Persiapan Perjalanan Jauh Bersama Anak

Mommies berencana mudik atau berlibur bersama keluarga ke tempat yang jauh atau memerlukan waktu tempuh yang lama? Sudah ada gambarankah apa saja yang harus disiapkan dan apa-apa yang perlu ‘diwaspadai’ :D? Untuk persiapan dasar coba cek artikel Liburan Nyaman Bersama Batita, ya.

Sejak pindah ke Jakarta, perjalanan mudik kami yang menggunakan mobil jadi bertambah satu hari. Ke Surabaya total waktu bisa habis hampir 2 hari sendiri tanpa macet. Kalau macet ya jadi 2 hari penuh *sigh*. Waktu tempuh dalam kondisi normal, tanpa embel-embel macet dan jalan rusak dengan kecepatan sedang kira-kira 10-12 jam untuk Jakarta-Semarang, dan 7-8 jam Semarang-Surabaya. Kami sengaja transit di Semarang supaya bisa mengistirahatkan kaki dan anak-anak tidak bosan di mobil terus.

Jadi, pertama kali yang harus disiapkan tentu reservasi dan tas darurat untuk keperluan di tempat transit.

*gambar dari sini

Tas ‘semalam’ ini biasanya berisi:

  • Satu stel piyama tiap anak dan baju ganti untuk pemberangkatan berikutnya.
  • Satu stel baju ganti orang tua.
  • Ekstra baju ganti untuk yang bayi.
  • Peralatan mandi termasuk handuk.
  • Karena membawa bayi, saya selipkan satu kain flanel lebar untuk keperluan serbaguna (alas tidur, selimut, bantal tipis, dll).

Jam keberangkatan idealnya makin pagi makin bagus. Tapi saya si packing-last-minutes suka galau sendiri menentukan apa yang akan dibawa (even saya packing jauh hari, in the last minutes adaaaa saja yang nggak jadi dan jadi dibawa -_-“). Setelah beberapa kali mengalami jam berangkat yang bervariasi :D, ternyata paling enak either pagi sekalian atau siang sekalian. Enaknya jalan pagi adalah saat sampai di Semarang masih bisa jalan-jalan sebentar, sementara kalau siang sampai di sana tinggal tidur.

Pernah tinggal di Semarang selama beberapa tahun merupakan keuntungan saya dalam menentukan tempat menginap dan makan yang tidak jauh dari jalur utama mudik. Kebetulan kantor suami mempunyai Guest House yang bisa disewa oleh karyawan dengan harga yang cukup murah. Kami tidak mencari fasilitas macam-macam karena, toh, cuma perlu numpang tidur. Asal air bersih lancar, tempat tidur bersih, dan tidak pengap atau gerah, bereslah.

Masalah utama perjalanan jauh dengan anak-anak on board adalah pengetahuan tentang lokasi-lokasi toilet yang bagus dan bersih di jalur perjalanan :D. Waktu perjalanan juga kadang akan terpotong bila tiba-tiba ada yang perlu pup atau pipis di toilet. Untungnya di jalur Pantura kebanyakan SPBU toiletnya sudah cukup bersih.

Soal perbekalan, saya memilih:

  • Roti. Hindari roti yang bikin belepotan atau berceceran seperti ber-filling krim atau topping krim, meses, gula, dan abon.
  • Kripik. Saya lebih suka membawa kripik karena kacang kalau tumpah bisa lari kemana-mana di mobil susah beresinnya.
  • Minuman. Pilih minuman dalam botol dan jangan lupa siapkan beberapa sedotan. Minimalisir membawa botol minum sendiri karena harus mencuci dan berisiko ketinggalan.
  • Minimalisir juga membawa kotak makanan. Kalau memang perlu biasanya saya akan membawa kotak mika seperti yang dipakai take-away restoran atau kotak bekas es krim.

Kiat lain masih sama, sih, dengan yang saya pernah tulis di artikel Traveling with Tots and Baby by Car beberapa tahun lalu.

Nah, lalu bagaimana dengan perjalanan udara medium dan long flight?

Medium flight adalah penerbangan dengan lama 3-6 jam, sedangkan long flight adalah penerbangan yang lebih dari 6,5 jam dan biasanya sekarang ini tanpa transit atau pindah pesawat kecuali ke lokasi yang memang perlu connecting flight. Yang harus diperhatikan saat membawa anak-anak bepergian dengan masa penerbangan lama adalah…bosan :D. Syukurnya pesawat-pesawat besar sekarang sudah menyediakan hiburan untuk anak mulai dari activity books, mainan, dan bahkan belakangan juga ada gadget semacam iPad atau tablet. Tapi ada baiknya juga membawa mainan dan activity books dengan topik atau karakter yang menjadi favorit anak.

Menurut dr. Johnny Nurman, SPA dari Rumah Sakit Brawijaya Women and Children saat talkshow “Aman dan Nyaman Jalan-jalan Bersama Balita” untuk mengatasi jet lag, coba bantu bayi lebih mudah menyesuaikan diri dengan mengubah waktu sehari-hari sesuai dengan jam tempat tujuan sejak 2-3 hari sebelum bepergian. Misalnya dengan menggelapkan kamar dan beristirahat di jam-jam yang di tempat tujuan kira-kira memasuki malam hari.
Penerbangannya sendiri mungkin bisa direncanakan di jam-jam tidur anak. Jadi di mayoritas waktu perjalanan, anak dalam kondisi tidur.

Disarankan juga sebelum perjalanan dengan menggunakan pesawat, 4-5 hari sebelum hari keberangkatan, anak diperiksakan ke dokter untuk memastikan tidak sedang mengalami hidung mampet atau infeksi telinga. Kedua kondisi ini akan membuat tidak nyaman saat di dalam pesawat karena tekanan udara yang tinggi.

Untuk mengatasi rasa tidak nyaman di telinga saat take-off dan landing, anak bisa diberikan disusui, diberi dot, atau empeng untuk mengaktifkan efek menelan yang bisa membuka saluran tuba eustacius untuk mengurangi tekanan telinga. Tapi tidak semua anak akan merasakan ini, ya, Moms. Kalau anak memang sedang tidur, anteng-anteng saja dan tidak rewel, baiknya dibiarkan saja. Tidak perlu dipaksa untuk menyusu, apalagi sampai dibangunkan. Penggunaan ear-plug juga tidak berguna menurut dr. Johnny, kecuali bila yang dinaiki semacam pesawat perintis yang berbaling-baling berisik.

O, ya, untuk yang sering bepergian ke negara-negara empat musim, sebaiknya bayi sudah mendapat imunisasi IPD dan influensa untuk mengurangi resiko tertular ketika sedang berkunjung. Perhatikan bahwa pemberian imunisasi harus sudah tuntas minimal dua minggu sebelum jadwal keberangkatan untuk memastikan vaksin telah aktif bekerja. Vaksin influensa misalnya, diberikan dalam dua dosis, masing-masing berselang paling cepat dua minggu. Jadi sudah harus diambil sebulan sebelum berangkat.

Terakhir, cari info apakah negara tujuan mempunyai penyakit endemik. Bila negara tujuan adalah endemik meningitis, ada baiknya juga anak baru melakukan perjalanan setelah vaksinasi meningitisnya tuntas. Sayangnya di Indonesia belum ada vaksin meningitis untuk anak dibawah usia dua tahun. Saran terbaik adalah menunda perjalanan sampai anak bisa mendapatkan vaksin tersebut.

Siap melaksanakan perjalanan jauh bersama anak(-anak)? Jangan lupa mencatat berbagai detil perjalanan untuk di-sharing ke Mommiesdaily :)


One Comment - Write a Comment

  1. Libur Lebaran kali ini gue akan mudik ke Tasikmalaya. Perjalanan dengan mobil, normalnya sekitar 5 jam. Tapi kalau lagi musim mudik, ya biasanya lebih panjang :)

    Yang paling gue khawatirkan saat perjalanan ke Tasik ini adalah kalau Maika mau pipis. Maika itu susah banget disuruh pipis kalau dia merasa tidak mau pipis, tapi saat dia udah mau pipis, harus saat itu juga pipis! *grrrrrr*
    Selama perjalanan ke Tasik tidak banyak WC umum, adapun paling di restaurant dan pom bensin yang biasanya kloset jongkok dan kurang bersih :( Hasilnya, Maika cranky banget kalau disuruh pipis, gak nyaman. Hadeuhh..
    Akhirnya, gue selalu bawa diaper ukuran paling besar! Biasanya beli yang murah aja, karena akan sekali pipis trus buang. Cukup membantu :) Walau awalnya Maika gengsi karena udah gak mau pake diaper, tapi dia pilih pipis di diaper daripada di kloset jongkok dan kotor :)

    Berat Maika udah 17.5 kilo, jadi pilih diaper untuk berat sampai 20 kilo biasanya.

Post Comment