Persiapan Psikologis Si Kecil Masuk Sekolah

Saya termasuk jarang mengikuti seminar parenting maupun kesehatan. Kebanyakan modal saya adalah bahan bacaan dan browsing. Tapi sependek yang saya tahu biasanya seminar hanya mengambil satu sudut pandang saja, either parenting saja, atau kesehatan saja, atau finansial, relationship, dst.

Nah, kali ini dengan topik Persiapan Anak Masuk Sekolah, seminar ini mengusung sekaligus dua sudut pandang:

  • dari segi kesehatan dengan pembicara dr. Arifianto (dr. Apin), apa saja yang harus dipersiapkan orang tua sebelum anak masuk sekolah, dan
  • sisi psikologis kesiapan anak untuk bersekolah dengan pembicara psikolog Toge Aprilianto.

Pak Toge di awal seminar menyatakan bahwa dirinya memposisikan diri sebagai pengacara anak-anak, jadi anak-anak selalu benar dan orang tua selalu salah :D.

Menurut beliau, pertama kali pertanyakan lebih dahulu kepada masing-masing orang tua: “Anak sekolah untuk siapa?”
Untuk kebahagiaan orang tua atau kebahagiaan anak? Supaya anak belajar hal-hal yang kita tidak mumpuni untuk mengajarkan sendiri pada mereka, atau supaya orang tua punya me-time?

“Sekolah itu perlu, bukan harus. Yang perlu adalah orang tua, bukan anak. Karena orang tua perlu bantuan dalam mengajarkan berbagai macam hal yang tidak dikuasainya kepada anak.”

Jadi fokuslah pada apa yang dibutuhkan anak, bukan orang tua. Dari sini, sekolah dikatakan OK bila dengan bersekolah memberi manfaat untuk anak.

Pastikan juga kita memilih sekolah dengan guru-guru, bukan juru-juru.
Apa bedanya? Juru menginstruksi dan memacu, tanpa mengindahkan kebutuhan dan kemampuan anak. Guru memberdayakan dan membangun kemampuan yang ada pada anak dengan optimal. Hati-hati, juru bisa membuat anak jadi mogok sekolah, ditingkatan manapun. Sementara guru pasti akan dicintai murid dan mata pelajarannya biasanya akan jadi favorit. Guru akan memahami bila anak kita maunya mengerjakan tugas sambil duduk di lantai misalnya, karena dengan begitu anak lebih enjoy dan tugas selesai dengan baik ketimbang dipaksa duduk manis di kursi tapi karena gelisah malah tugasnya amburadul.

*gambar dari sini

Pak Toge mempunyai tahapan alur pengasuhan yang didasarkan pada kemampuan mental anak, tanpa memandang umurnya. Atau mungkin lebih tepat dikatakan ‘umur mental’. Mirip seperti milestone, tapi secara psikologis. Tahap-tahap RUASDITO (Rute ASuh DIdik ala TOge) ini adalah:

  1. Membangun rutinitas.
    Sedini mungkin anak diperkenalkan pada rutinitas. Dengan adanya rutinitas, anak tahu what to expect sehari-harinya. Misalnya bangun tidur ada yang mandi dulu, tapi ada yang sarapan dulu baru mandi. Jadi saat anak bangun tidur, dia akan siap mandi atau makan dahulu tergantung kebiasaan yang dibangun.
  2. Sanggup (mau dan mampu) kecewa secara aman-nyaman.
    Poin ini berhubungan dengan poin pertama karena saat rutinitas harus terputus atau tertunda, misalnya kondisi khusus, sedang traveling, atau transisi ke perubahan rutinitas, akan ada masa adaptasi. Masa adaptasi ini berbeda-beda tiap anak (baca: orang). Kemampuan berubah ini melalui proses ‘kekecewaan’ terlebih dahulu, sampai kemudian bisa beradaptasi. Istilah sekarang, bisa move on :D.
  3. Nah, tidak semua orang bisa move on dengan aman dan nyaman, menjalani transisi perubahan dengan smooth dan tanpa (seminimal mungkin) drama. Anak tantrum karena perubahan? Itu biasa. Orang ‘dewasa’ juga banyak yang masih tantrum, kan, dengan perubahan? *wink*.

    Poin ini fokus bagaimana memfasilitasi anak belajar menjalani perubahan. Misalnya anak yang tadinya tantrum dengan agresif, menyakiti orang lain atau merusak sekitar, belajar untuk menyalurkan kemarahan melalui media lain yang aman. Misal untuk anak yang lebih besar, ‘menggambar’ atau ‘menulis’ kemarahannya. Berteriak atau menangis juga boleh, lho. Pak Toge justru melarang untuk menahan kemarahan, karena malah akan berujung ledakan emosi yang bisa lebih parah akibatnya.

  4. Sanggup bersepakat (‘dagang': dari pembeli-penjual sampai jadi rekanan).
    Beberapa perubahan yang terkait poin kedua, berhubungan dengan orang lain. Misalnya anak yang sedang asyik main, tiba-tiba disuruh makan atau mandi. Ini merusak ‘kerutinan’, lho. Adakah yang dalam kondisi ini si anak langsung patuh menghentikan aktivitasnya lalu melaksanakan suruhan kita dengan patuh tanpa drama? Salah satu anak saya ada yang agak ‘tantrum-proof’, yang ada malah saya khawatir kelak dia akan mudah terpengaruh oleh orang lain, terlebih yang negatif. Nah, di titik ini anak belajar bagaimana bernegoisasi.
  5. ‘Pembeli-penjual’ adalah situasi dimana anak yang tadinya sedang main disuruh mandi lalu ngambek, kita tawarkan kompensasi atas permintaan kita. Misalnya kesepakatan untuk mandi kompensasinya bisa kembali bermain lebih lama atau kita tawarkan sesuatu yang menjadi keinginannya. Makin ‘mahal’ permintaan kita (yang lebih besar kemungkinan ditolaknya :D) makin mahal juga tawaran kompensasi kita. Boleh juga, lho, kita menawarkan pada anak untuk menentukan sendiri kompensasi apa yang diinginkan. Bila kompensasi yang diminta terlalu mahal, kita berhak menawar dengan yang lebih murah. Saat anak bisa yang menentukan kompensasi yang sesuai dan saling bersepakat, saat itulah dia bisa menjadi ‘rekanan’.

    Catatan: untuk anak yang masih kecil, pastikan kompensasi yang ditawarkan bersifat riil, ya. Menerangkan bahwa suntik imunisasi itu perlu supaya daya tahan tubuh bagus memerlukan kemampuan abstract thinking yang belum dicapai maksimal di usia pra-sekolah.

  6. Sanggup berjuang.
    Level ini adalah titik dimana anak sanggup menjalani yang ‘nggak enak’ untuk memperoleh yang ‘enak’, lebih bagus lagi kalau bisa menjalani yang nggak enak untuk sesuatu yang ‘perlu’. Pada dasarnya orang hanya tahu yang enak, apalagi anak-anak. Masih susah menjalani yang nggak enak, walau dapat kompensasi enak.
  7. Contoh paling mudah nggak enak vs enak misalnya bantu cuci piring vs dapat ‘gaji’, sedangkan nggak enak vs perlu misalnya suntik imunisasi vs imunitas. Karena inilah dagang dengan anak harus pandai mencari celah mana yang ‘enak’ untuk anak sebagai penawaran. Anak lebih susah memaknai ‘perlu’ ketimbang ‘enak’. Otomatis tawaran berbasis ‘perlu’ akan lebih susah disepakati oleh anak.

  8. Sanggup membuat keputusan mandiri secara rasional.
    Bila anak sudah lulus empat poin diatas, diharapkan anak sudah bisa menimbang keputusan dan tindakan tidak hanya dari sisi ‘enak’, tapi dari sisi ‘perlu’ juga. Di level ini orang tua sudah tinggal mengikuti dari belakang, memantau saja keputusan yang diambil anak.
  9. Menjadi dewasa (sanggup berpikir-belajar-peduli).
    Setelah melalui tahap sanggup membuat keputusan mandiri, anak diajarkan juga apa konsekuensi dari keputusannya baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Belajar berempati. Bila sudah lulus tahap ini secara mental anak bisa dikatakan dewasa.

Keenam poin ini saling berurutan. Idealnya ‘lulus’ yang satu dulu baru masuk ke tahap berikutnya.

Sepanjang ini dan belum membahas tentang kesiapan sekolah? Sebenarnya sudah :D.

Oleh pemerintah kesiapan sekolah dinilai dengan usia, padahal ‘usia mental’ masing-masing anak bisa berbeda-beda. Menurut RUASDITO, kesiapan sekolah adalah saat anak sudah bisa masuk level ke-4, karena sekolah bagi beberapa anak termasuk sesuatu yang nggak enak. Nggak enak harus bangun dan mandi pagi setiap hari sekolah, nggak enak harus mengikuti aturan, tidak bisa bermain seenaknya seperti di rumah, dst.

Bila anak belum bisa menyukai kegiatan bersekolah, memilih bekal tidak seru, baju seragamnya tidak keren, teman-temannya nggak asyik, gurunya dibilang galak, dan proses bersepakat juga tidak berhasil, mungkin anak memang belum siap untuk sekolah. Kadang-kadang bersepakat berhasil untuk hari-hari pertama sekolah, tapi seterusnya memerlukan daya juang si anak untuk bisa konsisten bersekolah. Lingkungan sekolah juga harus mendukung. Kalau anak sering di-bully oleh temannya, guru tidak merespon keluhannya atau lebih memihak pem-bully, anak juga bisa jadi mogok sekolah.

Jadi, selain memastikan anak siap sekolah, pastikan juga sekolah siap menerima anak :)

Sudahkah anak dan sekolahnya siap memulai belajar-mengajar?