I Keep My Promise To You!

Suatu hari di tahun 1990, saya yang saat itu berumur 5 tahun sedang jalan-jalan di Pasaraya bersama Bapak dan Ibu. Saya melihat sederet rumah boneka cantik dan jatuh cinta. Saya utarakan keinginan ke Bapak, saat itu Bapak bilang “Kiki mau? Boleh, tapi sekarang Bapak tidak ada uang. Nanti Bapak gajian tanggal 1, kita beli, ya!” Rasanya ingin menangis, tapi ya sudah, mau gimana. Kebetulan saya bukan tipe anak yang meraung-raung jika ingin sesuatu. Mungkin trauma sebelumnya pernah nangis, tantrum, karena minta jajan ke warung. Ibu cuma bilang “Kiki kok nangis? Ya sudah, nangis saja, ibu tunggu di sini ya. Kiki nangis sampai air matanya berubah jadi darah juga tidak akan ibu ijinin jajan ke warung, hujan, nak!” Dan menangislah saya disamping ibu yang duduk santai sambil baca majalah. HAHAHA. Dinginnya si ibuuu! Kembali ke rumah boneka yang saya inginkan, tanggal 1 tiba, saya sudah lupa dengan si mainan tersebut. Setelah sarapan, Bapak bilang “ayo siap-siap ke Pasaraya, kita beli rumah boneka yang Kiki mau waktu itu, oke?”dan Kiki kecil pun sumringah seharian karena rumah boneka akan menjadi miliknya sesuai janji Bapak.

***

Entah mengapa, kejadian almarhum Bapak menepati janjinya untuk rumah boneka ini selalu teringat manis di pikiran saya. padahal saya masih 5 tahun waktu itu. Dan memang setelah diingat-ingat, (alm) Bapak dan Ibu selalu menepati janji dan omongannya. Sehingga saya sangat menghargai jika (alm) Bapak atau Ibu menolak memberikan benda atau meluluskan suatu keinginan setelah alasan logis dilontarkan. Tidak ada yang namanya janji palsu, apalagi dibohongi hanya agar saya diam atau agar saya melakukan sesuatu.

Jika saya tidak mau mengerjakan PR karena malas, ya Bapak bilang, kalau besok saya harus menanggung akibat dihukum karena tidak mengerjakan tugas. Kalau saya malas minum susu, ya Ibu bilang, kalau tidur saya mungkin tidak akan nyenyak karena sudah terbiasa minum susu hangat sebelum tidur. Kalau saya ingin tas baru, ya tergantung ada rejeki atau tidak, kalau ada dan memang sudah waktunya beli tas, monggo beli. Kalau tidak ada rejeki dan sudah waktunya beli tas, ya tunggu Bapak ada rejeki. Kalau belum waktunya beli tas, ya diberikan pengertian kalau tas saya masih baik kondisinya sehingga belum saatnya mengganti tas dengan yang baru,

Omongan orang tua yang bisa dipegang rupanya menjadi suatu hal yang penting, karena saya jadi malas untuk berbohong. Jujur saja, apa adanya. Ini memang menjadi satu konsentrasi Bapak dan Ibu, mereka ingin anaknya menjadi anak yang jujur, caranya dengan memegang omongan, menepati janji. Tanpa perlu saya tagih, janji Bapak dan Ibu selalu ditepati sesuai kalimat yang keluar saat negosiasi. Kejujuran saya juga dihargai (dan sayapun tidak takut untuk berkata jujur, hanya karena takut dimarahi), misalnya saya tiba-tiba tidak ingin ke sekolah, dan pas ditanya, saya jujur saja jawab kalau sedang malas. Saya boleh bolos sekolah saat itu (asal kuota bolos masih ada hehe, beruntung Bapak dulu juga seorang dosen, jadi tahu hitungan persentase absen kelas).

***

Ini menjadi pelajaran berharga bagi saya yang tentunya ingin punya anak yang jujur dan bebas tantrum. Dari mulai bayi, saya berusaha untuk tidak berbohong ke Menik. Jika memang belum waktunya beli mainan, ya sudah, di toko cukup lihat-lihat saja. Jika saya sedang mandi, dan Menik ribut di luar, ya saya berikan pengertian kalau saya sedang mandi, dan Menik harus sabar tunggu di luar. Setelah itu ibunya juga harus sabar denger anaknya cranky di depan pintu kamar mandi. Lain lagi ceritanya kalau memang saya janji Menik boleh ikut masuk ke kamar mandi, maka saya akan mengajak Menik ke kamar mandi tanpa menunggu apakah ia ingat atau tidak kalau hari ini boleh ikut ke kamar mandi. Memasuki usia 21 bulan, Menik mulai mengerti jika saya dan suami berjanji maka pasti akan ditepati. Jika disuruh bersabar menunggu ibu pakai baju sebelum minum ASI maka 8 dari 10 kali negosiasi, akan diikuti tanpa tangisan atau rengekan oleh Menik.

Membangun kepercayaan dengan menepati janji seperti ini ingin saya pelihara saat mendidik dan membesarkan Menik, karena saya yakin akan berdampak besar pada kepribadiannya saat besar nanti. Menjaga janji ini bisa berdampak besar bagi integritas diri dan juga kedisiplinan, dan yang paling penting adalah anak mengikuti apa yang orang tuanya lakukan, we lead them by example.

I’m not saying here that I am a very honest person, tapi setidaknya saya selalu berusaha untuk menepati janji. Hati akan terasa senang setiap mendapati janji ditepati, iya, kan? So don’t make promises if we can keep it. Because promise is a big word, it either makes something, or it breaks everything.


*Gambar dari sini


6 Comments - Write a Comment

  1. weewww… kalo boleh mewek, mewek dah saia. inget bapak + ibu dan pola asuh beliau yang jaman dahulu kala, ketika saia masih kecil. dan baru saya mengerti ketika saia punya anak dua! saia baru mengerti kenapa bapak+ibu dulu pernah berbuat se’tega’ itu pada anaknya sendiri cuma karena mainan, hehe…
    memang kelihatannya sepele yah, tapi ternyata ‘promise is big thing’. anakku malah lebih sering ngingetin, ” hayooo mama kan udah janji kalau nilaiku bagus, mama mau beliin sepeda baru ….” atau ” aku kan udah janji maem permennya cuma boleh seminggu sekali…”
    kalau udah gitu jadi terasa dia lebih gimanaa gituu…

  2. wah, sama banget dengan yang saya coba ajarkan ke anak sedari kecil. hasilnya anak ga pernah yang namanya sampai nangis guling-guling karena minta sesuatu. sampai sekarang pun semua keinginan bisa dikompromikan dengan baik.. alhamdulillah banget.. :)

Post Comment