3 Cara Meredam Ledakan Emosi

Banyak yang bilang kalau pertengkaran dalam rumah tangga itu hal yang biasa. Tapi buat saya kalau cek cok bisa dihindari atau diredam, tentu akan jauh lebih baik. Apalagi buat tipe pasangan yang jam kerjanya berbeda seperti saya.

Bisa dibilang jatah saya ketemu dengan suami nggak terlalu banyak. Maklum aja, suami saya yang bekerja di salah satu media online mengharuskannya kerja dengan waktu shift. Dua minggu pagi, dua minggu kemudian malam. Jadi, kalau sedang kebagian jatah tugas malam, ya, paling bisa ketemu cuma 2 jam-an.

Makanya, saya nggak mau nyia-nyian waktu yang sangat terbatas itu. Maunya, sih, setiap ketemu selalu mesra, hahahaha. Tapi, ya, namanya hidup, pasti nggak akan bisa terhidar dengan yang namanya konflik. Benturan-benturan akan selalu ada. Tapi yang paling penting itukan gimana cara kita ngatasinnya.

Susah? Ya, pasti! Apalagi bisa dibilang saya ini orangnya rada tambeng. Kalau mau A, ya, sebisa mungkin bisa mendapatkannya. Nah, kalau sudah nemu situasi yang seperti ini, biasanya ada tiga cara yang saya aplikasikan untuk meredam emosi.

Mencari posisi yang sebenarnya

Biasanya, salah satu yang sering micu pertengkaran adalah masalah ego. Dalam hal ini, dibandingkan dengan suami ego saya jauh lebih besar. Nah, kalau sudah mulai ribut-ribut kecil, biasanya saya selalu berusaha kembali memosisikan diri ke tempat yang seharusnya. Dan mencoba untuk berempati dengan pasangan. Misalnya, nih, pada saat saya memintanya untuk menemani ke salah satu undangan pernikahan teman,tapi sebenarnya pada malam tersebut Doni harus bekerja. Daripada dia tidak konsentrasi kerja karena jatah tidurnya digunakan untuk mengantar saya, saya pun harus harus rela pergi ke pesta pernikahan tanpa pasangan.

Inhale Exhale

*foto dari sini

Saya termasuk perempuan yang ekstrovert,dengan mudah bisa menunjukan ekspresi. Baik saat lagi senang, sedih, ataupun kalau sedang marah. Biasanya, nih, kalau lagi berantem dengan suami, pertama-tama yang saya lakukan adalah mengeluarkan unek- unek yang ada di hati. Biar plong gitu, lho :D Saat perbincangan sudah mulai ‘panas’, biasanya saya berusaha menahan ‘ledakan’ emosi. Bukan nggak mungkin apa yang saya utarakan itu keluar tanpa difilter lagi. Biar nggak salah memilih kata-kata, saya selalu mencoba menahan diri dengan melakukan hitungan dalam hati dan bernapas pelan-pelan.  Biasanya, sih, cara ini cukup ampuh membuat emosi saya jadi surut. Selain itu, pikiran saya pun bisa jauh lebih jernih.

Singkirkan Niat Kasar

Masih inget nggak dengan kasus pemukulan pramugari ataupun penjaga tiket KRL yang terjadi belum lama ini? Ngeselin banget, yah!  Meskipun katanya nggak segaja atau apalah dalihnya, yang namanya berbuat kasar itu ya nggak baik! Hal ini berlaku baik verbal atau non-verbal seperti mengeluarkan kata-kata sinis atau mengungkit masa lalu yang bisa menyudutkannya. Semarah ataupun sekesal apapun, saya selalu mencoba ingat kalau perbuatan kasar cuma hanya memperbesar jarak jalannya kedamaian.

Kalau ke tiga cara ini cukup ampuh untuk meredam emosi  saya, bagaimana dengan Mommies? Mumpung bulan puasa, nih, siapa tau berguna bagi kita semua, share dooong :)

 


4 Comments - Write a Comment

  1. Wah klo buat saya sampai saat ini masih per-er besar untuk meredam emosi ini. Biasanya marah-marah dulu trus setelah itu baru menyesal (terlambat ya hehehe). Saya mau mencoba tips menghitung dalam hati, semoga ketika marah-marah jadi bisa sedikit teredam :)

  2. PR banget juga buat gue yang anger management-nya masih berantakan. Gue biasanya istighfar, lalu menyingkir dari hal yang bikin emosi. Misalnya itu suami, ya gue menghindar dulu saat emosi masih tinggi daripada ga kekontrol. Setelah itu biasanya wudhu lalu sholat sunnah aja (agamis banget ya? hehe), ini biasanya kalo emosi udah bener2 meledak dan untuk hal2 yang luar biasa.
    Abis itu baru agak tenang, dan bisa refleksi diri ada apa sebenarnya. Apa yang bikin emosi, semacam ngobrol sama diri sendiri deh :)

    TFS, Dis!

  3. Hahahahaa, aku aku akuuu anaknya gak sabaran banget (berikut pas punya anak ternyata HARUS banget sabar!!) Gue kalo udah emosi ya diem sih, sama kayak Lita, mending menghindar si pemicu emosi daripada tiba-tiba ngemeng gak jelas x)) Kadang daripada merepet marah-marah gak ada juntrungannya (kan kalo lagi kesal, apa juga keluar tuh ya, si uneg-uneg) gue biasanya kirim email, HAHA. Pake pointers bisa jelas, jadi masalah bisa diselesaikan dengan baik. Satu lagi, kirim email ini juga menghindari supaya tidak mengungkit masalah yang sudah lampau dan sebetulnya sudah selesai.

    Tarik nafas sambil ngitung sampe 10, sih, pertolongan pertama saat cekcok datang :D

  4. Hiahahaha…. sama bgt, Ki… gue juga nggak sabaran (banget). Dibanding suami kadar sabar dia justru jauh lebih besar. Gue cenderung cepet meledak :D makanya hrs pinter2 cari cara biar nggak bablas. Jd kl untuk nahan utk nggak ngomong dan menghindar sementara sprti Lita dan yg elo lakuin, sprtinya susah untk gue, hihihi. Kl nggak ngomong, ky ada yg ganjel, gitu lhooo…. aniway, cara ngirim email juga kynya lucu juga tuh ;) sepertinya bisa diterapkan. Tfs, yaaaa

Post Comment