The Big Fat Announcement

Dua anak cukup. Walaupun tidak pernah tersampaikan secara verbal dan eksplisit, saya dan suami punya pemahaman yang sama bahwa we’re done with these two kids, (boys!) to be exact. Emm, saya sebenarnya tidak tahu persis, apa yang dilakukan pasangan yang juga berencana demikian, dan sudah mempunyai 2 anak. Apakah mereka melakukan prosedur KB secara lebih ketat, atau malah dengan prosedur vasektomi/tubektomi. Setelah kelahiran Arung, anak kedua, kami tetap menjalankan KB dengan -hanya- sistem kalender dan… ‘hati-hati’ :D

Bulan Februari lalu, saya dihadapkan dengan kenyataan dan tanda-tanda bahwa saya hamil. Dengan pengalaman hamil 2 kali, tanpa melakukan tes urine saya sudah tahu bahwa saya hamil lagi, terlebih dengan munculnya mual ringan saat maghrib. Saat itu sampai bulan berikutnya, rasanya hanya perasaan negatif yang timbul. Beberapa rencana kami terpaksa buyar, karena kehamilan ini. Saya pun merasa gamang menghadapi hari-hari selanjutnya, bersama 3 anak!! Beberapa malam, tanpa dapat ditahan saya juga sering menangis begitu saja. Secara sadar, saya selalu bersyukur atas apapun ketetapan-Nya, tetapi mungkin emosi memang bisa keluar tanpa kita sadari.

Reaksi terhadap kehamilan pun tidak seperti biasa. Selain suami, tidak ada yang saya beritahu tentang kabar ini. Saya pun malas ke dokter, dan benar-benar baru ke dokter pada minggu ke 20, setelah dipaksa Ibu saya (yang baru saja mengetahui kalau saya hamil). Apalagi sosial media, tidak ada sedikitpun saya berkicau tentang hal ini.

Well, tapi akhirnya berlalu juga. Saat-saat tertekan itu hanya berlangsung sekitar 2 minggu. Saat akhirnya orangtua saya mengetahuinya (pada sekitar minggu ke 18), mereka mengekspresikan rasa senang yang luar biasa. Saya pun terharu, don’t know what got into me when I felt depressed.

Daan, saat akhirnya ke dokter, pada minggu lalu, momen itulah yang magical untuk saya dan suami, saat diberitahu dokter pas melakukan USG. 99% perempuan. Whuuush…seperti ada aliran rasa bahagia di dalam, walaupun yang tampak hanya senyum kami yang lepas. Bayi perempuan.. benar-benar anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

——
can you see the 22 weeks bump?

Setelah kunjungan pertama ke dokter tersebut, and everything’s fine, saya pun merasa plong untuk bisa berangkat outing ke luar kota, pun suami dan orangtua saya. Minggu lalu saya mengikuti media test drive yang diadakan Nissan Indonesia, di Bali selama 2 hari. Karena perut yang semakin membesar -dan bump yang kelihatan walaupun samar-samar-, lazimnya setiap perjalanan keluar kota untuk bertugas, tentu saya juga diharapkan untuk merekam momen dan menceritakannya dalam artikel ini. Kebetulan, foto-foto outfit selama perjalanan bisa dijadikan inspirasi pregnancy outfit :D

Kehamilan pada minggu-minggu ini (bulan ke-5) memang tanggung, rasanya perut sudah membentuk besar, tapi belum juga ‘kelihatan’ hamilnya. Ya sudah, mudah-mudahan nanti dalam foto terlihat juga, jadi bisa sekalian ‘sounding’.

Ada pengalaman menarik juga selama di Bali. Di pantai Nusa Dua, kami dibagi berkelompok untuk memainkan game treasure hunt. Permainan ini serius karena harus memecahkan sandi, mencari clue yang tersebar di lokasi pantai, sampai ke laut. Anyway, kelompok saya (3orang) hampir sampai ke clue terakhir, dan sementara berada di posisi terdepan. Saat satu clue yang harus diambil ternyata berada dalam botol yang terapung di laut, sekitar 150 meter dari bibir pantai.

Karena ada 1 anggota laki-laki di kelompok kami, otomatis dia yang ditunjuk untuk berenang ke laut mengambilnya. Tidak beruntung, saat sudah mendekati lokasi botol, teman saya itu terkena syok, dan terpaksa dibantu untuk dibawa ke pantai. Alhasil, tinggal kami berdua -perempuan-, yang panik harus berenang mengambil botol tersebut, apalagi sudah ada tim lawan yang bersiap untuk berenang. Teman saya yang satu lagi ternyata tidak bisa berenang! Oh my..jadilah saya yang harus rela berbasah-basah, berenang dengan busana lengkap. Gampang-gampang susah berenang melawan ombak ke tengah laut, terutama karena harus berlomba mendapatkan botolnya. Ok, akhirnya saya yang berhasil mendapatkan botol tersebut, sambil berpayah kembali ke pantai. Nah, saat ‘mentas’ dari air, dengan baju yang basah dan menempel ke badan, barulah terlihat perut saya yang besar.

Kontan semua panitia berdatangan dan bertanya cemas, “Hah, kamu hamil??!! Wah, kalau tau hamil, tadi tidak kita ijinkan untuk berenang ke laut”, dan semacamnya. Sayapun berkali-kali menjelaskan tidak apa-apa, sudah biasa berenang saat hamil juga. “Iya tapi ini di laut!”, panik mereka.

Hehehe..ternyata tidak ada satupun rekan wartawan dan panitia yang menyadari saya hamil.. (Eh, kecuali teman sekamar saya), dan baru mengetahuinya saat itu. Pertanyaan selanjutnya adalah -ini yang sangat-sangat ingin saya hindari-, “hamil anak pertama?” Atau “hamil anak keberapa?”. Karena -mungkin hanya anggapan subjektif saja-, biasanya kalau sudah menginjak anak ke-3 dan seterusnya, wah sudah dianggap ‘senior’ sekali, hehehehe…

Oh, that went well. Ternyata setelah berenang di laut itu menjadi semacam ‘pengumuman’ kehamilan saya. Teman-teman perjalanan semua mengucapkan selamat, juga teman-teman di sosial media yang baru mengetahui hari itu juga. Unexpected announcement, I guess. I think it’s worth it, coz we got the 1st prize for that games, rezeki sang bayi! Hahahhaa…


14 Comments - Write a Comment

  1. qiqiqi waktu tau kamu ke Bali, aku bolak balik kepo in TL kamu, HAH ? beneran nih, ya ampuun. Perasaaan baru kemaren dikasi tau Novi. hehe akhirnya menyusul mba wiwik dan aku juga, hidup TIGA…!! sehat selalu ya nisaaa. bakalan lama ketemu kamu lagi nih. Nggak sabaarr

Post Comment