Akhirnya, Tidur Di Kamar Sendiri

“Jadi malam ini Langit mau tidur di kamar sendiri?”

“Iya, mau. Kan aku udah TKB”, jawab Langit mantap tanggal 14 Juni yang lalu.

Menjelang akhir tahun ajarannya di TKA kemarin, saya memang sudah menawarkan Langit untuk tidur di kamarnya sendiri. Tapi Langit masih enggan, katanya, “aku mau bobo sama ibu terus, sampe kuliah” #okesip.

Saat itu saya pikir, ya sudahlah, nanti juga ada saatnya dia mau tidur di kamarnya sendiri. Tapi kemudian saya iseng bertanya lagi, “Langit kapan mau tidur sendiri”. Nggak disangka, jawabnya “Nanti kalau TKB”. Wah, kesempatan, nih. Setelah pentas seni, 11 Juni, saya menawarkan apa ia mau tidur sendiri, kan sebentar lagi TKB. Ia mengangguk, eh malah sayanya yang nggak tahan, “ntar aja deh, setelah bagi rapor ya”. Dasar ibunya yang cemen, haha.

14 Juni, setelah bagi rapor, malamnya saya tawarkan Langit tidur sendiri. dia langsung mengangguk. Saya terharu. Lebay, ya? Tapi beneran, saat itu pikiran saya hanya, “aaaah, anakku sudah besar”.

Untuk Mommies yang merencanakan pisah kamar dengan si kecil, ini beberapa kiatnya:

  • Persiapkan kamar si kecil jauh hari sebelum pisah kamar dilaksanakan.

Dengan mempersiapkan kamar jauh-jauh hari, kita bisa mengajak si kecil main atau tidur siang, misalnya, di kamar tersebut. Si kecil juga bisa ikut menentukan hiasan atau warna kamar yang ia inginkan. Saya sudah mempersiapkan kamar Langit dari tahun 2012, lho! Haha. Kemudian, saya juga membelikan beberapa pernik untuk melengkapi kamarnya, agar ia kerasan di sana :)

  • Temani anak di kamar sebelum ia terlelap

Nah, ini saya kurang tau tepat atau tidak. Kalau di film-film ‘bule’ sana, kan, orangtua hanya mengucapkan selamat malam, kemudian meninggalkan anak sendiri di kamarnya. Tapi kalau saya, memilih untuk menemani Langit dulu sebelum ia terlelap. Biasanya kegiatan yang kami lakukan adalah membaca buku cerita. Sebelum ia terlelap, saya kasih tau Langit, bahwa setelah ia terlelap saya akan pindah ke kamar saya, karena ini kamar Langit sendiri. Syukurlah ia mengerti :)

  • Percayakan pada anak apa yang ia inginkan di kamar tersebut.

Pada malam pertama, Langit bilang, mau bawa boneka rusa dan singa yang biasanya ia ajak main di siang hari. Walaupun agak keberatan, karena 2 boneka tersebut cukup besar dan pastinya agak kotor, tapi berhubung menurutnya “Itu biar nemenin aku malam-malam”, jadi terpaksa saya iyakan.

Lain hal lagi, ketika posisi kasurnya dipindah, ia pun sibuk ingin memindahkan stiker-stiker yang ada di dinding agar berada tepat di atas kepalanya. Walaupun PR, karena beberapa malah meninggalkan bekas yang bikin dinding terkelupas, tapi saya iyakan juga. Bukannya menuruti semua permintaan, tapi saya mencoba menghargai dan memercayai pilihannya.

  • Pastikan letak kamar anak accessible.

Untunglah rumah saya tipenya 4L alias “lo lagi-lo lagi”, mungil gitu. Jadi jarak antara kamar Langit ke kamar saya hanya sekitar 3 langkah. Haha. Jadi dengan sekali teriakan, saat ia terbangun di malam hari mencari saya, saya bisa segera melompat.

Dan juga kalau Langit terbangun dan mencari saya juga ia tinggal masuk ke kamar. Saya kurang tau, ya, ini bagus apa nggak. Tapi menurut saya, karena masih baru pisah kamarnya, saya perlu menanamkan kepercayaan pada Langit, bahwa ibu dan bapaknya selalu ada.

  • Yakinkan diri sendiri dan pasangan bahwa memang ingin pisah kamar.

Tanyakan pada diri sendiri, “benar, mau pisah kamar?”. Jangan sampai nanti malah nggak konsisten, si anak tetap diajak tidur bareng di kamar orang tua atau kita yang pindah ke kamar anak. Atau seperti cerita Miund yang pernah sampai memeluk ranjang anaknya :’)

Dua hari pertama, saya ketiduran di kamar Langit, haha. Lalu beberapa malam berikutnya, suami saya ke luar kota, malah saya sengaja tidak pindah kamar, hihi, ibunya labil. Tapi kemudian di saat normal, ya, saya tetap pindah kamar nggak peduli jam berapapun itu.

Nah, untuk pasangan, kadang-kadang, kita yang ingin pisah kamar, eh ternyata suami masih belum mau. Haha. Dalam kasus keluarga kami, suami saya beberapa kali mengutarakan bahwa Langit sepertinya bisa pisah kamar. Eh, pas praktiknya, dia bolak balik nanya, “beneran Langit tidur sendiri?”, hihi.

Walaupun baru sebulanan di kamar sendiri, tapi saya sudah bisa mendeklarasikan bahwa Langit sudah tidur di kamar sendiri, lho! Dan anaknya tampak bangga dengan ‘prestasi’nya ini. Setiap ditanya orang, “Langit sekolah kelas berapa?”, ia akan menjawab, “Aku udah TKB, udah bobo sendiri dooong” :’)

 


2 Comments - Write a Comment

  1. Aih, mengharukan sekali :’) Safina sekarang masih 2 tahun, jadi ibunya pun sama sekali belum rela pisah kamar (bukan anaknya :D). Tapi suatu hari akan seperti Langit juga ya, tidur sendiri di kamar sendiri :)

Post Comment