twitter, forum, bbm. Tapi ternyata di luar sana masih banyaaaak mereka yang belum teredukasi dengan baik soal menyusui. Dan bukan hanya soal mengetahui saja, karena pemahaman yang sebenarnya terwujud dalam seberapa besar usaha yang dilakukan (baik oleh si ibu sendiri maupun orang-orang terdekatnya) untuk mewujudkannya.

 

* gambar dari sini


6 Comments - Write a Comment

  1. Setuju banget, diluar lingkungan ibu2 forum&ibu2 twitter, lingkungan gw pun masih belum melek asi, ada yg masi ngAsi sampe 1th tapi uda campur sufor dari si baby beberapa bulan, ada yang berenti dari umur 2-3 bulan aja,rata2 kalo ditanya jawabannya ya gitu2 aja,asi seret lah,ngerasa g cukup lah,rempong lah,tapi kalo ditanya udah usaha apa aja? Boro2 ke konselor ASI, mompa rutin aja gak..yang gini2 bikin ngenes..tapi gw g enak juga kalo terlalu pushy apalagi kalo gak telalu akrab,biasanya sih gw selipin cerita ibu2 menyusui lain yg berat perjuangannya tapi tetep bisa istiqomah…it’s the effort that count ya

  2. iya, sama. Lima tahun yg lalu, masih tinggal serumah sama keluarga suami, adik ipar ngeliat banget gimana saya jungkir balik ng-ASI. Puting lecet, berdarah, mastitis, kejar tayang ASIP, dll. Segala macam duka ng-ASI udah dirasain. Nyatanya, ga buat adik ipar tergerak utk ng-ASI tuh. Dia cuma bertahan 3 bulan aja. Alasannya: krn putingnya sakit, WHAAT?? Padahal ibunya alias mama mertua ng-ASI ke-4 anaknya sampai dua tahun. Yah, krn sejak adik ipar nikah, dia ikut suaminya. Jauh dari keluarga kandung. Ngga ada dukungan untuk ng-ASI juga dari keluarga mertuanya. Makanya begitu tau adik ipar yg satu lagi hamil, udah wanti2 kasih ASI aja. Bahkan saya nawarin jadi donor ASI kalau-kalau ASInya belum keluar pas lahiran nanti. Kebetulan saya lagi punya bayi 3 bulan. Semoga lancaaar :)

  3. mao share….

    pjalanan ngasi gw juga aga berat di awal. ga keluar lah, puting kecillah, dll.

    eh tp bukanau crita itu.

    gw mau share…bahwa sebenernya support group itu krusiallll!

    krn biasanya, para ayah atau nenen yg mengarahkan sufor ini. biasanya krn ga tega dgr si dedek nangis. (sumber: pengalaman dan curhatan di panti pijat bayi.hehe)

    jadi IMHO, buat sukses ngASI ini, yg perlu diberi pencerahan bukan para ibu saja.

    gw pernah baca aatu quote dr seorg dokter di twitter.
    “rahasia sukses menyusui: menyusuilah dg keras kepala”

    quote nya bagusss yaaa…

    bikin makin keras kepala buat asi ini..dan syukurlaaah berhasiil lepas dr sufor. dan skrg sedang asix.

    yuks asix

  4. Betul sekali, pada dasarnya semua ibu bisa menyusui sampai 2 tahun tergantung usahanya, hal tersebut saya buktikan sendiri saat anak pertama saya kurang konsisten memerah asi sehingga asi ga keluar lama-kelamaan. Mulai anak ke 2 ini saya niat dari hamil dulu untuk bisa memberikan asi eksklusif walaupun harus bekerja, dan alhamdulillah sampai 11 bulan anak saya belum merasakan sufor. buat mommies, jangan menyerah , terus berjuang dan yang penting yakin kalo kita pasti bisa!

Post Comment