Museum Wayang

Museum Wayang terletak di sisi kiri dari lapangan depan Museum Fatahilah. Bangunan dari Museum Wayang ini tadinya sebuah gereja yang dibangun VOC pada tahun 1640 dengan nama “De Oude Hollandsche Kerk“ atau Gereja Belanda Tua. Sebagai akibat terjadinya gempa besar pada 5 Januari 1699, bangunan Gereja Belanda itu rusak. Di lokasi bekas gereja tersebut kemudian dibangun gedung yang nampak sebagaimana sekarang ini.

Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang, terdapat 9 buah prasasti nisan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan disitu. Makam-makam ini sekarang telah dipindahkan ke daerah Tanah Abang.
Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah kekuasaan Pangeran Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Keraton Banten.


Melalui Museum Wayang, pengunjung diajak untuk mengenal berbagai karakter, sikap, maupun perilaku lakon yang mempunyai bobot yang luhur dan tinggi nilainya dalam budaya kita.

Koleksi Museum Wayang bervariasi dari wayang kulit, wayang golek, wayang beber, wayang kaca, wayang sasak, wayang wahyu, wayang potehi, patung wayang, topeng wayang, lukisan wayang, termasuk gamelan pengiring pergelaran wayang yang berasal dari abad 17.

Museum menampilkan pula berbagai koleksi wayang dan boneka dari negara-negara sahabat seperti: Malaysia, Thailand, Suriname, Cina, Vietnam, Perancis, Rusia, Polandia, India, dan Kamboja. Saya sempat memperhatikan satu tembok yang bertuliskan silsilah lakon-lakon pewayangan juga.

Secara periodik museum ini juga mengadakan pagelaran wayang yang dapat dinikmati pada hari Minggu, jam 10.00-14.00 WIB.

Dari yang saya perhatikan, di museum ini benar-benar hanya melihat satu per satu wayang yang dipamerkan. Tidak ada wahana interaktif selain menonton film 3D tentang peperangan Kurawa di awal kedatangan. Ini pun nggak terlalu menarik karena film 3D harus ditonton dengan kacamata khusus, sementara kacamatanya katanya pada rusak. Repot juga, ya, nontonnya malah jadi pusing. Mungkin lebih baik film biasa saja tidak usah 3D.

Filmnya tidak membuat saya jadi mengerti wayang juga, sih. Walau disebut beberapa tokoh dalam cerita perang tersebut, tetapi karena digambarkan seperti orang biasa, bukan dalam bentuk wayang, sekilas pasti lupa lagi kalau yang memang nggak ngerti pewayangan sama sekali. Saya tanya Darris juga dia cuma paham filmnya tentang perang, tapi waktu ditanya siapa tokohnya, kenapa berperang, yang mana yang jahat mana yang baik, mukanya langsung blank hahahaha..

Untuk orang dewasa atau yang memang tertarik pewayangan, sih, sedikit banyak paham, ya, oh Arjuna yang ini, Gatotkaca yang itu. Tapi untuk yang nggak mengerti sama sekali, menurut saya museum ini kurang membuat orang yang tadinya nggak ngerti wayang jadi paham, atau yang tadinya nggak tertarik wayang jadi lebih tertarik.

Wahana edukasi yang menggunakan komputer atau layar sentuh sehingga informasinya lebih menarik dan interaktif juga tidak tersedia. Padahal silsilah tokoh pewayangan akan lebih menarik bila dibuat dalam bentuk informasi interaktif, lengkap dengan foto masing-masing tokoh dan hubungannya dengan tokoh yang lain.

Waktu saya tanya Darris apa yang menarik di Museum Wayang, jawabnya cuma “(wayang/boneka) Unyil!” :D

Jadi untuk Mommies yang mau mengajak anak-anak yang sudah agak besar ke daerah Kota Tua dan mampir ke museum ini untuk mengenal pewayangan mungkin bisa sekalian disesuaikan jadwalnya dengan jadwal pementasan supaya lebih menarik. Sementara untuk yang membawa anak balita atau pra-SD, mungkin bisa menyiapkan alternatif hiburan atau mainan untuk menghindari bosan. Kalau saya, sih, mentok-mentok paling anak akan saya lepas lari-larian di lapangan depan museum kalau sudah mulai bosan :D

Jangan lupa pakai sunblock dan menyiapkan topi atau payung, ya, Moms.

Selamat berkenalan dengan Wayang!

Museum Wayang

Jln. Pintu Besar Utara No. 27
Jakarta Barat 11110
No. Telepon: 021 – 62929 560/6927 289
No. Fax: 021 – 6929 560

E-mail: info@museumwayang.com

Karcis Tanda Masuk

Dewasa: Rp. 2.000
Mahasiswa: Rp. 1.000
Anak-anak: Rp. 600

Rombongan (Minimal 20 orang)

Dewasa: Rp. 1.500
Mahasiswa: Rp. 750
Anak-anak: Rp. 500

Waktu Buka

Selasa s.d. Minggu: 09.00 – 15.00
Senin dan Hari Besar: Tutup

 

sumber:
http://www.museumwayang.com

 


Post Comment