Kebebasan Finansial Menurut Suze Orman

Beberapa tahun belakangan, saya menemukan sebuah ketertarikan baru di bidang keuangan. Lebih khususnya, perencanaan keuangan. Bidang ini mengubah cara pandang saya terhadap keuangan, yang ternyata dapat membuat hidup jadi lebih terarah. Selain membantu dalam membuat peta keuangan, perencanaan keuangan juga memberikan pemahaman tentang berbagai produk dan instrumen keuangan.

Kebetulan, saat sedang berkunjung ke perpustakaan, saya menemukan buku karangan Suze Orman. Orman adalah salah seorang financial advisor yang saya kagumi. Saya pertama kali mengenalnya lewat ‘referensi’ berupa pujian dari seorang perencana keuangan terkenal di Indonesia. Terkesan dengan informasi keuangan dan cara penyampaian Orman, saya lantas kerap googling tulisan-tulisannya, dan menonton video-video workshop-nya di Youtube. Buku karangannya sendiri baru kali ini saya temui. Tentu saja saya sangat bersemangat untuk meminjam dan melahapnya.

Buku ini berjudul “The 9 Steps to Financial Freedom: Practical and Spiritual Steps So You Can Stop Worrying,” ditulis Orman pada tahun 1997. Pada awalnya, saya mengira buku ini memuat langkah-langkah praktis, atau berupa checklist semata. Tapi ternyata, buku ini memberikan cara pandang baru tentang uang dan kebebasan finansial. Bahkan, melalui buku ini, seperti tertulis di judulnya, Orman juga mengajak kita menelaah sisi spiritual uang.

Sudut pandang biografis banyak diambil Orman dalam buku ini. Dia menuturkan masa lalunya sendiri, dan menjelaskan bagaimana masa lalu kita memegang kunci yang menentukan masa depan finansial kita. Bagian lain yang sangat menarik perhatian saya, terutama sebagai orangtua, akan saya rangkum sebagai berikut.

  • Langkah ke-4 dari buku ini berbunyi, “Being responsible to those you love.”

Orman mengingatkan bahwa tindakan mengumpulkan dan mengakumulasikan uang hanya akan bernilai jika kita telah memastikan orang-orang yang kita cintai are taken care of. Bagaimana wujudnya? Tentunya dengan melengkapi kebutuhan asuransi, baik asuransi jiwa, kesehatan, hingga asuransi terhadap aset. Cara lain yang menurut saya kurang mendapat perhatian dalam masyarakat kita, adalah perlunya membuat daftar kepemilikan aset, surat wasiat, serta penunjukkan trustee (wali), beneficiary (penerima), dan successor trustee (wali penerus). Ini sangat berguna untuk menghindari adanya konflik terhadap aset yang kita miliki, setelah kita atau pasangan meninggal dunia, dan sebagai wujud tanggung jawab terhadap mereka yang menjadi tanggungan kita.

  • Langkah ke-5 berbunyi, “Being respectful of yourself and your money.”

Awalnya saya berpikir, bagaimana sih wujud menghargai uang itu?  Orman menjelaskan salah satu hukum dari kebebasan finansial, yaitu “Respect attracts money – disrespect repels money.”

Perlakukan uang bagaikan mahluk hidup. Buatlah pilihan-pilihan bijak dalam menggunakannya. Orman mengambil contoh tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita sering lebih memilih makan di luar padahal kulkas kita terisi bahan makanan? Apakah kita suka terlambat mengembalikan barang-barang pinjaman hingga akhirnya harus membayar denda? Apakah kita akhirnya kerap harus membuang bahan makanan yang membusuk di kulkas karena tidak digunakan? Bayangkan yang kita buang itu adalah uang. Apakah itu berarti kita telah memperlakukan uang dengan bijaksana dan penuh rasa penghargaan?

Begitu pula dalam berinvestasi, Orman mengingatkan untuk menginvestasikan ia (uang) dengan hati-hati dan bijaksana. Jika diakumulasikan seiring dengan waktu, hasilnya akan dapat mengurus kehidupan kita dengan baik, dan juga menjaga kehidupan orang-orang yang kita tinggalkan. Sebaliknya, jika kita membuat pilihan yang buruk dalam berinvestasi, ia tidak akan dapat kita andalkan di masa mendatang.

  • Pada salah satu bab, Orman mengajak kita untuk memulai edukasi tentang uang kepada anak-anak kita.

Menurut Orman, cara edukasi finansial melalui celengan dan buku tabungan sudah out of date. Celengan tidak bisa memberi gambaran kepada anak kita mengenai kehidupan di abad ke-21, di mana mereka akan mewarisi global economy, dunia yang high-tech, dan alam kompetisi yang tinggi.

 

*gambar dari sini

Lalu bagaimanakah cara yang up to date? Orman menjelaskan, caranya dapat berupa:

  • Memanfaatkan berbagai buku, games, dan program komputer yang ada untuk mengajarkan konsep uang dan penggunaannya kepada anak-anak kita.
  • Mengajarkan konsep nilai pada anak dengan memainkan money games dengan anak, mengajak anak memesan barang, dan memahami label harga di toko.
  • Ketika anak sudah cukup besar, ceritakan pada mereka tentang dana pensiun kita, strategi yang kita gunakan untuk berinvestasi, dan apa makna dari semua hal itu dalam konteks kehidupan mereka.
  • Alih-alih memberikan uang dalam bentuk tradisional, yaitu buku tabungan, kepada anak, masukkan uang yang kita berikan untuk anak ke dalam reksadana, dan ajak mereka turut mengawasi pergerakannya.
  • Jelaskan apa itu kartu kredit, apa yang kita lakukan ketika datang ke bank, dan apa guna mesin ATM.
  • Bicarakan apa artinya menjadi miskin, menjadi kaya, dan apa maksud dari beramal (charity).
  • Bicarakan tentang konsep cicilan, hutang, dan asuransi, dan bagaimana cara kita membuat pilihan yang bijak tentang uang. Dengan membicarakan tentang uang kepada anak, kita akan menjelaskan kepada mereka bagaimana kehidupan sesungguhnya bekerja.

Meskipun begitu, juga ingat bahwa sebanyak apapun alat bantu yang kita gunakan untuk mengajarkan konsep uang, hal paling penting untuk menanamkan pesan sehat mengenai penggunaan uang adalah memberikan kesan positif melalui tindakan kita sebagai orangtua. Jika di depan anak kita berkeluh-kesah mengenai tagihan atau hutang yang menumpuk, anak akan menangkap kesan rasa takut terhadap uang.

Kebebasan finansial lebih dari sekedar memiliki sejumlah banyak uang; tapi juga tentang merasa bangga terhadap apa yang yang telah kita miliki dan bersikap realistis mengenai apa yang tidak kita miliki, serta menanamkan kebanggaan itu di diri anak-anak kita.

  • Langkah spiritual yang dimaksud oleh Orman seperti tercantum pada judul buku ini, dijelaskan lebih mendalam di langkah ke-7 dan ke-8.

Yang pertama berbunyi, “Being open to receive all that you are meant to have.” Orman menganalogikan uang yang mengalir dalam kehidupan kita seperti air. kadang mengalir deras, kadang hanya menetes. Bayangkanlah diri kita seperti gelas, yang hanya bisa menampung sesuai ukuran kita. Tapi kita dapat memperbesar ‘ukuran’ daya tampung kita dengan membuat diri kita terbuka untuk menerima. Bagaimanakah caranya? Dengan memberi.

Karena dengan memegang erat apa yang sudah kita miliki, kita tidak membuka diri untuk menerima rezeki yang mencoba mengalir melalui kita.

*gambar dari sini

Langkah ke-8 yang berbunyi, “Recognizing true wealth” memberikan insight untuk menyadari bahwa kualitas hidup kita tidak tergantung pada seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan, tabung, atau habiskan. Kebebasan finansial yang sejati terletak pada cara kita mendefinisikan siapa diri kita, bukan dengan apa yang kita miliki atau tidak miliki. Kita adalah apa yang kita lakukan sekarang: apakah kita sudah bertanggung jawab terhadap kondisi keuangan kita sendiri, dan bagaimana cara kita menunjukkan tanggung jawab terhadap mereka yang menjadi tanggungan kita.

Sangat menarik, bukan? Buku ini membuka mata saya untuk memandang uang dengan cara yang lebih dari sekedar alat bantu mencapai tujuan finansial, tapi juga sebagai wujud tanggung jawab saya kepada keluarga, dan cara meneruskan pesan kepada anak tentang bagaimana bertanggung jawab terhadap kebebasan finansialnya sendiri kelak.

*gambar buku dari sini


Post Comment