Menerapkan Psikologi Terbalik

by: - Tuesday, July 9th, 2013 at 4:00 pm

In: Behavior & Development Parenting no response

0 share

“Sudah tinggalkan saja aku Mas, tinggalkan saja aku! Carilah wanita yang lebih baik untuk menjadi kekasihmu!”

Akan tetapi kenyataannya kejadiannya sebaliknya. Si Pria malah minta maaf dan mereka pun rujuk. Si Wanita berhasil melemparkan teknik psikologi terbalik. Di mana teknik ini seperti “memaksakan pengertian” sedemikian rupa sehingga lawan bicara melakukan tindakan yang berlawanan dengan yang diperintahkan. Itulah suatu adegan di sinetron yang baru-baru ini saya tonton di televisi, yang akhirnya membuat saya tersenyum kecil, karena ngerasa dejavu pernah melakukannya. Eeiitss tapi bukan melakukannya sama mantan pacar alias suami seperti sinetron di atas. Melainkan sama anak.

Kira-kira 3 tahun yang lalu, saya bertamu di rumah sepupu yang punya anak berumur 4 tahun. Saat itu Zahra anak saya masih berumur 1 tahun lebih. Keponakan saya yang berumur 4 tahun itu bilang kepada Ibunya kalau dia tidak mau makan. Bukannya nyuruh anaknya makan, Ibunya malah bilang “Ya sudah, tidak usah makan ya, tidak usah makan sampai besok!” Wow.. saya antara mau tertawa dan tercengang.. tapi 1 menit kemudian si anak berkata “Ibu, aku mau makan”. Oooh ternyata dalam kehidupan sehari-hari psikologi terbalik ini efektif juga, ya, untuk berkomunikasi dengan anak. Teknik itu saya ingat-ingat barangkali suatu hari nanti saya perlu pakai saat Zahra sudah bisa diajak berkomunikasi dan bernegosiasi.

Dan hari itu pun tiba saat Zahra hampir berumur 4 tahun. Dia suka sekali memakai bedak saya, padahal formula kosmetik nya tentu saja bukan untuk anak-anak. Tiap kali saya larang dan jelaskan bahwa compact powder two way cake saya bukan untuk anak-anak jadi Zahra tidak boleh pakai, dia malah penasaran ingin mencoba. Dan akhirnya entah berapa alat kosmetik yang jadi bahan percobaannya. Suatu hari saya teringat teknik psikologi terbalik yang dipraktikkan sepupu saya tersebut, lalu saya bilang “Ya sudah ini pakai saja bedak Mama, biar Zahra kaya Ibu-Ibu ya.. nanti kulitnya merah-merah karena ini kan bukan buat anak-anak. Ini pakai aja” Saya kasih compact powder ke Zahra, dan reaksinya.. seperti saya harapkan. Dia lalu mengembalikan compact powder ke saya dan tidak memakainya.

Sejak saat itu saya menggunakan teknik psikologi terbalik ini, apabila memang keadaannya dia tidak menerima penjelasan saya. Misal dia tidak mau mandi, sudah saya bujuk untuk mandi dengan mainan-mainannya, dia tetap tidak mau. Akhirnya saya bilang “Ya sudah tidak usah mandi, biar nanti gatal-gatal ya badannya, tidak usah mandi sampai besok”. Baru dia mau mandi.

Saya sempat bertanya-tanya apakah benar yang saya lakukan. Tapi saya rasa apabila memang apa yang kita katakan masih sejalan dengan fakta (misal kalo tidak mandi badannya gatal) dan masih dalam batas aman , tidak ada salahnya kita lakukan demi keberhasilan komunikasi. Dengan catatan teknik ini dilakukan saat anak memang sudah memiliki kesanggupan untuk diskusi dan melakukan kesepakatan. Dan harus sudah siap menerima risiko kalau ternyata anak tidak melakukannya secara terbalik (misal Zahra dibilang tidak usah mandi sampai besok malah benar-benar tidak mandi sampai besok). Jadi harus punya back up plan kalo teknik psikologis terbalik ini tidak berhasil atau malah jadi bumerang ya. Saya jarang melakukan teknik ini, tapi saya siapkan sebagai strategi terakhir.

Bagaimana menurut mommies?

 

 

Share this story:

Recommended for you:

Leave a Reply