Teh Oolong, Alternatif Bagi Penyuka Teh

Kalau lagi bosan minum susu, biasanya Bumi selalu minta dibuatkan teh. Rupanya, kegemaran suami minum teh juga menular ke anaknya. Selain air putih, bisa dibilang teh merupakan minuman favorit di keluarga saya.

Jika selama ini kita lebih familiar dengan teh hijau atau teh hitam, ternyata ada jenis teh lain yang patut dicoba. Namanya teh oolong. Pernah mendengarnya, nggak Mommies? Jujur saja, kalau saya baru belakangan ini mengetahuinya. Padahal, oolong tea ini sudah ditemukan sejak bahuela, saat zaman dinasti Teng tahun 618-907. Yang menjadikan teh ini lebih spesial dibandingkan dengan yang lain, teh yang disebut juga dengan semi-oxy tea ini telah mengalami oksidasi sebagian pada saat proses produksinya.

Hal ini semakin ditegaskan oleh ahli nutrisi, Emilia Achmadi yang mengatakan, “Teh Oolong telah melalui proses oksidasi yang unik dan berbeda dari jenis teh lainnya. Proses setengah oksidasi ini yang menciptakan kombinasi ontioksidan yang berbeda, tidak hanya mengandung antioksidan yang terdapat dalam green tea tetapi juga antioksidan yang dikandung oleh black tea, dan juga rasa yang berbeda dari teh Oolong.”

Bahkan, katanya lagi, ada penelitian ilmiah yang dilakukan dua dekade ini yang membuktikan bahwa teh oolong dapat meningkatkan metabolisme tubuh, memberikan proteksi tambahan terhadap perusakan sinar UV pada kulit, mencegah munculnya penyakit degeratif, melindungi gigi berlubang, hingga mampu meningkatkan ketajaman pikiran.

Yang nggak kalah penting, ternyata kandungan antioksidan (polyphenols) dalam teh ini juga mampu memecah lemak dalam tubuh yang dibuang melalui melalui kotoran. Dengan begitu, kecenderungan terjadinya obesitas karena pola gaya hidup yang nggak sehat, juga bisa ikut dihindari apabila kita mengkonsumsi teh ini dengan cara dan takaran yang benar.

Selain itu, kandungan polyphenols melindungi organ pencernaan dari kerusakan serta menjadi salah satu faktor pencegah munculnya penyakit kanker. ”Kafein dalam teh ini juga menstimulasi pusat susunan syaraf untuk meningkatkan kewaspadaan dan dapat mengurangi risiko hilangnya fungsi syaraf,” papar Emilia lagi.

Berangkat dari beragam manfaat teh oolong inilah yang akhirnya  menggerakan Suntory Garuda meluncurkan MYTEA. Minuman ready to drink yang diharapkan bisa memberikan alternatif lain bagi penyuka teh.

Waktu mencicipi teh ini, buat saya pribadi rasanya memang nggak terlalu beda jauh dengan teh kebanyakan.  “Yah, ukuran gulanya masih dibilang dalam kondisi lampu hijau, ya, soalnya takaran gulanya memang tidak banyak. Hati-hati dengan minuman kemasan yang gulanya di atas 15% kebutuhan gizi, karena itu sudah terlalu manis. Tapi memang biar bagaimana pun minum minuman yang gulanya sedikit akan jauh lebih baik”tukas Mbak Emilia.

Saat saya tanya apakah anak-anak boleh meminumnya, ia menjelaskan bahwa untuk anak-anak di bawah 12 tahun tidak disarankan untuk mengonsumsinya secara berlebihan. Alasannya, “Anak-anak itu kan gampang dehidrasi, sering buang air kecil, jadi memang lebih baik banyak minum air putih. Tapi bukan berarti nggak boleh, ya, kalau untuk sekedar menicipinya saat orang tuanya minum itu masih nggak apa-apa. Asal masih dalam batas yang wajar.”

Secara umum, ia mengatakan bahwa teh tidak apa-apa dikonsumsi setiap hari.  “Kira-kira sehari 500 cc, tapi jangan lupa imbangi dengan minum air putih,” sarannya lagi.

Setelah berbincang dengan jebolan Master of Science dari Oklahoma State University, Human Environmental Sciences-Diseases Prevention & Sport Nutrition ini saya jadi bisa lebih berhati-hati saat memberikan teh pada Bumi, khususnya saat memilih minuman teh kemasan.

Mungkin, ada Mommies yang punya pengalaman saat memberikan teh untuk si kecil? Boleh, lho, share di sini :)


Post Comment