What Do You Fill in ‘The Box’?

Beberapa waktu lalu, ketika mengikuti workshop bersama Carrie Lupoli a.k.a Chief Mum, dari banyak hal yang penting dan menarik untuk diingat, diterapkan dan di-share, ada satu konsep yang saya catat secara istimewa, ‘fill the box’.

Jadi, istilah atau pengandaian itu sendiri tercipta, saat suatu kali Carrie sebagai ibu dari 2 anak usia sekolah menyampaikan bahwa ia menginginkan anaknya tersebut untuk selalu jujur, bagaimanapun situasinya (sebagai respon atas sebuah peristiwa – kira-kira demikian). Lalu sang anak bertanya, “Why do you care Mom, why do you even care about me being nice?”. Sempat berpikir sejenak, kemudian Carrie berkata “Because you are like empty boxes, and my job is filling out those box with all things you need to know, you need to have throughout the life. So, anytime you need to, you can take something from that box“.

Sounds complicated for 6-8 years old kids? Mungkin, tetapi justru pengandaian tentang kotak tersebut, tentang sebuah kotak kosong yang bisa diisi banyak hal itu sangat terekam di memori. Saat workshop pun, di hadapan kami masing-masing ada sebuah kotak kardus kosong, yang harus diisi, apapun yang menurut kita ingin kita masukkan ke dalam boks, ke dalam anak kita.

 

 

Life skill, good habits, values, knowledge, anything… apa yang menurut kita harus kita masukkan ke kotak tersebut. Bingung? Saya kira tidak, karena setiap orangtua pasti ingin menanamkan nilai-nilai yang baik kepada anaknya. Tetapi ada filosofi lebih jauh di balik hal tersebut yang menggugah.

Pertama, apa yang kita masukkan ke dalam boks, tentu tergantung pada tujuan orangtua membesarkan anak-anaknya. Apa, sih, tujuan utama kita, the ultimate goal of raising our kids?

Yang kedua, boks (kosong) tersebut bisa diisi dengan apa saja, oleh siapa saja. So, I wanna make sure that all in the box is came from me -or at least, most of them-. Do we take the responsibility to fill it in, or we relying on someone others? Wow,kalimat tersebut sangat menancap di hati saya, bahwa setiap tindakan, komunikasi, afeksi, dan semua yang saya lakukan untuk anak-anak saya adalah untuk memastikan bahwa isi ‘kotak’ milik anak-anak adalah berasal dari saya, kami, orangtuanya.

Hmm, memang benar bahwa konsep boks ini hanyalah bentuk penggambaran lain dari hal-hal yang sudah kita -orangtua- pahami sebelumnya. Bahwa hal ini maknanya sama dengan ketika suami saya pada kesempatan casual ngobrol dengan anak saya, “Jadi ayah ingin memberikan ‘bekal’ untuk Akhtar, yang penting untuk menghadapi tantangan usaha kalau sudah besar nanti. Bekalnya itu bukan uang, tapi keahlian penting, math skill, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan seterusnya”. Atau persis artinya dengan ungkapan ‘anak kita adalah seperti kertas kosong, kita yang akan mengisinya’.

Tetapi pengandaian yang ‘baru’ bagi saya ini, membuat saya lebih memahami, bisa lebih memaknai dan selanjutnya menginternalisasi tujuan dari konsep tersebut. Bagi saya, membuat setiap momen, setiap detik dengan anak saya menjadi bermakna -even only for me- is all worth it.

So, back to the question, what do you want to be filled in the box? ;)

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment