Kemesraan Itu Bernama Menyusui..

“Udahlah Win, banyak susu kaleng yang di supermarket kok yang bisa dibeli, ga usah maksa kamu lagi sakit begitu. Udah hamil payah, sekarang abis lahiran sakit. Kasian  kamu kalo mpersulit diri terus”

Jreennngg! Omongan ayah saya bagaikan batu besar yang menimpa hati, menusuk bahkan lebih nyeri dari sakit saya yang suhu tubuhnya mencapai 41 derajat celcius itu. Saya terdiam, sambil bersiap dipaksa ke UGD. Saya menangis diam-diam merasa orang terdekat tak mendukung saya memberikan ASI.

Menyusui bagi saya lebih dari sekedar memberi ASI. Tapi sharing ‘nutrisi jiwa’, yang ajaibnya nggak hanya berguna bagi anak, tapi saya pun demikian. Maka nggak heran berasa kaya putus cinta waktu Anza nursing strike tingkat parah (sampe histeris kalo lihat saya), saat saya baru mulai kembali bekerja saat Anza  4 bulan. Rasa sesal, sedih, kecewa karena sempat ‘puasa’ nenenin dan hanya mberi ASIP selama 1 minggu hingga butuh klinik laktasi untuk ajari dari ulang perlekatannya. Alhamdulillah, semua kembali indah sampai bisa lulus ASI eksklusif.

Dari pahit manisnya perjuangan menyusui itu lahir “panggilan” ingin membantu setiap mahluk mungil untuk mendapat haknya. Saya merasakan betapa seorang ibu sangat butuh bahu, lisan dan tangan orang lain untuk membangkitkan semangat  dan kepercayaan dirinya. Motivasi utama saya, supaya kemesraan mereka tidak terampas oleh ketidakberdayaan si ibu.

Ternyata cita-cita saya dijawab Allah. Tahun 2010 bersama beberapa teman milis ASIforBaby di Bekasi, kami bertemu pada payung yang sama. Kami mengadakan KelasEdukASI perdana di tahun 2011 dan merupakan cikal bakal AIMI Cabang Jabar Ranting Bekasi. Sebuah wadah keluh kesah dan berbagi bahagia antar busui.

Jadi Laktivist (aktivisnya asi), ternyata tak membuat orang lain cukup terketuk untuk ikutan marketing di ‘MLM’ ASI dari saya;). Saya perlu ilmu. Ilmu motivasi tanpa menyetir, ilmu empati tanpa turut tersulut, ilmu komunikasi tanpa menghakimi, dan ilmu ke-laktasi-an dari sumber valid. Maka,saya pun memutuskan untuk mewujudkan mimpi, saya perlu terjun ke dalam sampai basah kuyup. Saya mengikuti Pelatihan Konselor Laktasi modul 40 jam WHO/UNICEF. Yeah, I found my passion. Senang sekali, keluarga yang tadinya menyepelekan ilmu per-ASI-an jadi total mendukung keseriusan saya. Malah mereka dengan bangganya ikut berkampanye agar orang-orang support menyusui.

Kini, saya bisa membantu menularkan keindahan menyusui itu. Melalui klien-klien busui dan peserta KE saya menjadi salah satu saksi suka duka mereka. Kebanyakan sesudah itu, klien dan peserta menjadi sahabat saya, yang kemudian menjadi pelaku MLM ASI lagi kepada ibu-ibu lainnya.

Hingga saat ini, ada keharuan tersendiri jika saya dapat terlibat melihat bayi-bayi itu bermesra-mesraan dengan bundanya lewat menyusui. Saya yakin, setiap ibu pasti mau menyusui, dukunganlah yang mereka butuhkan. Dan itu tugas kita yang bisa mendukungnya.

“Menyusui memang bukan segalanya bagi kehidupan manusia. Tapi percayalah,segalanya dari kehidupan manusia dimulai dari menyusui”. Selamat Pekan ASI Sedunia, selamat men-support Ibu menyusui, selamat menikmati salah satu keindahan terbesar Tuhan dari mesranya kegiatan menyusui sepasang ibu dan bayi ini.

Salam menyusui,

Winny @UmmiAnza, Konselor Laktasi

 


One Comment - Write a Comment

  1. Aku merinding bacanya, mungkin krn aku juga sedang berjuang menyusui anakku yg msh berusia 1 bulan ya. Disamping msh dalam proses penyembuhan pasca cesar dan msh dalam proses mengenal karakter anakku, menyusui dan memerah asi bukan hal yg mudah utk ku. Perasaan yg selalu menghantuiku adl jumlah asiku yg tidak mencukupi utk anakku, cukup membuatku sedikit stress. Eh kok jd curhat… Hehe. Tp dengan membaca artikel ini ada perasaan semangat utk terus memerah dan menyusui dan menghilangkan perasaan tidak pede bahwa asi ku kurang. Trimakasih utk cerita dan sharingnya ya, mba…

Post Comment