Serunya Main Layangan!

Siapa yang masih mengajak anaknya main layangan?

Saya pernah mengajak Langit main layangan, tapi baru sekali. Dan Langit senang sekali! Nyesel, nggak sering-sering ngajak dia main layangan, deh.

Beberapa waktu lalu, saya memenuhi undangan Tango Waffle Playday yang temanya “Ngabuburit Sambi Main Layangan, Yuk!” di Selasar Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini. Jadi, Tango Waffle mulai bulan lalu mengadakan Hari Bermain di hari Sabtu minggu ke dua setiap bulannya.

Bersama Komunitas Maen Nyok, Tango Waffle berkomitmen untuk mengajak anak bermain. Kriteria bermainnya juga ditentukan, lho. Yaitu gerak fisik, sosialisasi (dimainkan bersama) dan kreativitas. Mungkin hal ini perlu ditekankan, karena banyak sekali kita temui anak-anak lebih menyukai main gadget yang minim gerak fisik, dimainkan sendirian dan kebanyakan hanya menyajikan tontonan.

Acara Play Day ini dibuka dengan bincang-bincang bersama JJ Rizal, budayawan Indonesia yang menceritakan mengenai layangan di Indonesia. Layangan, zaman dulu bukan hanya sebagai permainan tapi juga sebagai salah satu ritual. Mulai dari ritual pascapanen, sampai bonding antara ayah dan anak. Hal ini karena zaman dulu, layangan biasanya dibuat sendiri. Nah, proses pembuatan layangan ini lah bonding antara ayah dan anak terjadi. Apalagi menurut Bang JJ (panggilan akrab JJ Rizal), biasanya setiap keluarga menurunkan ‘resep’ membuat layangan jagoannya masing-masing. “Mirip kaya masak sayur asem lah, setiap keluarga pasti ada perbedaan”, tambahnya.

Kemudian peserta diajak untuk membuat layangan sendiri-sendiri. Karena saya datang bareng Langit, maka Langit hanya menggambar si layangan saja. Wah, dia excited banget lho! Katanya, “Aku kaya Timmy (Time) ya, bu, gambar di layangan”, haha!

Serius banget gambar di layangannya :)

Gambar di layangannya berjudul “Kakak Lagi Kasih Makan Ayam” :p

Setelah gambar di layangan jadi, kemudian layangan disambungkan dengan benang supaya siap diterbangkan. Lalu saya dan Langit berusaha menerbangkan layangan itu. Seru sekali! Ya, pada akhirnya untuk menerbangkan layangan ini dibantu oleh orang lain (termasuk Bang JJ), secara ibunya dari kecil memang kurang lihai main layangan. LOL.

Hujan sempat menghiasi acara Play Day kemarin, tapi rupanya peserta nggak keberatan sedikit kebasahan karena keasyikan main layangan. See? Mainan kita kecil ini ternyata masih nggak ketinggalan zaman, lho! Nggak kalah eksis, lah, pokoknya. Saya jadi menanti-nantikan Tango Waffle Play Day berikutnya, nih!

Langit bangga sekali atas layangan buatannya itu. Sepanjang jalan, ia sibuk cerita mengenai keasyikannya main layangan dan terus-terusan menagih saya untuk mengajaknya main layangan lagi. Mommies mau coba juga? Yuk, ajak si kecil main layangan :)


3 Comments - Write a Comment

  1. sempet beli dan main layangan waktu ada gath emak2 bbg gue di danau UI. daaannn terbukti ayahnya bocah2 masi ahli maen layangan dan bikin anak2nya bengong2 hahahaha. liat bapak2 lain rempong stabilin terbangnya layangan, si ayah cm lempeng berdiri aja sambil goyang2in tangannya dikit2 tapi layangannya diem ditempat! :D

    dimana sih yg enak main layangan di jakarta? di taman2 keganggu pohon2, sementara lapangan juga jarang…

Post Comment