Sunat Pertama di Keluarga Kami

Liburan sekolah 2013 ini kami isi dengan…sunat :D
Sudah sejak tahun lalu sebenarnya Darris (8,5 tahun, kelas 3) minta sunat. Awalnya karena di Semarang dulu teman-temannya banyak yang sudah mulai sunat. Sayangnya, saat itu kami masih repot pindahan dan masuk sekolah baru, jadi baru terlaksana tahun ini.Karena sudah jadi rencana sejak setahun sebelumnya, otomatis sounding dan diskusi juga sudah berjalan sejak sebelumnya. Biasanya cerita-cerita tentang apa sih sunat itu, dan apa proses yang akan dijalani. Saya memilih untuk tidak mencari gambar tentang proses sunat di internet karena takut malah bikin jiper :D. Perbandingan antara penis yang sudah sunat yang belum juga Darris sudah tahu karena sering mandi bersama si Ayah dan adik cowoknya ada dua.

Jangan dikira karena sudah lama direncanakan jadi nggak takut. Beberapa kali saya lempar pertanyaan di momen yang berbeda-beda juga jawabannya berbeda. Kadang iya tetap mau, tapi lain kali,”nggak jadi sunat aja, aku nggak siaapp.” :D Bahkan saat sudah di ruangan sunat pun masih maju-mundur lagi. Saya rasa kalau kami turuti terus maju mundurnya mungkin nggak akan sunat sampai bertahun-tahun ke depan.

Biasanya yang memotivasi anak mau sunat adalah teman-teman sepermainannya sudah/akan segera sunat. Kalau rata-rata belum, jangan heran anak tidak berminat sama sekali untuk sunat. Inilah salah satu alasan yang membuat Darris cenderung jadi ogah sunat setelah di Jakarta. Teman-temannya di Jakarta masih jarang yang sudah sunat.

Sejak Darris ingin sunat, saya beberapa kali bertanya pada ibu-ibu teman seper-chatting-an saya yang sudah menyunatkan anaknya. Wah, ternyata sekarang ada beberapa cara sunat, ya. Yang paling umum adalah:

  • smart clamp
  • cauter
  • konvensional
  • atau kombinasi dari ketiganya, misalnya konvensional-cauter.

Cauter adalah cara memotong dengan semacam pembakar. Mungkin cara ini, ya, yang orang sering istilahkan juga dengan ‘pakai laser’. Keuntungan dari penggunaan cauter ini, karena sifatnya membakar, jadi pendarahan bisa diminimalisir ketimbang dengan pemotongan konvensional. Otomatis luka juga relatif lebih cepat sembuh.
Tapi saya kok parno, ya. Rasanya, kok, dengan cauter kalau sampai ada melesetnya, lebih irrepairable ketimbang dengan pemotongan biasa karena jaringan akan rusak bila tidak sengaja terbakar.

Prosedur yang banyak dipakai sekarang smart-clamp. Yaitu semacam penjepit untuk menjepit kulit yang akan dipotong, lalu dengan sistem cauter atau konvensional kulit akan dipotong.
Saya tidak memilih prosedur ini karena anak akan sakit dua kali yaitu saat pelaksanaan, dan beberapa hari setelahnya saat penjepit harus dilepas kembali.

Setelah membandingkan beberapa prosedur yang umum digunakan, saya memilih prosedur konvensional, dengan konsekuensi perdarahan agak lebih banyak dan harus lebih waspada akan kemungkinan infeksi karena luka cenderung basah.

Jangan lupa juga menyiapkan beberapa (saya sediakan 3 buah) celana sunat. Celana ini cukup membantu mobilitas anak karena lebih praktis tidak perlu memegangi sarung di daerah penis atau memegangi semacam sarangan penutup agar penis tidak tergesek. Sepupu Darris yang kebetulan sunatnya berselang seminggu lebih dahulu, tanpa celana ini praktis di rumah terus dan pakai sarung terus :D. Sementara Darris setelah sunat langsung minta ke Pasar Tebet cari Omnitrix Ben10 *tepokjidat*.

O, ya, sebelum menjalani prosedur sunat, Darris diminta menyerahkan hasil lab yang mendeteksi kecepatan pembekuan darahnya. Hasil dari tes ini menentukan perlu atau tidaknya menyiapkan tindakan ekstra untuk mengatasi pendarahan.

Dokter Arum di Markas Sehat yang melakukan prosedur sunat pada Darris memperingatkan bahwa akan terasa sakit saat disuntik bius. Saya sempat berkilah bahwa Darris pain-tolerance-nya termasuk tinggi karena saat diambil darah untuk lab pun katanya nggak berasa :D. Tapi ternyata benar kata dr. Arum, di daerah tersebut sensitivitasnya tinggi, jadi rasa disuntik juga lebih sakit. Benar saja, Darris kesakitan dan cenderung memberontak saat penyuntikan.

Sebelumnya, dr. Arum juga menjelaskan bahwa di bagian bawah dari pangkal penis terdapat pembuluh yang cukup besar. Di sinilah biasanya yang rawan infeksi karena kalau habis pipis, tanpa disadari sisa urine meleleh mengenai lokasi tersebut. Karena itu ditekankan bahwa sehabis pipis penis harus dibilas dengan larutan NaCl lalu dikeringkan sampai kering benar dan jangan sampai ada sisa urine yang meleleh. Jangan gunakan kapas untuk mengeringkan penis, karena kapas akan meninggalkan serat-serat yang bikin PR sendiri bersihinnya. Pakai kasa kering atau tisu ditotol-totol juga bisa. Pantau bila ada sisa tisu yang tertinggal jika sobek karena terlalu basah.

Ada baiknya selama proses pemulihan anak hanya menggunakan sarung atau celana sunat, tanpa di-double celana lain. Agak risih mungkin, tapi makin sering terangin-angin dan kering, luka akan lebih cepat mengering.

Untuk memantau infeksi, dr. Arum memberikan rambu-rambu yaitu:

  • Pendarahan yang menetes terus-menerus.
  • Pantau bila ada pembengkakan dan kulit yang berwarna kemerahan. Lokasi infeksi biasanya akan terasa lebih hangat dari sekitarnya.
  • Rasa sakit yang tidak biasa. Penis sehabis sunat akan terasa sensitif dan tidak nyaman. Tapi nyeri luka bekas sunat harusnya makin mereda.
  • Demam.

Bila curiga ada kondisi yang tidak biasa, segera konsultasikan ke dokter. Kemarin Darris sempat saya kira agak infeksi. Tapi setelah mengirim foto ke dr. Arum, beliau menyarankan untuk dipantau dulu beberapa hari berikutnya dan lebih mengetatkan pengawasan saat membilas dan mengeringkan penis sehabis pipis. Alhamdulilah kemudian kondisi membaik. Selang dua minggu luka di sekitar pangkal penis mengering dan mengelupas sendiri.

Mommies ada yang sudah pernah menyunatkan anaknya? Mungkin ada sharing atau kiat yang mau ditambahkan?


One Comment - Write a Comment

  1. jeeeung :) selamat bentuk baruu yaa Daris :p
    aku des’12 kmrn,2 anak skalian(6th n 3th),ptimbangannya skali repot :p stlh cr sana sini metode apa yg ‘enak’ akhrnya pk yg smart clamp(yg ga tll ribet pnanganannya-imo yaa) :p

Post Comment