Ketika Anak Laki-laki Masuk Fase Falik

Belum lama ini, saya dan beberapa sahabat sedang kumpul bocah di salah satu rumah kami. Seperti biasa, momen seperti ini selalu kami habiskan untuk curcol dan  share seputar tumbuh kembang si kecil. Kebetulan, jarak usia anak-anak kami relatif sangat dekat, paling jauh hanya beda dua tahun. Jadi, kami memang sering kali tukar pengalaman.

Dari obrolan waktu itu, ada salah satu yang paling menarik, di mana salah satu sahabat saya menceritakan bahwa anak laki-lakinya yang kini berusia 5 tahun mulai senang menggesek-gesekan penisnya di kasur. Bahkan, saat ditanya, dengan polos anaknya langsung menjawab, “Habisnya enak bunda, rasanya geli-geli, loh”, begitu ujar sahabat saya sambil menirukan jawaban anak sulungnya.

“Duh, gue bingung, deh, harus neranginnya seperti apa. Waktu gue bilang, ‘Jangan, dipegang-pegang terus, ya, nak. Nanti malah jadi sakit, loh’ eeeh, anak gue malah keukeuh bilang nggak kalau dia nggak ngerasa sakit.”

Sahabat saya ini pun meneruskan, ia bilang kalau anaknya dulu juga senang main smackdown. Badannya, dihantamkan ke tubuh sahabat saya ini, dan kemudian senang menggesek-gesekan penisnya ke tubuh teman saya ini.

Nah, lho, kok, ceritanya sama persis dengan apa yang saya alami, ya? Soalnya kalau sedang mau leyeh-leyeh di kasur, Bumi juga sering sekali main smackdown. Duh, saya jadi kepikiran, nih, apa iya, ya, ini salah satu pertanda kalau anak sahabat saya dan Bumi sedang mengeksplorasi tubuhnya? Sedang dalam masa di mana mereka mulai merasakan sensasi seksual? Apa memang normal seusia mereka sudah merasakannya? Terus terang saja, saya sendiri merasa, kok, rasanya terlalu dini, ya, mereka masuk dalam fase ini?

Biar nggak salah, saya pun akhirnya bertanya pada dr. Oka Negara, pengajar di bagian Andrologi. Seksologi Universitas Udayana, yang juga menjabat sebagai sekretaris di Asosiasi Seksologi Indonesia. Berikut hasil wawancara saya dengan androlog yang senang memberikan info di akun Twitter-nya.

Biasanya, pada usia berapa anak laki-laki mulai belajar mengeksplorasi dirinya, khususnya dalam hal seksual? Apakah hal ini normal dilakukan anak pada usia 3 dan 5 tahun?

Ini sangat wajar dan normal. Di usia ini, sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya, anak ada dalam fase falik, atau fase di mana si anak mulai merasakan sensasi seksual di kelaminnya pertama kali. Kalau ditelusuri lagi ada tahapan fase-fase sensasi seksual yang berbeda di tahapan perkembangannya. Usia baru lahir sampai dua tahun, sensasi seksualnya di mulut, sehingga disebut fase oral. Usia 2-3 tahun sensasi seksualnya di dubur, sehingga disebut fase anal. Waktu usia 3-5 atau 3-6 tahun sensasi seksualnya di kelamin, yang disebut fase falik tadi, seringkali tanpa disadari dan dipahami dengan baik. Lalu 6-11 tahun adalah fase laten di mana si anak tidak fokus dengan sensasi seksual tetapi lebih banyak di tumbuh kembang fisik dan kognitif (masa sekolah). Dan usia 12 tahun ke atas sudah masuk fase genital, memasuki perkenalan dan tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tanda-tanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organ-organ seksnya secara sadar.

Bagaimana cara menjelaskan hal ini pada si kecil?

Dibiarkan saja, selama tidak mengganggu lingkungan sekitar.  Seringkali malah bukan hanya menggesek-gesekkan kelaminnya, tetapi bisa juga, ada kasus, si anak sering telanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain, misalnya di hadapan tamu saat ada yang berkunjung ke rumah atau saat ibunya arisan bareng teman-teman ibunya, kejadian ini kadang membuat malu atau si ibu menjadi tidak nyaman. Kalau kejadiannya seperti ini tinggal ajak ke dalam kamar dan alihkan perhatian, dan jangan dimarahi karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya.

Cara yang tepat menanggulangi jika si anak tetap saja menggesek-gesakan penisnya?

Dibiarkan saja, tetapi jika ini terlalu sering dan mengganggu, dialihkan saja ke hal lain, misalnya dengan mengajak bermain yang lain atau diberikan permainan yang lebih menarik dan disukainya.

Apakah kebiasaan ini akan hilang seiring waktu?

Iya, karena nantinya anak akan beralih ke fase laten. Jadi biasanya, akan berhenti sekitar usia 5 atau 6 tahun biasanya.

Dalam pendidikan seks, khususnya untuk anak laki-laki, siapa yang paling berperan penting? Ayah atau ibu?

Sebenarnya sama saja. Ciptakan suasana bahwa kebersamaan orang tua, baik ayah dan ibu adalah sebagai sumber informasi seksual yang sama. Tetapi memang akhirnya nanti akan terseleksi, yang sebaiknya lebih berperan adalah yang memang paling punya kualitas waktu terbaik yang paling sering bersama si anak. Misalnya ibunya. Tetapi  bukan berarti si ayah lalu tidak melakukan apa-apa atau tidak berperan dalam komunikasi seksual bersama anaknya, hal ini tetap harus dilakukan.

Bagaimana cara komunikasi efektif dalam proses pendidikan seks pada anak?

Tentu saja disesuaikan dengan usianya. Di usia bermain, tentu saja ajarkan anak untuk memahami dirinya dengan menyenangkan dan berkomunikasi sambil bermain. Ajarkan anak dengan menggunakan alat bantu permainan yang disukainya, serta libatkan anak untuk mengenali organ tubuhnya dengan baik sambil melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya memberitahukan tentang nama dan fungsi kelaminnya sambil mengajarkan mandi sendiri saat dimandikan di kamar mandi. Ini akan baik buat si anak dan melekat memorinya akan hal baik dan berguna seputar keadaan seksualitasnya.

Apa jadinya jika komunikasi ini gagal dilakukan?

Pahami dulu tentang tahapan perkembangan seksual anak, karena sesungguhnya hal ini wajar dan nanti juga akan menghilang berjalan usia. Sekarang tinggal bagaimana menyikapi ekses dari kejadian yang dilakukan si anak, selama dilakukan di tempat dan bersama orang yang wajar saja, misalnya dengan orangtua saat tidur-tiduran, atau bersama bonekanya.  Tidak usah bereaksi yang bersifat melarang dan memarahi. Biarkan saja. Kalaupun tidak nyaman karena bisa jadi dilakukan di tempat terbuka dan terlalu sering karena hampir tiap hari, cobalah berkomunikasi dengan biasa saja untuk mengalihkan aktivitasnya dengan aktivitas lainnya yang menyenangkan anak, seperti mengajak bermain atau diberikan mainan yang disukai.

Dan sekali lagi jangan dimarahi berlebihan karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya.

———-

Ternyata apa yang dilakukan Bumi dan anak sahabat saya merupakan hal yang wajar dan nggak perlu ditakuti secara berlebihan. Terima kasih atas penjelasannya dokter Oka :)


2 Comments - Write a Comment

Post Comment