Anies Baswedan: “Fokuslah Pada Hal Positif”

Sudah beberapa kali saya mengikuti secara langsung kuliah, ceramah, ataupun bincang-bincang dengan bapak Anies Baswedan. Terkadang, ada tokoh-tokoh tertentu yang membuat kita betah dan selalu terinspirasi dengan apa yang disampaikan, dan tentu saja caranya berbicara. Selain sebagai figur nasional dan tokoh cendekiawan muda, saya ingin menyebut beliau sebagai tokoh ‘penyulut optimisme bangsa’. Tentu semua sudah tahu, gebrakan yang membukakan mata dan menggerakkan nurani seluruh bangsa Indonesia, Gerakan Indonesia Mengajar yang dirintis olehnya.

Kemarin, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri talkshow beliau, mengenai pengasuhan anak! Wah, rasanya baru pertama kali ini dan tentu saja tidak akan saya lewatkan untuk memperoleh siraman inspirasi tentang parenting, dari beliau. Nama Anies Baswedan lekat dengan jiwa kepemimpinan, sehingga tema sharing beliau adalah membangun jiwa kepemimpinan anak, dalam keluarga.

Hal-hal yang beliau sampaikan sangat aplikatif pada anak sekolah dan menjelang remaja, jadi pas banget untuk saya yang memiliki anak usia 9 tahun ;). Beliau juga mengatakan bahwa ia bukan seorang yang bisa berbicara mengenai pengasuhan anak, tetapi beruntung karena istrinya, Fery Farhati Ganis, adalah seorang parenting specialist, sehingga ia dapat menyerap ilmu-ilmu parenting dari istrinya dan menerapkannya.

Membangun jiwa kepemimpinan anak, berarti memiliki visi dan tujuan jauh ke depan, membangun akhlaq dan karakter yang ada dalam seorang pemimpin. Berani, jujur, amanah, dan sebutlah semua karakter baik yang ada pada seorang pemimpin sejati. Karena karakter-karakter baik ini tidak otomatis hadir pada diri anak. Tantangan kita sebagai orangtua adalah bagaimana memunculkannya. Well, I guess we’d heard that alot, tentang ‘membangun karakter’. Contoh-contoh praktis dan tak terpikirkan dari Anies Baswedan, let’s get to it.

 

Anies Baswedan bersama Fenny Mustafa dalam talkshow ‘Peran Keluarga dalam Membangun Jiwa Kepemimpinan Anak’

Fokus pada hal-hal positif. Di rumah, apresiasi pada hal-hal yang baik yang harus selalu diangkat. Ini mudah dikatakan, tapi kenyataannya mindset kita belum seperti itu. Bila melihat masalah, kita cenderung mengangkatnya, dengan harapan agar anak tidak melakukannya. Lebih baik lihat sisi positifnya, walaupun kecil, dan komentari, apresiasilah. Misalnya, seorang anak SD yang sedang menjalankan puasa, dan pulang ke rumah pada siang hari dengan keadaan yang lelah. Dia mengatakan pada ibunya ingin buka puasa karena tidak kuat. Pilihan pertama: ibu menyemangati untuk ditahan dulu sampai magrib, masa tidak bisa. Pilihan kedua; ibu melihat bahwa si anak sudah berlaku jujur. Alih-alih diam-diam minum, dia ‘lapor’ dulu pada ibunya bahwa dia ingin minum. Karena itu apresiasi kejujuran anak. “Ibu senang sekali karena kamu jujur. Sekarang boleh minum, ini adalah sahur kedua, jadi setelah ini kamu bisa melanjutkan puasamu”. Ini adalah ekspresi menghargai karakter anak yang jujur, hal-hal kecil tapi penting. Kemudian, alih-alih mengatakan bahwa anak ‘batal’ puasa, katakanlah ‘sahur kedua’. kata-kata batal mengandung makna negatif, berarti gagal.

Kemudian Ibu akan menceritakan hal ini kepada Ayah, dan sepulang kantor Ayah juga berkomentar dan mengapresiasi kejujuran anak. Anak akan merekam bahwa jujur adalah value yang sangat dijunjung oleh orangtuanya.

Ceritakan keteladanan. Tidak perlu dari buku, tokoh-tokoh biografi tertentu. Ceritakanlah secara casual, sosok, orang yang kita temui, yang dekat dengan keluarga, ataupun yang dilihat sama-sama di TV. Cerita singkat tentang kebaikan, kesuksesan, dan cerita positif lainnya pada orang-orang yang dekat dengan lingkungan kita, akan membuat penyampaiannya lebih personal. Tidak perlu dibumbui pesan apapun, karena secara tidak sadar, anak akan mengambil inspirasi dengan sendirinya.

Ciptakan pengalaman-pengalaman yang bisa mem-booster rasa percaya diri. Ini berkaitan dengan membebaskan anak untuk melakukan apapun, dan memberi kepercayaan. Biasanya pengalaman ini muncul saat anak tidak didampingi oleh orangtuanya, jadi dukunglah untuk setiap kegiatan keluar rumah, menginap di rumah saudaranya, dan sebagainya. Jangan ragu untuk sesekali atau seringkali mengajak anak -yang sudah mandiri- ke tempat aktivitas orangtua, misalnya ke kantor. (Pak Anies juga sangat mendukung upaya mewujudkan kantor yang mother friendly, sehingga apabila ibunya harus bekerja, anak yang masih kecil juga bisa diajak ke kantor).

Mekanisme rekayasa interaksi. Misalnya berkaitan dengan cara kita mendesain rumah. Segala kemudahan yang diberikan kepada anak, seperti kamar mandi di dalam kamar anak, membuatnya tidak berinteraksi. Ciptakan flow interaksi yang maksimal, antar adik kakak maupun dengan orangtua.

Partnership=Supportive. Faktanya, level of absense suami lebih tinggi daripada level of presence-nya terhadap anak. Penting sekali istri tidak menceritakan dan mengeluhkan kesibukan suami (absennya suami) sebagai beban.  Tingkatkan engagement suami/istri terhadap perkembangan, apa yang terjadi pada anak di rumah. Ibu selalu memberikan update terhadap apa yang terjadi pada anak sehingga engagement terhadap anak tinggi. Sepulang dari kantor, ayah bisa berkomentar dan memberikan pujian terhadap apa yang dilakukan anak pada hari itu.

Pak Anies juga memberi quote yang menarik, bahwa orangtua adalah pendidik terpenting, tapi sekaligus yang paling tidak tersiapkan. Parents is the most important educator, but the least prepared. Karena itu pendidikan karakter justru sangat penting ditujukan bagi orangtua, karena orangtua adalah sumber inspirasi utama anak. Anak akan mencontoh orangtuanya.

 


3 Comments - Write a Comment

  1. Makin ngefans sama bapak ini!
    Setuju banget, fokus pada hal positif selain penting diaplikasikan ke kehidupan sebagai orangtua juga bisa dan harus banget diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari :)

    TFS, Nisa!

Post Comment